Menghargai Orang Lain Itu Penting, Tetapi Menghargai Diri Sendiri Jauh Lebih Penting
Ada satu kekeliruan yang sering diwariskan dalam kehidupan: kita diajarkan untuk menghargai orang lain, tetapi terlalu jarang diajarkan bagaimana menghargai diri sendiri.
Sejak kecil, kita diajarkan untuk menghormati orang tua, menghargai guru, menjaga perasaan teman, menghormati atasan, menghargai pasangan, menjaga nama baik keluarga, bahkan diminta mengalah demi menjaga hubungan.
Semua itu baik.
Tetapi ada satu pertanyaan yang sering luput diajukan:
Sampai sejauh mana kita harus menghargai orang lain jika untuk melakukannya kita harus terus-menerus merendahkan diri sendiri?
Di sinilah persoalannya.
Menghargai orang lain bukan berarti membiarkan diri diperlakukan semena-mena. Mengalah bukan berarti harus selalu kalah. Bersabar bukan berarti menerima penghinaan tanpa batas. Memaafkan bukan berarti memberikan izin kepada orang lain untuk mengulangi kesalahan yang sama.
Dan menjadi orang baik tidak berarti harus menjadi tempat orang lain membuang segala keburukannya.
Jangan Salah Memahami Kebaikan
Ada orang yang sepanjang hidupnya berusaha menyenangkan semua orang.
Ia takut mengatakan tidak.
Takut mengecewakan.
Takut dianggap sombong.
Takut disebut berubah.
Takut kehilangan pertemanan.
Takut kehilangan pekerjaan.
Takut ditinggalkan pasangan.
Akhirnya, ia terus berkata "iya", bahkan ketika hatinya berteriak "tidak".
Ia terus tersenyum, meski sebenarnya terluka.
Ia terus membantu, meski dirinya sendiri sedang membutuhkan pertolongan.
Ia terus memaklumi, meski berkali-kali diperlakukan tidak adil.
Ironisnya, masyarakat sering menyebut orang semacam ini sebagai orang baik.
Padahal bisa jadi ia bukan sedang menjadi baik.
Ia hanya sedang takut kehilangan penerimaan orang lain.
Ada perbedaan besar antara kebaikan dan ketidakmampuan menjaga batas.
Kebaikan lahir dari ketulusan.
Sementara terlalu takut mengatakan "tidak" sering kali lahir dari ketakutan terhadap penilaian manusia.
Karena itu, sesekali kita harus berhenti dan bertanya kepada diri sendiri:
Apakah selama ini saya menghargai orang lain karena ketulusan, atau karena saya takut tidak dihargai jika saya berhenti mengalah?
Pertanyaan itu sederhana.
Tetapi jawabannya bisa sangat menyakitkan.
Harga Diri Bukan Kesombongan
Dalam kehidupan sosial, seseorang yang berusaha menjaga harga dirinya kadang dianggap egois.
Ketika seseorang memilih menjauh dari lingkungan yang toksik, ia disebut tidak setia kawan.
Ketika seseorang menolak diperlakukan tidak adil, ia disebut keras kepala.
Ketika seseorang mulai memasang batas, ia dianggap berubah.
Ketika seseorang tidak lagi mau dimanfaatkan, orang-orang yang selama ini menikmati kebaikannya justru mungkin menjadi orang pertama yang mengatakan bahwa ia sudah tidak baik.
Di sinilah kita harus belajar membedakan antara rendah hati dan rendah diri.
Rendah hati berarti tidak merasa lebih tinggi daripada orang lain.
Rendah diri berarti menganggap diri sendiri tidak berharga.
Rendah hati adalah kebajikan.
Tetapi rendah diri yang terus dipelihara dapat menjadi bentuk ketidakadilan terhadap diri sendiri.
Kita boleh menghormati orang lain tanpa harus menempatkan diri kita lebih rendah.
Kita boleh menghargai orang lain tanpa kehilangan prinsip.
Kita boleh meminta maaf tanpa merasa hina.
Kita boleh mengalah tanpa kehilangan martabat.
Dan kita boleh pergi dari sebuah hubungan tanpa harus membenci orang yang kita tinggalkan.
Karena terkadang, pergi bukan berarti kalah. Pergi adalah cara terakhir untuk menyelamatkan harga diri.
Jangan Memaksa Diri Tinggal di Tempat yang Tidak Menghargai
Ada fase dalam hidup ketika seseorang harus menyadari bahwa tidak semua tempat harus dipertahankan.
Tidak semua pertemanan harus diselamatkan.
Tidak semua hubungan harus diperjuangkan sampai titik terakhir.
Tidak semua orang harus diberi kesempatan berkali-kali.
Dan tidak semua pintu yang tertutup harus kita dobrak.
Ada pintu yang tertutup karena memang kita sedang diarahkan untuk mencari jalan lain.
Masalahnya, manusia sering terlalu lama bertahan hanya karena takut memulai kembali.
Kita bertahan dalam hubungan yang menyakitkan karena takut kesepian.
Bertahan dalam lingkungan yang merendahkan karena takut kehilangan posisi.
Bertahan dalam pertemanan yang hanya datang ketika membutuhkan karena takut tidak punya teman.
Bertahan pada orang yang tidak menghargai kita karena terlalu sibuk mengingat kebaikan masa lalu.
Padahal hidup bukan hanya tentang berapa lama kita bertahan.
Hidup juga tentang kapan kita harus berhenti.
Sebab bertahan pada sesuatu yang terus menghancurkan diri sendiri bukan selalu tanda kesetiaan.
Kadang itu hanya tanda bahwa kita belum berani memilih diri sendiri.
Jangan Menukar Martabat dengan Penerimaan
Ada manusia yang rela kehilangan prinsip demi diterima lingkungan.
Ia mengubah pendirian karena takut dikucilkan.
Diam ketika melihat ketidakadilan karena takut menjadi sasaran.
Membenarkan sesuatu yang salah karena pelakunya adalah orang dekat.
Menutup mata terhadap keburukan karena takut hubungan rusak.
Pada titik tertentu, kita harus memahami bahwa penerimaan sosial bukanlah ukuran kebenaran.
Banyak orang menyukai kita bukan karena kita benar, tetapi karena kita menguntungkan bagi mereka.
Selama kita membantu, mereka mendekat.
Selama kita menuruti, mereka tersenyum.
Selama kita diam, mereka nyaman.
Tetapi ketika kita mulai berkata "cukup", tiba-tiba kita dianggap berubah.
Ini adalah pelajaran penting:
Jangan mengukur nilai diri berdasarkan seberapa banyak orang yang membutuhkan kita.
Sebab orang bisa membutuhkan kita tanpa benar-benar menghargai kita.
Ada yang mencari kita karena membutuhkan bantuan.
Ada yang mendekati kita karena kepentingan.
Ada yang memuji karena ada tujuan.
Ada yang bersikap baik selama kita berguna.
Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap setiap perhatian sebagai ketulusan.
Dan jangan terlalu cepat merasa bersalah ketika akhirnya memilih menjaga jarak.
Menghargai Diri Sendiri Bukan Berarti Merendahkan Orang Lain
Ini harus ditegaskan.
Menghargai diri sendiri bukan berarti merasa paling benar.
Bukan berarti tidak mau menerima kritik.
Bukan berarti tidak mau meminta maaf.
Bukan berarti harus menang dalam setiap perdebatan.
Bukan berarti membalas penghinaan dengan penghinaan.
Justru orang yang benar-benar menghargai dirinya tidak membutuhkan keributan untuk membuktikan harga dirinya.
Ia tahu kapan berbicara.
Ia tahu kapan diam.
Ia tahu kapan bertahan.
Ia tahu kapan pergi.
Ia tahu kapan meminta maaf.
Dan ia tahu kapan mengatakan:
"Saya menghormati Anda, tetapi saya juga harus menghormati diri saya sendiri."
Kalimat itu bukan ancaman.
Itu adalah batas.
Dan batas adalah sesuatu yang sehat dalam setiap hubungan manusia.
Tanpa batas, kebaikan mudah berubah menjadi eksploitasi.
Tanpa batas, kesabaran mudah berubah menjadi pembiaran.
Tanpa batas, pengorbanan mudah berubah menjadi kehilangan diri sendiri.
Jangan Biarkan Kebaikan Menjadi Jalan bagi Orang Lain Menyakiti Kita
Kita harus tetap menjadi manusia yang baik.
Tetapi kebaikan harus disertai ketegasan.
Sebab dunia tidak selalu membaca kebaikan sebagai kebaikan.
Ada orang yang melihat kebaikan sebagai kesempatan.
Ada yang menganggap kesabaran sebagai kelemahan.
Ada yang menganggap diam sebagai ketakutan.
Ada yang menganggap mengalah sebagai ketidakmampuan melawan.
Maka, menjadi baik saja tidak cukup.
Kita juga harus memiliki prinsip.
Kita harus tahu kapan harus berkata "ya" dan kapan harus berkata "tidak".
Kita harus mampu membedakan antara membantu dan dimanfaatkan.
Antara memaafkan dan membiarkan.
Antara sabar dan menyerah.
Antara rendah hati dan merendahkan diri.
Antara mencintai orang lain dan kehilangan diri sendiri demi orang lain.
Karena cinta, persahabatan, pekerjaan, bahkan keluarga sekalipun tidak seharusnya menjadi alasan seseorang kehilangan martabatnya.
Pada Akhirnya, Kita Pulang kepada Diri Sendiri
Manusia bisa datang dan pergi.
Teman bisa berubah.
Pasangan bisa berpisah.
Atasan bisa berganti.
Lingkungan bisa meninggalkan.
Orang yang hari ini memuji kita, mungkin besok mencaci.
Orang yang hari ini dekat, mungkin suatu hari menjadi asing.
Tetapi ada satu orang yang akan selalu kita bawa sepanjang hidup:
diri kita sendiri.
Karena itu, jangan sampai sepanjang hidup kita sibuk menjaga perasaan orang lain, tetapi lupa menjaga perasaan diri sendiri.
Jangan sampai kita sibuk menyelamatkan hubungan dengan orang lain, tetapi gagal menyelamatkan hubungan dengan diri sendiri.
Jangan sampai kita begitu takut kehilangan seseorang, sampai akhirnya kehilangan siapa diri kita sebenarnya.
Sebab pada akhirnya, ketika semua orang pergi, kita tetap harus hidup bersama diri sendiri.
Dan jika sejak awal kita tidak pernah menghargai diri sendiri, kepada siapa kita akan meminta penghargaan?
Maka, mulai sekarang, belajarlah mengatakan tidak tanpa rasa bersalah.
Belajarlah pergi tanpa dendam.
Belajarlah memaafkan tanpa harus kembali pada hubungan yang sama.
Belajarlah mencintai tanpa kehilangan identitas.
Belajarlah membantu tanpa mengorbankan seluruh hidup.
Dan yang paling penting:
Belajarlah menghargai diri sendiri tanpa harus merendahkan orang lain.
Karena menghargai orang lain adalah tanda bahwa kita memiliki adab.
Tetapi menghargai diri sendiri adalah tanda bahwa kita memiliki martabat.
Dan dalam kehidupan yang semakin bising oleh penilaian manusia, barangkali salah satu bentuk keberanian terbesar adalah tetap menjadi diri sendiri—tanpa harus meminta izin kepada siapa pun untuk merasa berharga.
Sebab harga diri tidak diberikan oleh orang lain. Ia dijaga oleh keberanian kita sendiri untuk tidak membiarkan siapa pun merendahkannya. *(ald)
By: Aldian Syahmubara

Tulis Komentar