Forest Art, Ketika Seni Menjadi Seruan untuk Menyelamatkan Hutan Riau

foto: epi martison, seniman, komponis/ist. (doc. kilasriau.com)

SIAK, RIAU (KilasRiau.com) — Di tengah lanskap Riau yang perlahan berubah, ketika hutan tak lagi sekadar hamparan hijau tetapi menjadi ruang yang terus diperebutkan kepentingan, seni mencoba mengambil jalan lain: mengetuk kesadaran.

Bukan dengan suara yang gaduh. Bukan pula dengan jargon yang mudah menguap setelah seremoni selesai.

Melainkan melalui forest art—sebuah perjumpaan antara seni, alam, pemerintah dan masyarakat yang mencoba mengembalikan manusia kepada pertanyaan paling sederhana: masihkah kita peduli pada hutan yang kelak diwariskan kepada anak cucu?

Gagasan itu disuarakan seniman Riau, Epi Martison, yang melihat kegiatan kolaboratif antara pemerintah, seniman dan masyarakat sebagai sesuatu yang patut didukung. Baginya, seni tidak seharusnya berdiri jauh dari persoalan ekologis. Seni justru dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan kesadaran manusia dengan alam yang selama ini menjadi rumah bersama.

“Forest art, kegiatan kolaborasi pemerintah, seniman dan masyarakat ini harus didukung,” demikian pesan Epi Martison.

Pernyataan itu bukan sekadar kalimat dalam sebuah kegiatan seni.

Ia seperti alarm kecil yang dibunyikan dari tengah lanskap ekologis Riau—provinsi yang sejak lama dikenal dengan hutan, gambut, sungai dan kekayaan alamnya, tetapi pada saat yang sama juga menghadapi tantangan besar dalam menjaga keberlanjutan lingkungan.

Ketika hutan mulai kehilangan suara

Hutan tidak pernah benar-benar diam.

Di dalamnya ada suara angin yang menyentuh daun, burung yang berpindah dari dahan ke dahan, air yang mencari jalan di antara akar, serta kehidupan kecil yang sering tak pernah masuk dalam hitungan manusia.

Namun ketika pohon-pohon tumbang, yang hilang bukan hanya batang dan tajuk.

Yang ikut lenyap adalah rumah bagi berbagai makhluk hidup, penyangga ekosistem, penyimpan air, pengikat karbon dan bagian dari ingatan ekologis sebuah wilayah.

Karena itu, pesan Epi Martison tentang perlunya bergerak sebelum alam semakin rusak menjadi penting untuk direnungkan.

Ia mengingatkan bahwa kerusakan lingkungan bukan semata persoalan hari ini. Dampaknya akan berjalan melewati waktu, menuju generasi yang bahkan belum lahir.

Anak-anak dan cucu-cucu kelak mungkin tidak akan mengenal hutan sebagaimana generasi sebelumnya mengenalnya.

Mereka hanya akan mendengar cerita.

Tentang pohon-pohon besar yang pernah berdiri.

Tentang sungai yang pernah jernih.

Tentang suara burung yang dahulu memenuhi pagi.

Tentang tanah yang pernah menyimpan keseimbangan alam.

Dan jika itu benar-benar terjadi, manusia bukan hanya kehilangan hutan. Manusia kehilangan bagian dari dirinya sendiri.

Seni tak cukup hanya indah

Di sinilah forest art menemukan maknanya.

Seni tidak hanya diposisikan sebagai karya yang indah untuk dipandang, tetapi sebagai medium untuk menghidupkan kembali percakapan tentang lingkungan.

Seorang seniman dapat menggambarkan hutan melalui warna.

Seorang pematung dapat menghadirkan kegelisahan ekologis melalui bentuk.

Seorang penampil dapat mengubah gerak tubuh menjadi bahasa alam.

Sementara masyarakat dapat menjadi bagian dari proses menjaga ruang hidup yang mereka warisi.

Dalam konteks itulah kolaborasi menjadi penting.

Pemerintah memiliki kebijakan dan kewenangan. Masyarakat memiliki pengetahuan serta pengalaman hidup yang dekat dengan alam. Seniman memiliki bahasa yang mampu menyentuh sisi emosional manusia.

Ketiganya, jika bertemu dalam satu ruang kesadaran, dapat membangun pesan ekologis yang jauh lebih kuat.

Sebab persoalan lingkungan tidak mungkin diselesaikan hanya dengan satu institusi.

Ia membutuhkan kebijakan yang tegas, pengawasan yang konsisten, partisipasi masyarakat dan perubahan cara pandang manusia terhadap alam.

Siak dan panggilan untuk menjaga alam

Epi Martison secara khusus menyoroti pentingnya perhatian terhadap kelestarian alam di Indonesia, terutama di Siak, Riau.

Siak bukan sekadar nama dalam peta.

Ia adalah bagian dari bentang ekologis Riau yang menyimpan sejarah, budaya dan kekayaan alam. Di wilayah seperti inilah pembangunan dan kelestarian lingkungan harus terus diletakkan dalam satu meja perbincangan.

Pembangunan memang diperlukan.

Namun pembangunan yang mengorbankan lingkungan secara permanen pada akhirnya akan menghadirkan biaya sosial dan ekologis yang jauh lebih mahal.

Karena itu, pesan yang disampaikan melalui forest art menjadi semacam pengingat bahwa kemajuan tidak seharusnya diukur hanya dari gedung yang berdiri, jalan yang terbentang atau angka investasi yang meningkat.

Ada ukuran lain yang jauh lebih sunyi.

Berapa banyak hutan yang masih tersisa?

Berapa banyak sungai yang masih mampu menghidupi masyarakat?

Berapa banyak ruang hidup satwa yang masih terlindungi?

Dan yang paling penting: warisan alam seperti apa yang akan diterima generasi setelah kita?

Jangan menunggu alam benar-benar kehilangan suara

Pesan Epi Martison pada akhirnya bermuara pada satu hal: kesadaran.

Ia berharap kegiatan seperti forest art mampu menyadarkan seluruh lapisan masyarakat, terutama para pembuat kebijakan, agar memberikan perhatian serius terhadap kelestarian alam.

Sebab kerusakan ekologis sering kali berlangsung perlahan.

Hari ini satu pohon ditebang.

Besok satu kawasan berubah fungsi.

Lusa sebuah sungai mulai keruh.

Kemudian masyarakat terbiasa melihatnya.

Lama-kelamaan sesuatu yang dahulu dianggap kerusakan berubah menjadi pemandangan biasa.

Di situlah bahaya terbesar bermula: ketika manusia mulai kehilangan rasa terusik terhadap alam yang terluka.

Seni memiliki kemampuan untuk memutus kebiasaan itu.

Ia dapat membuat manusia berhenti sejenak.

Melihat.

Mendengar.

Kemudian bertanya.

Apa yang sedang terjadi pada bumi kita?

Dan apa yang sedang kita wariskan kepada anak-anak?

Dari panggung seni menuju gerakan kesadaran

Forest art pada akhirnya tidak harus berhenti sebagai sebuah pertunjukan atau kegiatan artistik.

Ia dapat menjadi pintu masuk menuju gerakan yang lebih luas.

Gerakan menanam.

Gerakan menjaga sungai.

Gerakan melindungi hutan.

Gerakan mengurangi sampah.

Gerakan mendorong kebijakan ekologis.

Dan gerakan untuk mengembalikan hubungan manusia dengan alam ke dalam kesadaran sehari-hari.

Sebab menjaga lingkungan bukan hanya pekerjaan aktivis lingkungan.

Bukan hanya tugas pemerintah.

Bukan pula semata tanggung jawab masyarakat yang hidup di sekitar hutan.

Ia adalah pekerjaan bersama.

Di sanalah seni memperoleh fungsi sosialnya.

Bukan sekadar menghias kenyataan, tetapi berani berbicara ketika kenyataan mulai retak.

Bukan sekadar menciptakan keindahan, tetapi mengingatkan manusia bahwa keindahan yang paling hakiki mungkin justru berada pada alam yang masih hidup.

Hutan adalah masa depan yang sedang kita tulis

Pada akhirnya, setiap generasi sebenarnya sedang menulis sebuah surat untuk generasi berikutnya.

Surat itu tidak selalu berupa kata-kata.

Kadang berupa hutan yang masih berdiri.

Kadang berupa sungai yang masih mengalir.

Kadang berupa udara yang masih bisa dihirup tanpa rasa cemas.

Dan kadang berupa tanah yang masih mampu menumbuhkan kehidupan.

Jika hutan dijaga, surat itu akan menjadi warisan.

Jika hutan dihancurkan, surat itu berubah menjadi penyesalan.

Karena itu, seruan Epi Martison melalui forest art patut dibaca lebih jauh dari sekadar agenda kebudayaan.

Ia adalah ajakan untuk bergerak sebelum terlambat.

Sebelum hutan tinggal nama.

Sebelum sungai hanya menjadi garis biru dalam peta.

Sebelum anak cucu mengenal alam hanya melalui foto-foto lama.

Sebab pada akhirnya, manusia tidak sedang menyelamatkan alam dari kehancuran.

Manusia sedang berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dari masa depan yang telah ia rusak hari ini.

Dan mungkin, dari sebuah karya seni yang lahir di antara pepohonan, kesadaran itu mulai tumbuh kembali.*(ald)






Tulis Komentar