Basatu Nogori Maju: Tali Sapilin Tigo Tungku Sajorangan dan Jalan Panjang Membangun Kuansing
KilasRiau.com - Ada kata-kata yang sekadar menjadi hiasan. Dipasang di dinding kantor, dicetak di baliho, disebut dalam sambutan pejabat, lalu selesai ketika acara berakhir.
Tetapi ada pula kata-kata yang seharusnya menjadi janji moral sebuah negeri.
Basatu Nogori Maju.
Motto Kabupaten Kuantan Singingi itu pendek. Namun, jika benar-benar direnungkan, ia memikul tanggung jawab yang panjang.
Di dalamnya ada kata basatu—bersatu. Ada pula nogori—negeri. Dan ada maju—sebuah cita-cita tentang masa depan.
Pertanyaannya sederhana, tetapi tidak mudah dijawab:
Apakah kita benar-benar sudah basatu? Dan apakah nogori ini benar-benar sedang maju?
Sebab persatuan tidak cukup diucapkan.
Kemajuan tidak cukup dipamerkan.
Sebuah negeri tidak menjadi maju hanya karena memiliki gedung baru, jalan yang diperbaiki, panggung yang megah, acara yang meriah atau baliho yang memenuhi ruang publik.
Kemajuan harus terasa di dapur rakyat.
Terlihat di sekolah.
Hadir di sawah dan kebun.
Mengalir di sungai.
Terasa dalam pelayanan publik.
Dan yang paling penting, tumbuh dalam rasa keadilan.
Di situlah sebuah motto diuji: apakah ia hanya menjadi slogan, atau benar-benar menjadi jalan.
Basatu Bukan Berarti Semua Harus Diam
Ada kecenderungan yang sering muncul dalam kehidupan sosial dan politik: persatuan dianggap sebagai keadaan ketika semua orang harus memiliki suara yang sama.
Padahal tidak demikian.
Basatu bukan berarti seragam.
Basatu bukan berarti masyarakat harus diam ketika melihat kekeliruan.
Basatu bukan berarti kritik harus dianggap sebagai permusuhan.
Dan basatu bukan berarti pemerintah selalu benar hanya karena memiliki kewenangan.
Justru sebuah negeri akan kuat ketika perbedaan pendapat dapat dikelola menjadi energi pembangunan.
Orang boleh berbeda pilihan.
Boleh berbeda pandangan.
Boleh berbeda cara berpikir.
Bahkan boleh mengkritik pemerintah dengan keras.
Tetapi ada satu hal yang tidak boleh berbeda: kepentingan untuk melihat Kuansing menjadi lebih baik.
Kritik yang lahir dari kecintaan terhadap negeri bukan ancaman.
Ia adalah alarm.
Ia mengingatkan ketika ada kebijakan yang melenceng.
Ia mengetuk ketika ada kepentingan rakyat yang terabaikan.
Ia menjadi cermin ketika kekuasaan mulai terlalu nyaman melihat dirinya sendiri.
Karena kekuasaan tanpa kritik mudah berubah menjadi ruang gema: hanya mendengar suara sendiri.
Dan negeri yang hanya mendengar suara kekuasaan adalah negeri yang berbahaya bagi masa depannya sendiri.
Tali Sapilin, Tigo Tungku Sajorangan
Masyarakat Kuantan Singingi tidak kekurangan falsafah untuk membangun kehidupan bersama.
Jauh sebelum istilah pembangunan berkelanjutan, tata kelola pemerintahan dan partisipasi publik menjadi bahasa resmi negara, masyarakat telah memiliki kearifan yang mengajarkan pentingnya keseimbangan.
“Tali sapilin, tigo tungku sajorangan.”
Ungkapan adat itu bukan sekadar rangkaian kata.
Ia adalah gambaran tentang bagaimana kehidupan bersama harus ditopang oleh kekuatan yang saling melengkapi.
Tali yang terjalin menjadi satu akan lebih kuat daripada sehelai tali yang berdiri sendiri.
Begitu pula tungku. Ia membutuhkan keseimbangan agar beban dapat ditopang dan api dapat menyala.
Dalam kehidupan negeri, tidak ada satu unsur yang dapat berjalan sendirian.
Pemerintah membutuhkan masyarakat.
Masyarakat membutuhkan kepemimpinan.
Pembangunan membutuhkan nilai agama.
Kehidupan sosial membutuhkan adat.
Generasi muda membutuhkan ruang.
Dan seluruhnya membutuhkan hukum serta keadilan sebagai fondasi.
Karena itu, Basatu Nogori Maju seharusnya tidak dipisahkan dari falsafah tali sapilin, tigo tungku sajorangan.
Keduanya memiliki napas yang sama: kebersamaan, keseimbangan dan tanggung jawab.
Tiga tungku tidak boleh saling menjatuhkan.
Ia harus menopang.
Api pembangunan tidak akan menyala jika tungkunya pincang.
Begitu pula Kuansing tidak akan benar-benar maju apabila pemerintah berjalan sendiri, masyarakat hanya menjadi penonton, adat hanya menjadi simbol, dan nilai agama hanya hadir dalam seremoni.
Jangan Jadikan Adat Sekadar Pemanis Seremoni
Kita sering bangga menyebut Kuansing sebagai negeri yang kaya adat dan budaya.
Pacu jalur menjadi ikon.
Sungai Kuantan menjadi bagian dari identitas.
Berbagai tradisi hidup dalam masyarakat.
Namun pertanyaan yang lebih penting adalah:
Apakah adat hanya kita ingat ketika hendak menggelar acara?
Sebab adat tidak seharusnya berhenti pada pakaian, prosesi, tepuk tepung tawar, pantun, atau panggung kebudayaan.
Adat adalah nilai.
Adat adalah cara menempatkan diri.
Adat mengajarkan penghormatan kepada orang lain.
Adat mengajarkan tanggung jawab.
Adat mengajarkan musyawarah.
Adat mengajarkan bahwa manusia tidak hidup sendirian.
Maka modernisasi tidak boleh menjadi alasan untuk mencabut akar.
Kuansing harus maju, tetapi tidak kehilangan jati dirinya.
Teknologi boleh berkembang.
Investasi boleh masuk.
Kota boleh berubah.
Infrastruktur boleh semakin modern.
Tetapi sopan santun jangan hilang.
Gotong royong jangan mati.
Musyawarah jangan ditinggalkan.
Kepedulian terhadap alam jangan dikorbankan.
Dan nilai-nilai adat jangan sekadar menjadi dekorasi dalam agenda pemerintahan.
Kemajuan yang mencabut akar hanya akan menghasilkan pohon yang mudah tumbang.
Nogori Maju Bukan Sekadar Banyak Proyek
Kita perlu mengoreksi cara berpikir tentang pembangunan.
Terlalu lama kemajuan sering diukur dari apa yang dapat dilihat secara kasatmata.
Jalan.
Gedung.
Jembatan.
Taman.
Gapura.
Panggung.
Kantor.
Semua itu memang penting.
Tetapi pembangunan fisik bukan satu-satunya ukuran kemajuan.
Sebuah daerah dapat memiliki jalan yang mulus tetapi rakyatnya kesulitan mencari pekerjaan.
Sebuah daerah dapat memiliki gedung megah tetapi pelayanan publiknya berbelit-belit.
Sebuah daerah dapat memiliki acara besar tetapi pelaku usaha kecil hanya menjadi penonton.
Sebuah daerah dapat mengklaim pertumbuhan ekonomi tetapi ketimpangan semakin lebar.
Apakah itu kemajuan?
Belum tentu.
Nogori maju adalah ketika pembangunan mengangkat martabat manusia.
Petani memiliki kepastian.
Pedagang kecil memiliki ruang.
Anak muda memiliki masa depan.
Anak-anak mendapatkan pendidikan berkualitas.
Masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan yang layak.
Pelayanan pemerintah semakin mudah dan transparan.
Hukum ditegakkan tanpa melihat siapa yang berhadapan dengannya.
Dan lingkungan tidak dikorbankan demi keuntungan jangka pendek.
Itulah pembangunan yang memiliki jiwa.
Sungai Kuantan Bukan Sekadar Arena Pacu Jalur
Ada satu simbol yang seharusnya selalu mengingatkan kita tentang identitas Kuansing: Sungai Kuantan.
Setiap kali Pacu Jalur digelar, sungai itu menjadi panggung besar.
Sorak penonton membelah tepian.
Jalur-jalur terbaik meluncur.
Anak pacu mengerahkan tenaga.
Masyarakat berkumpul.
Nama Kuansing kembali terdengar hingga ke luar daerah.
Namun setelah sorak-sorai mereda, sungai tetap harus hidup.
Sungai bukan hanya tempat perlombaan.
Sungai adalah sumber kehidupan.
Ia adalah bagian dari sejarah.
Bagian dari budaya.
Bagian dari ekonomi masyarakat.
Maka membicarakan Nogori Maju tanpa membicarakan lingkungan adalah pembicaraan yang timpang.
Kemajuan tidak boleh dibayar dengan kerusakan sungai.
Pertumbuhan ekonomi tidak boleh menjadi pembenaran untuk menghancurkan sumber kehidupan.
Jika hari ini kita bangga memperlombakan jalur di Sungai Kuantan, maka kita juga harus bangga menjadi generasi yang menjaga sungai itu agar tetap layak diwariskan kepada anak cucu.
Sebab apa gunanya sebuah negeri memiliki festival besar jika sumber kehidupannya perlahan kehilangan daya hidup?
Pemimpin Harus Menjadi Contoh Pertama
Motto sebesar Basatu Nogori Maju tidak akan memiliki arti apabila para pemimpinnya sendiri gagal memberi teladan.
Persatuan harus dimulai dari atas.
Transparansi harus dimulai dari atas.
Keteladanan harus dimulai dari atas.
Keberanian mengakui kesalahan juga harus dimulai dari atas.
Jangan meminta masyarakat bersatu jika elite terus mempertontonkan pertarungan kepentingan.
Jangan meminta rakyat percaya jika pemerintah menutup diri dari kritik.
Jangan meminta masyarakat menghormati hukum jika hukum terasa tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.
Dan jangan berbicara tentang pembangunan jika rakyat hanya dipanggil ketika suara mereka dibutuhkan.
Pemimpin bukan hanya mereka yang duduk di kursi kekuasaan.
Pemimpin adalah mereka yang mampu menempatkan kepentingan publik di atas kepentingan pribadi.
Karena kursi kekuasaan memiliki batas waktu.
Jabatan memiliki masa.
Tetapi akibat sebuah kebijakan dapat dirasakan masyarakat selama bertahun-tahun.
Maka seorang pemimpin harus berpikir lebih jauh daripada masa jabatannya.
Ia harus bertanya:
Apa yang akan kami tinggalkan setelah kami tidak lagi berkuasa?
Nama?
Spanduk?
Foto?
Atau sebuah negeri yang benar-benar lebih baik?
Jangan Takut pada Kritik
Kuansing membutuhkan masyarakat yang kritis.
Bukan masyarakat yang gemar menghujat.
Tetapi masyarakat yang berani bertanya.
Mengapa?
Untuk apa?
Siapa yang bertanggung jawab?
Berapa anggarannya?
Apa manfaatnya?
Siapa yang menerima manfaatnya?
Dan bagaimana dampaknya bagi rakyat?
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu bukan penghambat pembangunan.
Justru itulah bentuk partisipasi publik.
Pemerintah yang sehat tidak takut terhadap pertanyaan.
Pemerintah yang kuat tidak alergi terhadap kritik.
Sebaliknya, pemerintah yang matang akan menjadikan kritik sebagai bahan evaluasi.
Begitu pula masyarakat.
Kritik harus memiliki data.
Harus memiliki etika.
Harus membedakan antara kepentingan publik dan fitnah.
Sebab basatu tidak membutuhkan kebencian. Basatu membutuhkan keberanian untuk jujur.
Anak Muda dan Masa Depan Nogori
Ada satu kelompok yang tidak boleh dilupakan dalam pembicaraan tentang masa depan Kuansing: generasi muda.
Mereka bukan hanya penonton pembangunan.
Mereka adalah pewarisnya.
Jika hari ini kita gagal menciptakan pendidikan yang baik, lapangan kerja yang layak dan ruang kreativitas yang luas, maka persoalannya bukan hanya terjadi hari ini.
Kita sedang menanam masalah untuk masa depan.
Anak muda Kuansing harus diberikan kesempatan untuk menciptakan.
Bukan hanya diminta datang ketika ada seremoni.
Mereka harus diberikan ruang dalam ekonomi kreatif, teknologi, olahraga, seni, budaya, kewirausahaan, pendidikan dan berbagai sektor lainnya.
Dan yang lebih penting, mereka harus mengenal akar budayanya.
Jangan sampai generasi yang paling cepat menguasai teknologi justru menjadi generasi yang paling jauh dari adatnya sendiri.
Kita membutuhkan generasi yang bisa memegang telepon pintar dengan satu tangan dan memegang nilai-nilai leluhur dengan tangan lainnya.
Modern dalam cara berpikir, kuat dalam karakter, dan tidak tercerabut dari akar.
Basatu Harus Melampaui Kepentingan Politik
Tahun politik akan datang dan pergi.
Kekuasaan akan berpindah.
Tokoh akan berganti.
Partai akan berubah.
Tetapi Kuansing tetap ada.
Karena itu, jangan biarkan kepentingan politik jangka pendek memecah persaudaraan yang telah dibangun berabad-abad.
Perbedaan pilihan politik jangan sampai berubah menjadi permusuhan antar keluarga.
Jangan sampai karena berbeda pilihan, hubungan sosial menjadi renggang.
Jangan sampai politik membuat kita lupa bahwa setelah pesta demokrasi selesai, kita tetap tinggal di negeri yang sama.
Kita tetap berbelanja di pasar yang sama.
Anak-anak kita tetap bersekolah di tempat yang sama.
Kita tetap menikmati sungai yang sama.
Dan kita tetap membutuhkan tetangga yang sama ketika kesusahan datang.
Maka Basatu Nogori Maju harus lebih besar daripada kepentingan politik lima tahunan.
Ia harus menjadi kesepakatan moral lintas generasi.
Dari Motto Menjadi Gerakan
Pada akhirnya, persoalannya bukan apakah kalimat Basatu Nogori Maju indah.
Kalimat itu memang indah.
Tetapi keindahan motto tidak akan berarti jika kehidupan masyarakat tidak berubah.
Karena itu, kita harus mengubah motto menjadi gerakan.
Basatu dalam menjaga lingkungan.
Basatu dalam meningkatkan pendidikan.
Basatu dalam menggerakkan ekonomi rakyat.
Basatu dalam melawan korupsi.
Basatu dalam mengawasi pembangunan.
Basatu dalam menjaga adat.
Basatu dalam merawat budaya.
Basatu dalam menghormati perbedaan.
Dan basatu dalam memastikan bahwa pembangunan benar-benar berpihak kepada rakyat.
Di sinilah tali sapilin, tigo tungku sajorangan menemukan maknanya.
Tali yang kuat bukan karena satu helai.
Tungku yang kokoh bukan karena satu penyangga.
Begitu pula negeri.
Kuansing tidak akan maju karena satu orang. Kuansing akan maju karena banyak orang bersedia berjalan dalam satu tujuan.
Jangan Sampai Basatu Hanya Menjadi Tulisan
Motto adalah cermin.
Ketika kita menuliskan Basatu Nogori Maju, sebenarnya kita sedang bertanya kepada diri sendiri: apakah kita sudah menjalankan maknanya?
Jika belum, maka jangan malu untuk mengakuinya.
Sebab membangun negeri bukan pekerjaan sekali jadi.
Ia proses panjang.
Ia membutuhkan koreksi.
Membutuhkan keberanian.
Membutuhkan kesabaran.
Dan membutuhkan generasi yang mau meneruskan pekerjaan generasi sebelumnya.
Yang perlu kita takutkan bukan kritik.
Yang perlu kita takutkan adalah ketika motto tinggal tulisan.
Ketika Basatu hanya menjadi kata dalam pidato.
Ketika Nogori Maju hanya menjadi slogan dalam baliho.
Ketika adat hanya dipakai sebagai ornamen.
Ketika agama hanya disebut dalam seremoni.
Ketika rakyat hanya diingat ketika dibutuhkan.
Dan ketika pembangunan hanya dinilai dari apa yang tampak, bukan dari apa yang dirasakan.
Kita tidak membutuhkan Kuansing yang hanya tampak maju.
Kita membutuhkan Kuansing yang benar-benar maju.
Maju ekonominya.
Maju pendidikannya.
Maju pelayanannya.
Maju kebudayaannya.
Maju pemerintahannya.
Maju kualitas manusianya.
Namun tetap kuat adatnya.
Tetap hidup gotong royong nya.
Tetap terjaga sungainya.
Tetap teguh nilai moralnya.
Dan tetap kokoh persaudaraannya.
Sebab negeri yang besar bukan negeri yang meninggalkan masa lalunya demi mengejar masa depan. Negeri yang besar adalah negeri yang mampu membawa nilai terbaik masa lalunya untuk menjemput masa depan.
Maka Basatu Nogori Maju jangan lagi dipandang sebagai sekadar motto.
Jadikan ia kesepakatan.
Jadikan ia kompas.
Jadikan ia ukuran.
Dan jadikan ia tanggung jawab bersama.
Tali sapilin. Tigo tungku sajorangan.
Basatu dalam langkah, basatu dalam hati, basatu dalam tujuan.
Sebab pada akhirnya, Kuansing bukan milik penguasa hari ini.
Bukan milik pejabat.
Bukan milik partai.
Bukan milik kelompok tertentu.
Kuansing adalah amanah bersama.
Kepada kita ia diwariskan.
Dan kepada generasi setelah kita, ia harus dikembalikan dalam keadaan yang lebih baik.
Itulah makna sesungguhnya dari Basatu Nogori Maju.
Bukan sekadar bagaimana kita mengatakan bahwa Kuansing sedang maju.
Tetapi bagaimana suatu hari nanti anak cucu kita dapat berkata dengan bangga:
“Mereka pernah memimpin negeri ini dengan benar. Mereka menjaga adatnya. Mereka menjaga alamnya. Mereka menjaga persaudaraannya. Dan mereka meninggalkan Kuansing dalam keadaan lebih baik daripada ketika mereka menerimanya.” *(ald)
By: Aldian Syahmubara

Tulis Komentar