Menjadi Lilin di Tengah Gelap

foto: penulis/album pribadi (doc. kilasriau.com)

KilasRiau.com - Tidak semua orang bersedia menjadi lilin. Sebab menjadi lilin bukan sekadar soal memberi cahaya, melainkan kesediaan untuk perlahan terbakar demi orang lain yang membutuhkan terang. Lilin tidak pernah menyala tanpa pengorbanan. Setiap cahaya yang ia berikan adalah bagian dari dirinya yang mencair, waktu yang berkurang, tenaga yang perlahan habis. Ia berdiri tegak di tengah gelap, sadar bahwa nyalanya tidak akan abadi.

Namun justru dari kesadaran itulah makna lilin lahir.

Dalam kehidupan masyarakat, selalu ada orang-orang yang memilih jalan sunyi seperti lilin. Mereka tidak selalu berada di panggung besar, tidak selalu dipuji, bahkan sering kali berjalan sendirian. Mereka adalah orang-orang yang tetap bersuara ketika sebagian memilih diam. Mereka menulis ketika banyak yang takut menuliskan kebenaran. Mereka bertanya ketika banyak orang lebih nyaman membiarkan keadaan berjalan tanpa gangguan.

Mereka tahu, cahaya kecil yang mereka nyalakan mungkin tidak akan langsung mengubah dunia. Tetapi setidaknya ia mampu memecah gelap yang terlalu lama dibiarkan berkuasa.

Namun menjadi lilin bukanlah perjalanan yang tenang.

Angin selalu ada. Kadang datang pelan, kadang datang seperti badai. Ia membawa berbagai rupa: fitnah yang berbisik di belakang, cemooh yang dilontarkan dengan senyum sinis, atau kesalahpahaman yang menjelma menjadi tuduhan. Semua itu seperti hembusan yang berusaha memadamkan sumbu kecil yang menyala.

Tidak jarang lilin itu goyah. Nyala apinya menari gelisah, seakan hampir padam. Pada saat-saat seperti itu, seseorang yang memilih menjadi lilin akan merasakan sunyi yang dalam. Ia bertanya pada dirinya sendiri: apakah cahaya ini masih berarti? Apakah nyala kecil ini masih dibutuhkan?

Tetapi di balik keraguan itu, selalu ada satu kesadaran yang membuat lilin tetap bertahan—bahwa gelap tidak pernah benar-benar kalah tanpa ada yang berani menyalakan cahaya.

Kenyataannya, tidak semua orang mencintai terang. Ada yang merasa silau ketika cahaya menyentuh wajahnya. Ada yang merasa terganggu ketika sesuatu yang selama ini tersembunyi mulai terlihat jelas. Bahkan ada pula yang diam-diam berharap lilin itu padam, agar gelap kembali berkuasa tanpa gangguan.

Sebab cahaya memiliki sifat yang tidak bisa ditawar: ia menyingkap.
Ia memperlihatkan apa yang selama ini disembunyikan. Ia menyingkap apa yang selama ini diselubungi bayang-bayang. Dalam terang, kebenaran tidak lagi bisa sepenuhnya disembunyikan.

Karena itulah, sering kali yang diserang bukanlah kegelapan itu sendiri, melainkan lilin yang berusaha meneranginya.

Namun lilin tidak pernah diciptakan untuk takut pada angin. Ia mungkin kecil, rapuh, dan mudah mencair. Tetapi selama sumbunya masih ada, selama nyalanya masih hidup, ia akan tetap memberi terang.

Satu lilin memang tidak mampu menghapus seluruh gelap. Tetapi ia cukup untuk membuat seseorang melihat jalan di depannya. Ia cukup untuk membuat seseorang tidak lagi berjalan dalam kebutaan. Dan kadang, satu lilin yang menyala akan mengundang lilin lain untuk ikut menerangi.

Dari situlah cahaya perlahan bertambah.

Menjadi lilin juga berarti memahami bahwa pengakuan bukanlah tujuan utama. Banyak lilin yang menyala tanpa pernah disebut namanya. Banyak cahaya yang menerangi tanpa pernah diketahui siapa yang menyalakannya.

Namun bagi lilin, itu bukan persoalan.

Sebab nilai dari cahaya tidak ditentukan oleh seberapa banyak pujian yang diterima, melainkan oleh seberapa besar ia mampu mengusir gelap. Dalam diamnya, lilin telah menjalankan tugasnya—memberi terang bagi siapa pun yang membutuhkan.

Dan ketika suatu hari lilin itu habis, ketika tubuhnya telah mencair sepenuhnya, ketika sumbunya tak lagi mampu menahan api—ia tidak pergi dengan sia-sia. Ia meninggalkan jejak cahaya, kenangan bahwa di suatu waktu pernah ada terang yang menuntun langkah.

Barangkali dunia ini memang tidak akan pernah sepenuhnya bebas dari gelap. Tetapi selama masih ada orang-orang yang bersedia menjadi lilin, selama masih ada yang berani menyala meski tahu dirinya akan terbakar, maka harapan tidak akan pernah benar-benar padam.

Sebab dalam sejarah panjang kehidupan manusia, perubahan sering kali tidak dimulai dari cahaya yang besar. Ia justru lahir dari nyala kecil—dari seseorang yang berani berdiri di tengah gelap dan berkata pada dirinya sendiri:

Aku mungkin hanya lilin.
Aku mungkin tidak abadi.
Namun selama nyalaku masih ada,
aku akan tetap memilih
untuk menjadi cahaya.*(ald)

 

Oleh: Aldian Syahmubara






Tulis Komentar