Menanti Secercah Harapan

foto: aldian syahmubara/edit/ronaldo/ist. (doc. Kilasriau.com)

KilasRiau.com - Ada hari-hari ketika pagi tak benar-benar membawa terang. Matahari terbit, namun cahaya seolah tertahan di balik dada—tak mampu mengusir resah yang menumpuk semalaman. Pada hari-hari seperti itu, harapan bukanlah kata yang mudah diucapkan. Ia terasa rapuh, nyaris patah, seperti nyala lilin kecil yang melawan angin dalam ruang gelap bernama kenyataan.

Kita hidup di zaman ketika janji sering lebih lantang daripada bukti. Kata-kata indah bertebaran di ruang publik, namun kerap kehilangan makna saat berhadapan dengan kenyataan hidup masyarakat kecil. Ketidakadilan menjelma rutinitas, kesenjangan dianggap biasa, dan luka sosial perlahan dinormalisasi. Dalam situasi seperti itu, menanti harapan terasa seperti menunggu hujan di musim kemarau—lama, melelahkan, dan penuh tanya.

Namun manusia, pada dasarnya, adalah makhluk yang belajar bertahan dari luka. Dari generasi ke generasi, kita diwarisi kemampuan untuk tetap berdiri meski berkali-kali dijatuhkan. Harapan, dalam bentuknya yang paling jujur, bukanlah optimisme kosong. Ia adalah sikap batin yang lahir dari kesadaran bahwa hidup tidak selalu adil, tetapi tetap layak diperjuangkan.

Di sudut-sudut sunyi negeri ini, harapan tidak pernah benar-benar mati. Ia bersembunyi dalam langkah guru yang tetap datang ke kelas meski gaji tak seberapa. Dalam doa ibu-ibu yang berharap anaknya tumbuh lebih baik dari nasib mereka. Dalam tangan petani yang setia menanam, meski cuaca dan harga tak pernah sepenuhnya berpihak. Mereka mungkin tak menyebut dirinya pejuang, namun dari merekalah harapan memperoleh makna.

Harapan juga hidup dalam keberanian untuk berkata jujur, ketika kebohongan justru diberi panggung. Ia hadir pada mereka yang memilih mencatat, menulis, dan bersuara—meski sadar risiko selalu mengintai. Di tengah arus deras kepentingan, menjaga integritas adalah bentuk perlawanan paling sunyi, sekaligus paling mahal. Sebab tak semua orang sanggup bertahan tanpa tepuk tangan.

Menanti secercah harapan bukanlah sikap menunggu tanpa daya. Ia adalah kerja panjang yang menuntut kesabaran dan keteguhan. Harapan perlu dirawat, dijaga agar tidak padam oleh kelelahan, oleh ejekan, oleh rasa putus asa yang kerap datang tanpa permisi. Kadang ia hanya sebesar keyakinan untuk tidak ikut-ikutan berbuat salah, untuk tetap memilih jalan lurus meski sepi.

Ada kalanya kita lelah berharap. Ada masa ketika hati ingin menyerah, ketika diam terasa lebih aman daripada bersuara. Namun justru pada titik itulah harapan diuji. Apakah ia akan dibiarkan padam, atau kembali dinyalakan dengan sisa-sisa keyakinan yang ada? Sejarah mengajarkan, perubahan besar sering lahir dari mereka yang tak lagi punya apa-apa selain keberanian untuk bertahan.

Secercah harapan memang tak selalu menerangi seluruh jalan. Ia hanya cukup untuk satu langkah ke depan. Namun satu langkah itu, bila terus diulang, akan membawa kita keluar dari gelap yang panjang. Harapan tidak menjanjikan kemenangan cepat, tetapi memberi alasan untuk terus berjalan, meski tertatih.

Maka, selama masih ada manusia yang percaya pada nilai keadilan, kemanusiaan, dan kejujuran—selama masih ada hati yang menolak tunduk pada ketidakbenaran—harapan akan selalu menemukan jalannya. Ia mungkin kecil, nyaris tak terdengar, namun denyutnya nyata.

Kita pun memilih menanti, bukan dengan tangan kosong, melainkan dengan kerja, doa, dan keberanian. Menanti sambil melangkah. Menanti sambil menjaga api kecil itu agar tetap menyala. Sebab dalam gelap yang paling pekat sekalipun, secercah cahaya selalu punya arti.*(ald)






Tulis Komentar