Ketika “Seen” Menjadi Bentuk Baru dari Cuci Tangan Kader
Kilasriau.com - Ketika “Seen” Menjadi Bentuk Baru dari Cuci Tangan Kader
Ada satu bentuk “kemajuan” yang patut kita apresiasi dalam kehidupan organisasi hari ini: *tingkat literasi membaca kader tampaknya semakin tinggi.* Pesan di grup dibaca dengan sangat baik. Informasi masuk, notifikasi muncul, tanda *seen* bertebaran. Tidak banyak yang terlewat.
Hanya saja, ada satu pertanyaan sederhana yang mungkin perlu kita renungkan: *setelah membaca, lalu apa?*
- SMSI dan RRI Dorong Kolaborasi Media untuk Perkuat Kompetensi Jurnalis dan Jernihkan Informasi
- PW MOI Inhil Soroti Sikap Moderator dalam Diskusi Publik soal Petani Kelapa
- Yonif TP 850/SC Gelar Syukuran HUT ke-1 di Mako Yonif TP 850/SC
- Al-Iqtishad al-Basith: Tabir 19 Tahun menuju Indonesia Satu Abad
- Purwanto Minta LAMR Inhil Ikut Suarakan Jeritan Petani Kelapa Sungai Buluh
Sebab dalam organisasi, komunikasi tidak pernah berhenti pada aktivitas menerima informasi. Komunikasi yang sehat membutuhkan respons, umpan balik, klarifikasi, bahkan kadang keberanian untuk berbeda pendapat. Penelitian tentang komunikasi organisasi menunjukkan bahwa *responsiveness* atau kesediaan merespons merupakan bagian penting dalam membangun hubungan dan kepercayaan. Studi terhadap 4.068 responden, misalnya, menemukan bahwa persepsi terhadap responsivitas institusi berkaitan dengan kepercayaan dan partisipasi.
Dengan kata lain, *merespons bukan sekadar etika percakapan; ia adalah bagian dari partisipasi.*
Memang, harus diakui: membaca pesan tidak selalu berarti seseorang sedang memiliki waktu, energi, atau kesiapan untuk menjawab. Penelitian tentang perilaku pengguna *instant messaging* juga menunjukkan bahwa keputusan seseorang untuk merespons dipengaruhi oleh kebiasaan, kebutuhan, persepsi kewajiban, kesiapan, dan konteks komunikasi. Jadi, tidak adil pula jika setiap pesan yang tidak segera dijawab langsung dianggap sebagai bentuk ketidakpedulian.
Tetapi persoalannya menjadi berbeda ketika *diam bukan lagi sesekali, melainkan menjadi budaya.*
Ketika hampir setiap informasi hanya berakhir pada *seen*, sementara pekerjaan, keputusan, dan agenda organisasi tetap membutuhkan kepastian, maka masalahnya bukan lagi sekadar persoalan teknis komunikasi. Ia mulai menyentuh persoalan *sense of belonging dan tanggung jawab kolektif.*
Organisasi bukan ruang tunggu tempat kita cukup hadir secara administratif. Ia adalah ruang bersama yang hidup karena setiap orang bersedia mengambil bagian.
Penelitian tentang *employee voice* bahkan menemukan hubungan positif antara kesempatan untuk menyampaikan suara, keterbukaan terhadap suara tersebut, dan keterikatan seseorang terhadap organisasi. Dalam penelitian terhadap 2.066 responden dari lima organisasi di Inggris, *employee voice* dan penerimaan pimpinan terhadap suara anggota berkaitan positif dengan *emotional organisational engagement*.
Maka, ketika seseorang memilih diam terus-menerus, kita patut bertanya: *apakah ia sedang menjaga ketenangan, atau sedang menjaga jarak dari tanggung jawab?*
Di sinilah metafora *“cuci tangan”* menjadi relevan.
Kader yang suka mencuci tangan bukanlah kader yang tangannya kotor secara harfiah. Ia adalah kader yang selalu ingin berada dalam posisi paling aman: mengetahui persoalan, tetapi tidak ingin terlibat; membaca keputusan, tetapi enggan memberi sikap; menikmati hasil perjuangan, tetapi menghindari beban perjuangan.
Ia ingin disebut bagian dari organisasi, tetapi ketika organisasi membutuhkan respons, keberanian, atau tenaga, ia tiba-tiba berubah menjadi penonton.
*Pesan dibaca, tetapi tidak dijawab. Persoalan diketahui, tetapi tidak disentuh. Keputusan diterima, tetapi tidak dikonfirmasi. Pekerjaan berjalan, tetapi ia memilih berdiri di luar lingkaran tanggung jawab.*
Inilah bentuk *cuci tangan* yang paling halus.
Tidak ada penolakan. Tidak ada konflik. Tidak ada kata “tidak”. Hanya diam.
Dan justru karena diam itulah ia sering sulit dikritik.
Padahal, dalam sebuah organisasi, *diam juga dapat menjadi sikap*. Ketika sebuah pertanyaan membutuhkan jawaban dan tidak ada respons, ketidakadaan respons itu sendiri dapat memengaruhi koordinasi. Ketika sebuah keputusan membutuhkan konfirmasi tetapi hanya disambut *seen*, orang lain dipaksa menebak: apakah sudah dipahami? Apakah disetujui? Apakah tidak peduli? Atau memang tidak ingin terlibat?
Karena itu, respons sederhana seperti “siap”, “noted”, “belum bisa”, atau “saya usahakan” sebenarnya memiliki nilai yang jauh lebih besar daripada yang kita kira. Ia memberi kepastian bahwa seseorang *hadir secara komunikatif*.
Kita tidak sedang menuntut setiap kader untuk membalas setiap pesan dalam hitungan detik. Bukan itu persoalannya.
Yang sedang dipersoalkan adalah **budaya ketidakpedulian yang dibungkus dengan kesibukan, lalu dilegitimasi oleh tanda “sudah dibaca”.*
Jangan sampai teknologi membuat kita merasa sudah berpartisipasi hanya karena informasi telah masuk ke layar kita.
Sebab *membaca bukan berarti terlibat. Mengetahui bukan berarti bertanggung jawab.*
Kaderisasi pada akhirnya bukan hanya tentang seberapa banyak seseorang memahami materi, seberapa fasih ia berbicara di forum, atau seberapa sering namanya tercantum dalam struktur kepengurusan. Kaderisasi juga diuji dalam hal-hal kecil: *ketika ada pesan yang perlu dijawab, pekerjaan yang perlu diambil, persoalan yang perlu diselesaikan, dan organisasi yang membutuhkan keberpihakan.*
Kader sejati tidak selalu memiliki tangan yang bersih.
Kadang tangannya harus kotor karena mengangkat beban. Kadang bajunya harus kusut karena bekerja. Kadang ia harus berada di tengah persoalan yang tidak nyaman.
Sebab *tangan yang terlalu takut kotor mungkin memang tampak bersih, tetapi belum tentu pernah digunakan untuk bekerja.*
Maka, barangkali sudah waktunya kita menaikkan standar literasi kader.
Bukan hanya dari *“read”* menjadi *“respond”*, tetapi dari *“mengetahui”* menjadi *“mengambil bagian”.*
Sebab organisasi tidak membutuhkan terlalu banyak orang yang hanya menjadi saksi atas apa yang terjadi.
*Organisasi membutuhkan kader yang bersedia hadir ketika sesuatu harus dikerjakan.*
Dan kalau memang belum bisa menjawab, katakan belum bisa.
Kalau tidak setuju, sampaikan.
Kalau keberatan, bicarakan.
Kalau salah, akui.
Kalau dibutuhkan, datang.
Karena *kader yang matang bukan kader yang selalu berhasil menjaga tangannya tetap bersih dari persoalan, melainkan kader yang berani mengotorkan tangannya untuk memastikan persoalan tidak dibiarkan menjadi warisan bagi orang lain.*
Jadi, apresiasi untuk tingkat literasi membaca kita yang luar biasa.
*Sekarang mungkin saatnya kita belajar satu tingkat lebih tinggi: literasi respons, literasi tanggung jawab, dan yang paling penting—literasi keberanian untuk tidak mencuci tangan dari persoalan yang sebenarnya menjadi bagian dari perjuangan kita bersama.*
Pekanbaru, 21 Agt 2026

Tulis Komentar