Ketika Swarnadwipa Bangkit di Pesisir Lampung, "Spice & Heritage" Menghidupkan Ingatan Jalur Rempah Nusantara

foto: (doc. kilasriau.com)/epi m.

 

PESAWARAN (KilasRiau.com) — Senja baru saja merunduk di ufuk Pantai Hurun, Kabupaten Pesawaran, ketika denting musik pertama memecah keheningan. Cahaya perlahan menyapu panggung terbuka yang menghadap laut. Ombak menjadi latar, angin menjadi pengiring, sementara ratusan penonton menatap tanpa berkedip.

Beberapa saat kemudian, tepuk tangan bergema. Namun sebelum riuh itu pecah, ada jeda panjang yang dipenuhi kekaguman. Penonton tampak terdiam, larut dalam pertunjukan tari-teater visual "Spice & Heritage", sajian utama pada pembukaan Pesenggiri Festival 2026.

Pertunjukan itu tidak sekadar menawarkan keindahan koreografi. Ia mengajak penonton menelusuri kembali jejak sejarah Nusantara ketika Sumatra dikenal dunia sebagai Swarnadwipa—Pulau Emas—tanah yang menjadi pusat perdagangan rempah dan persinggahan berbagai bangsa.

Di atas panggung, kisah itu disampaikan melalui bahasa yang melampaui kata-kata. Gerak para penari, komposisi musik, permainan cahaya, dan lanskap laut yang membentang di belakang panggung menyatu menjadi narasi visual tentang perjalanan peradaban.

Swarnadwipa dalam pertunjukan ini bukan dimaknai sebagai lambang kekayaan material semata. Ia dihadirkan sebagai simbol sebuah wilayah yang pernah menjadi ruang perjumpaan manusia, perdagangan, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan.

Dari tanah yang melahirkan pala, lada, dan berbagai rempah itulah kapal-kapal dari berbagai belahan dunia berlayar. Mereka datang membawa bahasa, keyakinan, teknologi, dan kebiasaan baru. Pertemuan itu kemudian membentuk jaringan peradaban yang meninggalkan jejak panjang dalam sejarah Asia Tenggara.

Narasi itulah yang menjadi benang merah "Spice & Heritage".

Pertunjukan dibagi dalam empat bagian. Babak awal memperkenalkan mitologi Swarnadwipa sebagai Pulau Emas yang termasyhur. Babak berikutnya menggambarkan kejayaan jalur rempah ketika pelabuhan-pelabuhan di Sumatra menjadi simpul perdagangan internasional.

Selanjutnya, penonton diajak mengikuti kisah pelayaran, pertukaran budaya, dan lahirnya peradaban yang dibangun melalui dialog antarmanusia. Pada bagian akhir, pertunjukan menghadirkan ruang refleksi mengenai identitas bangsa, luka sejarah, dan pentingnya menjaga nilai budaya di tengah perubahan zaman.

Keseluruhan kisah kemudian ditutup dengan hadirnya falsafah Piil Pesenggiri, nilai luhur masyarakat Lampung yang menempatkan martabat, kehormatan, tanggung jawab, dan penghormatan kepada sesama sebagai fondasi kehidupan.

Keberhasilan pertunjukan ini lahir dari kolaborasi lintas daerah bahkan lintas negara.

Dibal Ranuh dipercaya sebagai Artistic Director yang merancang konsep artistik pertunjukan. Koreografi disusun oleh Jasmine Okubo dari Jepang bersama Aditya Guna Eka Putra, menghadirkan dialog budaya melalui bahasa tubuh yang universal.

Komposisi musik digarap oleh seniman Riau, Epi Martison, bersama Tommy Respati. Musik menjadi elemen penting yang membangun suasana, menghadirkan imajinasi tentang ombak, angin, dan pelayaran panjang yang pernah menghubungkan Nusantara dengan dunia.

Cerita pertunjukan ditulis oleh Wendra Wijaya. Produksi dikawal oleh W.S. Wulandari sebagai Project Manager bersama Ananda Gayatri selaku Line Manager.

Kekuatan lain pertunjukan ini hadir melalui keterlibatan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Pendidikan Seni Musik Universitas Lampung bersama para seniman dari berbagai sanggar seni di Lampung. Kolaborasi tersebut memperlihatkan bagaimana generasi muda tidak hanya menjadi penampil, tetapi juga pewaris memori kebudayaan.

Sejumlah komposisi musik turut memperkaya pertunjukan, di antaranya "Spirit of Riau" dari Duo Percussion dan "Lampung Sai" dari Elite Music. Keduanya menghadirkan warna musikal yang mempertemukan identitas lokal dengan semangat Nusantara.

Pilihan lokasi di tepi Pantai Hurun memperkuat pengalaman artistik yang ditawarkan. Lanskap laut menjadi bagian dari panggung itu sendiri. Ketika cahaya senja berangsur hilang dan langit berubah gelap, gerak para penari seolah menyatu dengan debur ombak dan hembusan angin.

Bagi banyak penonton, "Spice & Heritage" bukan hanya pertunjukan pembuka sebuah festival budaya. Ia menjadi ruang untuk mengingat kembali bahwa jalur rempah bukan sekadar kisah perdagangan, melainkan sejarah tentang perjumpaan manusia, pertukaran pengetahuan, dan pembentukan identitas Nusantara.

Di tengah dunia yang terus bergerak menuju masa depan, pertunjukan ini mengingatkan bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Justru dari ingatan terhadap sejarah itulah sebuah bangsa menemukan arah untuk melangkah.

Malam itu, ketika tepuk tangan panjang menutup pertunjukan, yang tersisa bukan hanya kekaguman terhadap kemegahan panggung.

Yang pulang bersama setiap penonton adalah kesadaran bahwa warisan terbesar Nusantara bukan semata rempah yang pernah diperebutkan dunia, melainkan kebudayaan yang hingga kini tetap hidup, terus diwariskan, dan selalu menemukan cara baru untuk diceritakan kembali.*(ald)






Tulis Komentar