Di Tepi Hurun, Ketika Sejarah Dipentaskan dan Peradaban Menemukan Rumahnya

foto: doc. kilasriau.com/epi m/ist.

 

PESAWARAN (KilasRiau.com) — Senja turun perlahan di Pantai Hurun, Kabupaten Pesawaran, Lampung. Cahaya matahari yang tersisa memantul di permukaan Teluk Lampung, sementara angin laut berembus pelan membawa aroma asin yang bercampur dengan wangi kayu panggung. Ratusan penonton telah memenuhi kursi-kursi yang menghadap laut. Mereka datang bukan sekadar menyaksikan sebuah pertunjukan, melainkan menjadi saksi bagaimana sejarah, alam, dan kebudayaan dipertemukan dalam satu panggung, pada Jumat (3/7/2026).

Lampu perlahan diredupkan.

Yang terdengar mula-mula bukan musik.

Melainkan debur ombak.

Beberapa detik kemudian, denting perkusi mengalun pelan, disusul langkah para penari yang bergerak tanpa sepatah kata. Malam itu, pembukaan Pesenggiri Festival 2026 memilih membuka dirinya bukan dengan pidato panjang, melainkan melalui tari-teater visual "Spice & Heritage"—sebuah pertunjukan yang mengajak penonton menelusuri kembali jejak Nusantara ketika Sumatra dikenal dunia sebagai Swarnadwipa, Pulau Emas yang menjadi simpul jalur rempah dan persinggahan berbagai bangsa.

Di atas panggung, tubuh para penari menjadi bahasa. Cahaya menjadi kalimat. Musik menjadi napas. Sementara laut di belakang panggung menjelma saksi bisu perjalanan panjang peradaban yang pernah menghubungkan Nusantara dengan dunia.

Pertunjukan itu tidak sedang mengisahkan rempah sebagai komoditas perdagangan semata. Ia justru mengajak penonton memahami bahwa di balik lada, pala, damar, dan kapur barus, tersimpan sejarah tentang manusia yang saling bertemu, bertukar pengetahuan, saling memengaruhi, lalu membangun peradaban bersama.

Empat babak disusun mengalir tanpa jeda. Dimulai dari pengenalan Swarnadwipa sebagai Pulau Emas yang termasyhur, berlanjut pada kejayaan jalur rempah, perjalanan pelayaran yang mempertemukan berbagai kebudayaan, hingga refleksi mengenai identitas bangsa dan pentingnya menjaga warisan budaya di tengah arus globalisasi.

Puncak pertunjukan ditandai dengan hadirnya falsafah Piil Pesenggiri, nilai luhur masyarakat Lampung yang menjunjung martabat, kehormatan, tanggung jawab, dan penghormatan kepada sesama. Nilai itu menjadi penegasan bahwa warisan terbesar Nusantara bukan hanya kekayaan alamnya, melainkan cara hidup yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Di balik kemegahan panggung tersebut berdiri sosok Mis Selphie Bong.

Ia bukan penari yang berada di bawah sorot lampu. Bukan pula pemusik yang memainkan irama. Namun dari tangannyalah keseluruhan gagasan itu lahir.

Sebagai penggagas, konseptor, sekaligus Pimpinan Produksi Pesenggiri Festival 2026, Mis Selphie Bong dikenal memiliki kepedulian besar terhadap pelestarian alam, kebudayaan, seni, satwa, dan kekayaan kuliner Nusantara. Baginya, seluruh unsur itu bukanlah bagian-bagian yang berdiri sendiri, melainkan satu ekosistem yang membentuk identitas sebuah peradaban.

Pandangan itulah yang diterjemahkannya ke dalam Pesenggiri Festival. Melestarikan budaya, menurutnya, tidak cukup hanya menjaga tarian atau musik tradisional. Budaya hidup di hutan yang tetap lestari, pada satwa yang terjaga habitatnya, di laut yang bersih, dalam cita rasa kuliner yang diwariskan turun-temurun, serta pada masyarakat yang terus memelihara nilai-nilai leluhur.

Karena itu, Pantai Hurun dipilih bukan semata karena panorama senjanya. Laut menjadi simbol jalur rempah, ruang perjumpaan antarbangsa, sekaligus pengingat bahwa peradaban Nusantara tumbuh dari keterbukaan terhadap dunia tanpa kehilangan jati dirinya.

Untuk mewujudkan gagasan tersebut, Mis Selphie Bong merangkul kolaborasi lintas disiplin, lintas daerah, bahkan lintas negara. Konsep artistik dipercayakan kepada Dibal Ranuh sebagai Artistic Director. Koreografi digarap Jasmine Okubo dari Jepang bersama Aditya Guna Eka Putra, menghadirkan dialog budaya melalui bahasa tubuh yang melampaui batas-batas geografis.

Lanskap musikal pertunjukan dibangun melalui kolaborasi sejumlah komposer dan musisi. Erwin Gutawa turut menjadi bagian dari tim pencipta musik bersama komponis asal Riau Epi Martison, Tommy Respati, serta para musisi pendukung lainnya. Komposisi yang mereka bangun tidak sekadar menjadi pengiring tari, melainkan menjelma narasi bunyi yang menghadirkan debur ombak, semilir angin, denyut pelabuhan, hingga semangat pelayaran yang pernah menghubungkan Nusantara dengan berbagai belahan dunia.

Cerita pertunjukan ditulis Wendra Wijaya, sementara keseluruhan produksi dikawal W.S. Wulandari sebagai Project Manager bersama Ananda Gayatri selaku Line Manager. Di atas panggung, puluhan mahasiswa Program Studi Pendidikan Seni Tari dan Pendidikan Seni Musik Universitas Lampung tampil bersama para seniman dari berbagai sanggar seni di Lampung. Mereka bukan sekadar pengisi acara, melainkan generasi yang sedang mewarisi sekaligus meneruskan ingatan kebudayaan.

Ketika adegan terakhir usai, tepuk tangan tidak langsung pecah. Ada beberapa detik keheningan. Seolah-olah para penonton masih enggan beranjak dari perjalanan panjang yang baru saja mereka lalui.

Barulah setelah itu, riuh tepuk tangan memenuhi Pantai Hurun.

Malam itu, yang dipentaskan bukan sekadar sebuah karya seni.

Yang dihidupkan kembali adalah ingatan tentang Nusantara—tentang sebuah negeri yang pernah dikenal dunia bukan hanya karena rempah-rempahnya, tetapi karena kemampuannya merawat keberagaman, menghormati alam, dan membangun peradaban melalui kebudayaan.

Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat, "Spice & Heritage" mengingatkan satu hal yang sederhana namun mendasar: sebuah bangsa tidak kehilangan masa depannya ketika sumber daya alamnya berkurang. Bangsa justru kehilangan arah ketika ia melupakan akar budayanya.

Dan di tepi Pantai Hurun malam itu, Lampung memilih menjaga akar itu—melalui seni, melalui alam, melalui sejarah, serta melalui tangan-tangan para pelaku budaya yang percaya bahwa peradaban hanya akan bertahan selama manusia tetap mencintai rumahnya sendiri.*(ald)






Tulis Komentar