Pesenggiri Festival 2026: Ketika Lampung Menjaga Martabat di Tengah Derasnya Arus Zaman
PESAWARAN (KilasRiau.com) – Ada daerah yang membangun masa depannya dengan beton, baja, dan gedung-gedung menjulang. Namun ada pula daerah yang memilih membangunnya dari ingatan, dari akar budaya, dari nilai-nilai yang diwariskan para leluhur. Lampung memilih jalan kedua.

Jumat, 3 Juli 2026, di tepian Teluk Lampung yang tenang, halaman Lampung Marriott Resort & Spa, Kabupaten Pesawaran, menjelma menjadi panggung kebudayaan. Bukan sekadar panggung pertunjukan, melainkan ruang tempat sejarah kembali bernapas, tempat tradisi bertemu masa depan, dan tempat identitas sebuah daerah dipertaruhkan di hadapan zaman.
Pesenggiri Festival 2026 resmi dibuka.
Namun sesungguhnya yang dibuka hari itu bukan hanya sebuah festival.
Yang dibuka adalah lembar demi lembar memori kolektif tentang Lampung; tentang tanah yang sejak berabad-abad silam dikenal sebagai gerbang Sumatra, simpul jalur rempah dunia, sekaligus rumah bagi falsafah hidup yang menjaga kehormatan manusia: Pi'il Pesenggiri.
Mengusung tema "Spice, Heritage and Harmony", festival ini menjadi lebih dari sekadar agenda pariwisata. Ia adalah pernyataan bahwa di tengah dunia yang semakin seragam oleh teknologi dan globalisasi, budaya tidak boleh menjadi korban kemajuan. Justru budaya harus berdiri di barisan paling depan sebagai penunjuk arah peradaban.
Wakil Menteri Kebudayaan RI Giring Ganesha bersama Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela membuka festival yang dihadiri budayawan, seniman, akademisi, pelaku ekonomi kreatif, hingga masyarakat dari berbagai daerah. Kehadiran mereka seolah menegaskan satu hal: kebudayaan bukan milik masa lalu, melainkan fondasi masa depan Indonesia.
Di atas panggung, hentakan tabuhan tradisional berpadu dengan denting musik modern. Para penari bergerak lincah, bukan sekadar menampilkan koreografi, melainkan sedang mengisahkan perjalanan panjang sebuah masyarakat yang memilih menjaga jati dirinya meski dunia terus berubah.
Setiap gerakan adalah bahasa.
Setiap kain yang dikenakan adalah sejarah.
Setiap tabuhan adalah denyut nadi Lampung yang tak pernah berhenti berdetak.
Aroma kopi dan rempah memenuhi ruang festival, mengingatkan bahwa dari tanah inilah dahulu kapal-kapal asing berlayar, mengejar lada yang nilainya pernah setara emas. Lampung pernah menjadi halaman depan Nusantara dalam perdagangan dunia. Kini, melalui Pesenggiri Festival, kejayaan itu dihadirkan kembali—bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak kehilangan ingatannya.
Wakil Gubernur Lampung Jihan Nurlela menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga tarian atau pakaian adat. Lebih jauh, budaya harus menjadi energi pembangunan yang menggerakkan pariwisata, ekonomi kreatif, sekaligus memperkuat karakter masyarakat di tengah derasnya arus globalisasi.
Di situlah makna Pi'il Pesenggiri menemukan relevansinya.
Ia bukan sekadar istilah adat.
Ia adalah etika.
Ia adalah kehormatan.
Ia adalah kompas moral yang mengajarkan bahwa kemajuan harus berjalan berdampingan dengan harga diri, gotong royong, keramahan, dan penghormatan kepada sesama.
Festival ini pun tidak berhenti pada pertunjukan seni. Ratusan pelaku UMKM, perajin, desainer, pembuat kain tradisional, hingga pelaku kuliner lokal diberi ruang untuk memperlihatkan bahwa kebudayaan juga memiliki nilai ekonomi. Tradisi tidak hanya diwariskan, tetapi juga mampu menghidupi masyarakatnya.
Pesenggiri Festival menjadi contoh bagaimana kebudayaan dapat menjadi kekuatan pembangunan yang nyata—menggerakkan pariwisata, membuka lapangan usaha, sekaligus memperkenalkan identitas Lampung kepada dunia.
Di tengah hiruk-pikuk zaman yang sering mengukur kemajuan dengan angka-angka ekonomi, Lampung memilih mengingatkan bahwa ada ukuran lain yang jauh lebih penting: martabat.
Karena bangsa tidak kehilangan masa depannya ketika kehilangan gedung-gedung megah.
Bangsa kehilangan masa depannya ketika kehilangan budayanya.
Maka ketika malam turun menyelimuti Teluk Lampung dan cahaya panggung masih memantulkan siluet para penari, sesungguhnya yang sedang dipentaskan bukan sekadar seni.
Yang sedang dipertontonkan adalah keteguhan sebuah daerah menjaga akar, merawat kehormatan, dan menitipkan pesan kepada Indonesia:
Peradaban tidak dibangun hanya oleh kecanggihan teknologi, tetapi oleh manusia yang tetap mengenal asal-usulnya. Sebab budaya bukan bayang-bayang masa lalu. Budaya adalah cahaya yang menuntun masa depan.*(ald)

Tulis Komentar