Isi Paket MBG Saat Ramadan di Inhil Disorot, Warga Pertanyakan Kualitas dan Transparansi Anggaran
Kilasriau.com – Pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) pada bulan suci Ramadan menuai sorotan keras dari masyarakat.
Sejumlah penerima manfaat menilai isi paket yang dibagikan jauh dari harapan dan tidak mencerminkan standar pemenuhan gizi sebagaimana tujuan awal program tersebut.
Kekecewaan mencuat setelah warga melihat langsung isi paket MBG yang diterima. Berdasarkan keterangan yang dihimpun media ini, satu paket disebut hanya berisi dua keping roti, empat butir telur puyuh, satu buah salak, satu buah jeruk, serta tiga butir kurma. Seluruhnya dikemas dalam plastik sederhana.
- Dr. Tika: Sulit Maju dan Ada Apa?
- Kapolres Inhil Pimpin Upacara Kedinasan Pemakaman AKP Cardi Edi Haryanto Berlangsung Khidmat di Pekanbaru
- Dukung Gerakan Indonesia Asri, Wabup Inhil Ajak Jaga Lingkungan Sekitar
- SMSI Buka HPN 2026 dari Tanah Sejarah Banten, Ratusan Pemilik Media Ikuti Ekspedisi Banten Lama
- HMI Inhil Peringati Milad ke-79, Kapolres Inhil AKBP Farouk Oktora, Gaungkan Konsep Green Policing
“Cukup sedih melihat isi paket seperti ini, apalagi di bulan puasa. Harapannya bisa lebih baik dan lebih layak,” ujar salah seorang penerima manfaat berinisial Y kepada media ini, Minggu (23/2/26).
Menurut Y, sebagai program yang digagas untuk membantu pemenuhan gizi anak-anak sekolah, terutama di tengah Ramadan, paket yang diterima dinilai belum memenuhi unsur makanan bergizi dan seimbang.
Ia menilai, kuantitas dan kualitas isi paket tidak sebanding dengan ekspektasi masyarakat terhadap program yang menggunakan anggaran negara tersebut.
Di tengah Ramadan yang seharusnya menjadi momentum peningkatan perhatian terhadap kebutuhan gizi, khususnya bagi anak-anak sebagai sasaran utama program MBG, isi paket tersebut dinilai tidak mencerminkan semangat peningkatan asupan gizi yang layak.
“Kalau memang ini program makan bergizi, tentu masyarakat berharap isinya mencukupi kebutuhan nutrisi, bukan sekadar simbolis,” tambahnya.
Sorotan publik tidak hanya berhenti pada isi paket. Sejumlah pihak di masyarakat mulai mempertanyakan pengelolaan anggaran program MBG di Inhil, khususnya selama bulan Ramadan. Muncul dugaan bahwa dana yang dialokasikan tidak dikelola secara maksimal sehingga berdampak pada kualitas paket yang diterima.
“Kalau anggarannya sesuai standar dari pusat, mestinya kualitas makanan juga sesuai. Ini yang perlu dijelaskan secara terbuka,” kata seorang warga lainnya yang enggan disebutkan namanya.
Dugaan penyimpangan anggaran pun mulai diperbincangkan di tengah masyarakat, meski hingga kini belum ada klarifikasi resmi dari pihak dapur MBG maupun instansi terkait di lingkungan Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir.
Warga menilai, keterbukaan informasi menjadi kunci untuk meredam berbagai spekulasi yang berkembang. Masyarakat mendesak agar instansi terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program MBG di Inhil.
Audit terbuka terhadap besaran anggaran, mekanisme pengadaan bahan makanan, hingga proses distribusi dinilai penting guna memastikan program berjalan sesuai tujuan dan tidak menyimpang dari ketentuan.
“Ramadan ini momen penting, terutama bagi anak-anak yang tetap membutuhkan asupan gizi. Kami hanya ingin program ini benar-benar dijalankan dengan baik dan transparan,” tegas warga.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak penyelenggara MBG di Inhil terkait keluhan masyarakat maupun dugaan yang berkembang.
Publik kini menanti klarifikasi terbuka serta langkah konkret untuk memastikan program Makan Bergizi Gratis benar-benar memberikan manfaat optimal dan tidak mencederai kepercayaan masyarakat Kabupaten Indragiri Hilir.**


Tulis Komentar