Antara Seniman dan Senewen Menurut D'rock

foto: D'rock (memakai baju hijau)/ist. (doc. Kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - "Antara Seniman dan Senewen itu beda tipis". Hal itu disampaikan Zul Achyar—yang akrab disapa Mojodrock atau D’rock—di D’teras Coffee pada Sabtu malam, 21 Februari 2026. Malam itu, suasana kedai kopi tak sekadar dipenuhi aroma robusta dan obrolan ringan, tetapi juga percakapan reflektif yang mengendap lama di kepala siapa pun yang mendengarnya.

Menurut Zul Achyar, jarak antara seniman dan senewen sejatinya sangat tipis. Keduanya sama-sama berangkat dari kegelisahan, dari rasa tak nyaman melihat realitas yang timpang, dari luka batin yang sering kali tak punya ruang aman untuk diceritakan. Namun, yang membedakan bukan seberapa dalam luka itu, melainkan bagaimana seseorang memperlakukannya.
Ia menyebut, seniman adalah mereka yang mau bertanggung jawab atas kegelisahannya. Resah tidak dibiarkan liar, marah tidak dilepas begitu saja. Semua diolah, direnungkan, lalu disalurkan melalui karya—entah itu tulisan, musik, lukisan, atau bentuk ekspresi lain. Proses itu, kata Mojodrock, bukan proses instan. Ia membutuhkan kesabaran, kejujuran, dan keberanian untuk berhadapan dengan diri sendiri.

Berbeda dengan senewen. Dalam pandangannya, senewen adalah kegelisahan yang kehilangan arah. Ia muncul dalam bentuk reaksi spontan, kemarahan yang meledak tanpa tujuan, dan suara keras yang sebenarnya tak membawa makna. Senewen bukan soal kurang pintar atau miskin pengalaman, melainkan ketidakmauan untuk berhenti sejenak dan berpikir jernih. Semuanya serba cepat, serba ingin didengar, tapi jarang mau memahami.

D'rock menyoroti bagaimana hari ini dunia justru lebih ramah pada yang senewen. Media sosial memberi panggung luas bagi kegaduhan. Siapa yang paling keras sering dianggap paling berani. Siapa yang paling emosional kerap dipersepsikan paling peduli. Dalam iklim seperti itu, seniman sering tersingkir, bahkan dicurigai. Diamnya dianggap tidak peduli, kehati-hatiannya dinilai sebagai sikap abu-abu.

Padahal, lanjutnya, diam bagi seniman adalah bagian dari kerja. Di sanalah ia menimbang kata, menakar sikap, dan memastikan bahwa yang keluar bukan sekadar luapan emosi, melainkan pesan yang bertanggung jawab. Seniman tidak sedang mencari sensasi atau tepuk tangan. Ia sedang menjaga kewarasan—dirinya dan, bila mungkin, orang lain.

Di sudut meja D’teras Coffee malam itu, D'rock juga menekankan bahwa seniman selalu punya tujuan. Sekalipun karyanya getir, gelap, bahkan menyakitkan, selalu ada niat menyadarkan dan menyembuhkan. Senewen tidak mengenal tujuan itu. Ia hanya berputar pada reaksi, mengulang kemarahan yang sama, dan sering kali meninggalkan luka baru tanpa solusi. “Seniman itu bukan orang paling ribut,” kira-kira demikian benang merah pemikirannya malam itu, “tapi orang yang paling lama berusaha tetap waras.” Ia memilih bekerja dalam sunyi, konsisten pada proses, dan membiarkan waktu yang menguji kejujuran karyanya.

Menutup perbincangan, D'rock menegaskan bahwa setiap orang sebenarnya berada di persimpangan yang sama: memilih menjadi seniman atau terjebak menjadi senewen.

Pilihan itu hadir setiap hari—saat kita memutuskan untuk berpikir sebelum bereaksi, memahami sebelum menghakimi, dan mengolah luka menjadi makna, bukan menjadikannya senjata.

Di tengah riuh malam dan cangkir kopi yang mulai dingin, pesan itu terasa hangat: menjadi seniman bukan soal profesi atau pengakuan, melainkan sikap batin. Tentang keberanian menjaga kejernihan di tengah kebisingan, dan tentang tanggung jawab moral untuk tidak menambah keruh dunia yang sudah cukup gaduh.*(ald)






Tulis Komentar