Isra Mi’raj di Masjid Al Hidayah Pulau Aro: Ketika Langit Menyapa Hati Manusia

foto: istimewa (doc. kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) - Di bawah kubah Masjid Al Hidayah, Desa Pulau Aro, lantunan ayat suci dan untaian doa mengalir perlahan, menenangkan batin jamaah yang hadir. Malam peringatan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW itu bukan sekadar agenda keagamaan, melainkan perjalanan sunyi menelusuri kembali makna iman, kepatuhan, dan tanggung jawab manusia sebagai hamba. Jum\'at (16/01/2026).

Masjid yang sederhana itu seakan menjadi saksi, bahwa peristiwa agung perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa, hingga menembus Sidratul Muntaha, masih hidup dan berdenyut dalam kesadaran umat hari ini.

Hadir sebagai penceramah, Ustad Dr. Roni Putra, MA, mengajak jamaah menundukkan hati dan menegakkan kesadaran. Dalam tausiyahnya, ia menegaskan bahwa Isra Mi’raj adalah tonggak lahirnya perintah salat—ibadah yang menjadi penghubung paling jujur antara manusia dan Sang Pencipta.

“Isra Mi’raj mengajarkan kita tentang ketaatan tanpa syarat. Salat bukan sekadar rutinitas, melainkan dialog batin, tempat manusia belajar jujur pada dirinya sendiri dan pada Allah SWT,” tutur Ustad Roni Putra dengan nada menyejukkan.

Peringatan tersebut turut dihadiri Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si, Kepala Desa Pulau Aro, Herlianto, perangkat desa, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta anggota dan tokoh masyarakat.

Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa pembangunan tidak hanya bertumpu pada fisik, tetapi juga pada nilai-nilai ruhani.

Dalam sambutannya, Camat Kuantan Tengah Eka Putra menekankan pentingnya menjadikan Isra Mi’raj sebagai pengingat moral dalam kehidupan sosial dan pemerintahan.

“Isra Mi’raj mengajarkan kita kedisiplinan, kejujuran, dan tanggung jawab. Nilai-nilai inilah yang seharusnya menjadi napas dalam melayani masyarakat, baik sebagai pemimpin maupun sebagai warga,” ujar Eka Putra.

Sementara itu, Kepala Desa Pulau Aro, Herlianto, mengajak masyarakat untuk menjadikan momentum Isra Mi’raj sebagai sarana mempererat kebersamaan dan menjaga harmoni desa.

“Desa akan kuat jika warganya memiliki iman yang kuat. Melalui peringatan Isra Mi’raj ini, kita berharap tumbuh kesadaran bersama untuk menjaga persatuan, saling menghormati, dan memperbaiki diri,” ungkap Herlianto.

Ketua Masjid Al Hidayah, Ust. Darmawan, menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas kehadiran seluruh jamaah serta dukungan semua pihak yang telah menyukseskan kegiatan tersebut.

“Semoga apa yang kita dengar malam ini tidak berhenti di telinga, tetapi turun ke hati dan tercermin dalam perilaku sehari-hari,” ujarnya singkat namun sarat makna.

Malam pun kian larut. Namun, pesan Isra Mi’raj tetap tinggal—menjadi cahaya kecil yang diharapkan mampu menerangi langkah umat dalam kehidupan nyata. Dari Masjid Al Hidayah Pulau Aro, langit kembali menitipkan pesan suci: bahwa iman harus dijaga, salat harus ditegakkan, dan akhlak harus dihidupkan dalam setiap peran kehidupan.*(ald)






Tulis Komentar