Antara Resepsi dan Prestasi: Arah Pengelolaan GOR Tualang Disorot Publik
Siak, Kilasriau.com – Keberadaan Gedung Olahraga (GOR) di Tualang, Kabupaten Siak, Riau kembali menjadi sorotan publik. Meski fasilitas fisik telah tersedia, pemanfaatannya untuk pengembangan olahraga, khususnya futsal, dinilai belum berpihak pada minat, bakat, dan potensi generasi muda.
Sejumlah komunitas dan atlet mengeluhkan sulitnya menggunakan GOR untuk kegiatan latihan maupun turnamen futsal. Gedung tersebut justru lebih sering digunakan untuk berbagai kegiatan non-olahraga, sehingga fungsi utamanya sebagai pusat pembinaan atlet dinilai terabaikan.
Salah seorang warga Tualang, Herianto Sihombing, menegaskan bahwa persoalan utama bukan terletak pada ketiadaan fasilitas, melainkan pada lemahnya keberpihakan pengelolaan.
“Fasilitasnya ada, tapi tidak berpihak. GOR berdiri, tapi futsal seperti tidak punya rumah sendiri,” ujar Herianto, Jumat (20/2/2026).
Ia juga menyoroti minimnya ruang bagi atlet untuk berkembang secara maksimal.
Menurutnya, tanpa akses latihan dan kompetisi yang memadai, potensi anak-anak muda akan sulit tumbuh menjadi prestasi.
“Anak-anak berjuang dengan keterbatasan waktu dan tempat. GOR jarang benar-benar difokuskan untuk pembinaan futsal,” katanya.
Herianto menambahkan, tanpa komitmen yang jelas, fasilitas hanya akan menjadi bangunan kosong tanpa prestasi.
“Kalau tidak ada keseriusan, gedung hanya jadi simbol. Prestasi tidak lahir dari bangunan, tapi dari keberpihakan,” tegasnya.
Padahal, potensi atlet futsal di Tualang sudah terbukti. Tim futsal putri SMAN 2 Tualang berhasil meraih posisi runner-up dalam ajang Student Premier League, menunjukkan bahwa talenta lokal mampu bersaing di tingkat lebih tinggi.
Namun, prestasi tersebut diraih lebih karena kerja keras dan disiplin, bukan karena dukungan fasilitas yang maksimal.
Keluhan serupa juga disampaikan oleh Herman Boemel, yang mengaku pernah mengalami langsung sulitnya memanfaatkan GOR untuk kegiatan futsal.

“Kami dulu di SMAN 3 Tualang juga pernah ingin menyewa GOR untuk turnamen futsal tingkat SMA se-Kabupaten Siak. Tapi tidak diberi izin. Alasannya karena takut layar LED kena bola dan rusak. Padahal bisa dipasang jaring, tapi tetap tidak bisa,” ungkapnya.
Ia bahkan menyindir bahwa fungsi GOR kini mulai bergeser dari tujuan awalnya.
Gedung yang seharusnya menjadi pusat pembinaan atlet, justru lebih sering dipakai untuk kegiatan non-olahraga.
“Mungkin sekarang GOR bukan lagi gedung olahraga, tapi sudah jadi gedung orang resepsi,” tambahnya.
Pernyataan tersebut mendapat sautan dari Dedeekk, warga Tualang, yang menilai kondisi itu sudah berlangsung sejak lama.
“Dari dulu kan GOR memang lebih sering dipakai buat resepsi dan acara-acara artis datang,” sautnya.
Keluhan masyarakat juga diperkuat oleh Beni Putra, yang membandingkan kondisi fasilitas futsal di Tualang dengan daerah lain.
“Di Gelanggang Remaja Pekanbaru saja, hampir setiap bulan selalu ada turnamen futsal. Fasilitasnya dimanfaatkan maksimal untuk pembinaan atlet. Tualang seharusnya bisa belajar dari sana,” ucapnya.
Menurut Beni, perbedaan pengelolaan fasilitas menjadi salah satu faktor utama berkembang atau tidaknya olahraga di suatu daerah. Tanpa komitmen dan keberpihakan, potensi atlet lokal akan sulit berkembang secara optimal.
Masyarakat berharap pemerintah daerah segera melakukan evaluasi terhadap pengelolaan GOR, agar fasilitas yang ada benar-benar difungsikan sesuai peruntukannya sebagai pusat pembinaan olahraga.
Anak-anak Tualang telah membuktikan bahwa mereka mampu bersaing. Kini, publik menunggu langkah nyata pemerintah untuk membuktikan keberpihakannya terhadap masa depan olahraga daerah.


Tulis Komentar