Ramadhan sebagai Madrasah Kehidupan: Khutbah Jumat Ustadz Tude Priagus Ajak Jamaah Sambut Bulan Suci dengan Kesadaran Spiritual dan Sosial
KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) – Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam diingatkan untuk tidak hanya mempersiapkan diri secara fisik, tetapi juga secara spiritual dan moral. Ramadhan bukan sekadar ritual tahunan, melainkan momentum besar untuk melakukan perbaikan diri secara menyeluruh. Hal inilah yang ditekankan oleh Ustadz Tude Priagus dalam khutbah Jumatnya di Masjid Ruhul Jadid, Garunggang Cunduang, Dusun Tobek Panjang, Desa Koto Taluk, Kecamatan Kuantan Tengah, Kabupaten Kuantan Singingi, Provinsi Riau, Jumat, 3 Ramadhan 1447 H (20/2/2026).
Dalam khutbah yang disampaikan dengan bahasa sederhana namun sarat makna itu, Ustadz Tude Priagus menguraikan bahwa Ramadhan adalah bulan penuh rahmat, ampunan, dan keberkahan. Bulan di mana Allah SWT membuka pintu-pintu kebaikan seluas-luasnya, melipatgandakan pahala amal, serta memberikan kesempatan besar bagi hamba-Nya untuk kembali kepada jalan yang lurus.
“Ramadhan adalah bulan pendidikan. Ia mendidik jiwa agar lebih sabar, mendidik hati agar lebih ikhlas, dan mendidik akhlak agar lebih mulia,” ujar Ustadz Tude di hadapan jamaah yang memadati masjid.
Menurutnya, puasa tidak boleh dipahami secara sempit sebagai aktivitas menahan lapar dan dahaga semata. Lebih dari itu, puasa adalah latihan pengendalian diri—mengendalikan hawa nafsu, emosi, serta perilaku yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Jika puasa hanya menghasilkan rasa lapar tanpa perubahan sikap, maka esensi ibadah tersebut belum sepenuhnya tercapai.
Ustadz Tude menekankan bahwa Ramadhan sejatinya adalah madrasah kehidupan. Di bulan inilah umat Islam diajak untuk lebih jujur, lebih disiplin, dan lebih peduli. Rasa lapar yang dirasakan saat berpuasa, kata dia, seharusnya menumbuhkan empati terhadap saudara-saudara yang selama hidupnya bergelut dengan kekurangan.
“Puasa mengajarkan kita merasakan apa yang dirasakan oleh orang miskin. Dari situlah lahir kepedulian, keinginan untuk berbagi, dan semangat untuk saling menolong,” tuturnya.
Ia juga mengingatkan agar Ramadhan tidak terjebak dalam simbolisme semata. Menurutnya, semarak Ramadhan tidak cukup hanya diukur dari ramainya masjid saat tarawih atau melimpahnya hidangan berbuka, tetapi dari sejauh mana nilai-nilai Ramadhan membekas dalam perilaku sehari-hari.
Dalam khutbahnya, Ustadz Tude Priagus mengajak jamaah untuk memperbanyak amal ibadah, seperti membaca Al-Qur’an, memperbanyak dzikir, sedekah, serta menjaga shalat berjamaah. Namun, ia juga menegaskan pentingnya menjaga lisan dan perbuatan.
“Banyak orang berpuasa, tetapi lisannya masih menyakiti orang lain. Banyak yang menahan lapar, tetapi tangannya masih merugikan sesama. Puasa seperti ini hanya menghasilkan lapar dan haus, tidak menghasilkan ketakwaan,” tegasnya.
Ia menambahkan bahwa Ramadhan adalah bulan evaluasi diri. Setiap Muslim diajak untuk bercermin, menilai kembali perjalanan hidupnya, serta berani mengakui kekurangan dan kesalahan yang telah lalu. Dari evaluasi itulah, kata dia, lahir tekad untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
Suasana khutbah Jumat tersebut berlangsung khidmat. Jamaah tampak menyimak dengan penuh perhatian, mencerminkan antusiasme dan kesiapan masyarakat Dusun Tobek Panjang dalam menyambut bulan suci Ramadhan. Bagi sebagian jamaah, pesan-pesan yang disampaikan menjadi pengingat sekaligus suntikan semangat untuk memperbaiki kualitas ibadah dan kehidupan sosial.
Menutup khutbahnya, Ustadz Tude Priagus berharap Ramadhan tahun ini tidak berlalu begitu saja tanpa makna. Ia mengajak seluruh jamaah untuk menjadikan Ramadhan sebagai titik balik perubahan, bukan hanya selama sebulan penuh, tetapi berlanjut dalam kehidupan setelahnya.
“Orang yang sukses dalam Ramadhan adalah mereka yang keluar dari bulan suci ini dengan akhlak yang lebih baik, iman yang lebih kuat, dan kepedulian sosial yang lebih tinggi,” pungkasnya.
Dengan pesan tersebut, khutbah Jumat di Masjid Ruhul Jadid menjadi pengantar spiritual bagi umat Islam di Kuantan Tengah untuk menyambut Ramadhan dengan kesadaran penuh—bahwa Ramadhan bukan sekadar datang dan pergi, melainkan hadir untuk membentuk manusia yang lebih bertakwa, berakhlak, dan bermanfaat bagi sesama.*(ald)


Tulis Komentar