Sebelum Api Menjadi Berita, Mabes TNI Ajak Media Kuansing Membangun Kesadaran Publik tentang Karhutla

foto: istimewa (doc. kilasriau.com)

KUANTAN SINGINGI, RIAU (KilasRiau.com) — Ada ironi dalam setiap kebakaran hutan dan lahan. Ketika api telah membesar, semua orang bergerak. Ketika asap telah mengganggu kehidupan warga, semua pihak berbicara. Tetapi pencegahan—pekerjaan yang justru paling menentukan—sering berlangsung dalam senyap.

Karena itu, melawan kebakaran hutan dan lahan atau Karhutla sesungguhnya bukan semata perkara memadamkan api. Ia adalah pekerjaan membangun kesadaran jauh sebelum api muncul.

Gagasan tersebut mengemuka dalam pertemuan Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI yang dikomandoi Kolonel Kes Endro Utomo dan Kolonel Inf Nur Ahmad bersama sejumlah insan pers serta penggiat media sosial di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau. Sabtu (5/9/2026).

Di sela padatnya agenda penyuluhan pencegahan Karhutla di sejumlah wilayah Kuansing, tim menyempatkan diri berdialog dengan insan media dalam suasana santai di salah satu kedai kopi.

Pertemuan itu memang berlangsung tanpa podium dan protokoler yang kaku. Namun pembicaraannya menyentuh persoalan yang jauh lebih substansial: bagaimana membangun kesadaran publik agar pencegahan Karhutla tidak berhenti sebagai slogan.

Karhutla sering kali baru mendapatkan perhatian ketika api sudah terlihat.

Padahal, api bukanlah titik awal persoalan.

Di belakang sebuah kebakaran dapat terdapat berbagai faktor: perilaku manusia, aktivitas pembukaan lahan, kondisi vegetasi, cuaca, lemahnya pengawasan, keterlambatan informasi hingga persoalan koordinasi.

Karena itu, pendekatan yang hanya mengandalkan pemadaman pada saat kebakaran terjadi pada dasarnya merupakan respons terhadap akibat.

Pencegahan membutuhkan sesuatu yang berbeda.

Ia membutuhkan kesadaran, informasi, pengawasan dan partisipasi masyarakat.

Dalam kerangka itulah keberadaan media menjadi penting.

Media bukan hanya mencatat berapa hektare lahan yang terbakar atau berapa personel yang dikerahkan untuk memadamkan api. Media juga dapat memainkan fungsi yang lebih awal: membangun kesadaran sebelum bencana terjadi.

Kolonel Kes Endro Utomo menyampaikan bahwa pencegahan Karhutla tidak mungkin dibebankan kepada satu institusi.

TNI, pemerintah daerah, kepolisian, dunia usaha dan masyarakat memiliki ruang tanggung jawab masing-masing.

Termasuk media.

Menurutnya, pemberitaan dan konten edukatif yang positif dapat membantu menyampaikan pesan-pesan pencegahan kepada masyarakat secara lebih luas dan cepat.

Pernyataan itu menempatkan media dalam posisi yang menarik.

Pers tidak harus menunggu kebakaran terjadi untuk memberitakannya.

Justru dalam isu kebencanaan, media memiliki kesempatan untuk bekerja lebih awal: menjelaskan risiko, mengingatkan masyarakat, mengangkat persoalan di lapangan dan memperluas informasi mengenai langkah pencegahan.

Media sosial bahkan memiliki karakter yang lebih cepat.

Satu informasi dapat menyebar ke berbagai wilayah dalam waktu singkat. Karena itu, ruang digital bukan sekadar arena distribusi berita, melainkan juga ruang pendidikan publik.

Tetapi kecepatan membawa konsekuensi.

Informasi mengenai Karhutla harus tetap akurat, terverifikasi dan tidak menimbulkan kepanikan.

Di tengah derasnya arus informasi digital, kesalahan informasi dapat sama berbahayanya dengan keterlambatan informasi.

Pertemuan antara Tim Penyuluh Mabes TNI dengan insan media Kuansing pada akhirnya memperlihatkan satu hal penting: perang melawan Karhutla tidak hanya berlangsung di tengah hutan dan lahan.

Ia juga berlangsung di ruang publik.

Ketika seorang wartawan menulis tentang bahaya membuka lahan dengan cara membakar, ketika seorang kreator membuat video edukasi tentang pencegahan kebakaran, atau ketika sebuah media mengingatkan masyarakat agar segera melaporkan titik api, sesungguhnya sedang berlangsung bagian dari upaya mitigasi.

Sebab perubahan perilaku masyarakat tidak selalu lahir dari instruksi.

Sering kali ia tumbuh dari informasi yang terus-menerus disampaikan, dipahami, kemudian menjadi kesadaran.

Di sinilah media memiliki kekuatan yang tidak dimiliki oleh armada pemadam.

Armada dapat mengejar api. Informasi dapat mengejar kesadaran.

Kuansing bukan satu-satunya daerah yang menghadapi ancaman Karhutla. Pemerintah daerah sebelumnya juga telah memperkuat koordinasi dengan TNI, Polri dan pemangku kepentingan lainnya untuk menghadapi potensi kebakaran selama periode rawan.

Kehadiran Tim Penyuluh Mabes TNI kemudian memperkuat pendekatan tersebut melalui edukasi langsung dan pemetaan wilayah rawan.

Rangkaian penyuluhan telah menyasar sejumlah kecamatan di Kuansing, termasuk Hulu Kuantan, Gunung Toar dan Pucuk Rantau.

Namun penyuluhan akan kehilangan daya apabila pesan yang disampaikan hanya berhenti di ruang pertemuan.

Pesan harus bergerak.

Dari aula ke desa.

Dari desa ke keluarga.

Dari keluarga ke ruang digital.

Dan dari ruang digital kembali menjadi kesadaran masyarakat.

Itulah sebabnya keterlibatan media menjadi penting.

Pertemuan santai antara Tim Penyuluh Mabes TNI dengan insan pers dan penggiat media sosial tersebut sekaligus menjadi ruang komunikasi sosial untuk mempererat silaturahmi.

Namun nilai terpentingnya bukan pada tempat pertemuan.

Bukan pula pada suasana santainya.

Nilainya terletak pada gagasan bahwa pencegahan membutuhkan jaringan komunikasi yang luas.

TNI memiliki jaringan kewilayahan.

Pemerintah memiliki perangkat kebijakan.

BPBD memiliki fungsi kebencanaan.

Polri memiliki fungsi penegakan hukum dan keamanan.

Masyarakat berada paling dekat dengan lingkungan.

Sementara media memiliki kemampuan untuk menghubungkan semuanya dengan publik.

Jika seluruh unsur tersebut berjalan bersama, pencegahan memiliki peluang menjadi lebih kuat.

Sebaliknya, apabila setiap institusi bergerak sendiri, persoalan yang sama berpotensi terus berulang.

Karena itu, dialog tersebut seharusnya tidak berhenti sebagai agenda silaturahmi.

Ia perlu diterjemahkan menjadi kolaborasi nyata.

Pemberitaan yang edukatif.

Informasi yang cepat dan terverifikasi.

Pelaporan titik rawan.

Edukasi masyarakat.

Serta keberanian untuk terus mengingatkan publik bahwa Karhutla bukan persoalan musiman yang dapat dianggap biasa.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan penanggulangan Karhutla bukan semata seberapa cepat api dipadamkan.

Ukuran yang lebih penting adalah seberapa jauh api dapat dicegah sebelum muncul.

Di sanalah seluruh elemen diuji.

Termasuk media.

Sebab ketika kebakaran sudah menjadi headline, sesungguhnya ada satu pertanyaan yang jauh lebih penting:

Mengapa api sampai terjadi?

Pertanyaan itu menggeser perhatian dari sekadar mengejar akibat menuju mencari akar persoalan.

Dan dari sanalah pencegahan seharusnya dimulai.

Tim Penyuluh Karhutla Mabes TNI bersama insan pers dan penggiat media sosial Kuansing telah membuka ruang dialog tersebut.

Kini tantangannya adalah memastikan percakapan tidak berhenti sebagai percakapan.

Sebab dalam perang melawan Karhutla, kemenangan sejati bukan ketika api berhasil dipadamkan, melainkan ketika kesadaran berhasil dibangun sebelum api sempat berkobar.*(ald)






Tulis Komentar