Pacu Jalur KEN 2026 Usai, Camat Kuantan Tengah: Terima Kasih, Semuanya Telah Bertungkus Lumus Menjaga Marwah Tradisi

foto: istimewa (doc. kilasriau.com)

 

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Gemuruh Tepian Narosa perlahan mereda. Sungai Kuantan yang selama beberapa hari menjadi arena pertarungan jalur-jalur terbaik kembali mengalir dalam kesunyian. Namun, jejak perjuangan para anak pacuan, kerja keras panitia, serta semangat masyarakat yang menghidupkan Pacu Jalur Event Nasional (KEN) 2026 belum benar-benar selesai dari ingatan. Ahad (23/8/2026).

Di tengah berakhirnya perhelatan tersebut, Camat Kuantan Tengah Eka Putra, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja keras menyukseskan rangkaian Pacu Jalur KEN 2026.

Bagi Eka, kesuksesan sebuah event sebesar Pacu Jalur tidak pernah berdiri di atas kerja satu pihak. Ada tangan-tangan yang bekerja ketika sebagian orang masih tidur, ada mereka yang berjaga ketika keramaian mulai surut, dan ada para anak pacuan yang menghabiskan tenaga demi membawa nama kampungnya ke Tepian Narosa.

“Atas nama Pemerintah Kecamatan Kuantan Tengah, kami menyampaikan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh panitia pelaksana dan seluruh peserta jalur yang telah berjibaku, bertungkus lumus, bekerja keras dan memberikan yang terbaik untuk menyukseskan Pacu Jalur Event Nasional 2026,” ujar Eka Putra.

Menurutnya, perjuangan peserta tidak berhenti pada soal menang atau kalah.

Setiap jalur yang turun ke arena membawa sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar ambisi meraih juara. Mereka membawa nama nagori, desa, keluarga dan masyarakat yang berada di belakangnya.

Di atas jalur, puluhan anak pacuan dipaksa menanggalkan kepentingan pribadi. Mereka harus duduk dalam satu barisan, mengayunkan dayung dalam satu irama dan menundukkan ego demi satu tujuan.

Satu orang kehilangan irama, seluruh jalur bisa kehilangan kecepatan.

“Menang dan kalah merupakan bagian dari sebuah pertandingan. Yang paling penting adalah semangat kebersamaan, sportivitas dan bagaimana kita bersama-sama menjaga marwah Pacu Jalur sebagai tradisi dan identitas masyarakat Kuantan Singingi,” katanya.

Eka menilai Pacu Jalur tidak pantas dipandang hanya sebagai perlombaan di atas sungai.

Di dalamnya terdapat nilai gotong royong, kebersamaan, disiplin, keberanian dan rasa memiliki terhadap kampung halaman.

Karena itu, ia memberikan penghargaan kepada seluruh anak pacuan yang telah mengeluarkan kemampuan terbaik selama pertandingan.

“Selamat kepada jalur-jalur yang berhasil meraih prestasi. Kepada yang belum berhasil, jangan berkecil hati. Kalian semua telah memberikan perjuangan terbaik dan telah menjadi bagian penting dari perhelatan ini,” ujarnya.

Pertarungan di Tepian Narosa selama beberapa hari memperlihatkan bahwa Pacu Jalur tetap memiliki daya magnet yang kuat. Dari tepian sungai hingga ruas-ruas jalan di sekitar arena, denyut kehidupan masyarakat seolah bergerak mengikuti irama dayung.

Namun di balik kemeriahan itu, terdapat kerja panjang yang tidak selalu terlihat kamera.

Panitia harus memastikan pertandingan berjalan, peserta terlayani, arena siap, keamanan terjaga, serta berbagai kebutuhan selama event berlangsung dapat ditangani.

Masyarakat pun ikut mengambil bagian. Pedagang menghidupkan roda ekonomi, relawan membantu berbagai kebutuhan, sementara aparat dan petugas bekerja menjaga ketertiban.

“Terima kasih kepada seluruh masyarakat Kuantan Tengah dan masyarakat Kuantan Singingi yang telah memberikan dukungan. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bekerja tanpa mengenal lelah,” kata Eka.

Bagi Eka, semangat yang lahir dari Pacu Jalur seharusnya tidak berhenti ketika pertandingan selesai.

Justru setelah sorak-sorai menghilang dan jalur-jalur disandarkan kembali ke tepian, nilai yang terkandung dalam tradisi itu harus dibawa ke dalam kehidupan masyarakat dan pembangunan daerah.

Ia mengibaratkan Pacu Jalur sebagai gambaran sederhana tentang bagaimana sebuah daerah harus bergerak.

Tidak mungkin sebuah jalur melaju cepat jika para pendayung bergerak sendiri-sendiri.

Begitu pula pembangunan.

Daerah tidak akan bergerak maju apabila pemerintah, masyarakat, dunia usaha dan seluruh elemen sosial berjalan dengan kepentingannya masing-masing.

“Semoga semangat Pacu Jalur menjadi semangat kita bersama dalam membangun Kuantan Tengah dan Kabupaten Kuantan Singingi ke depan. Kita harus tetap menjaga kebersamaan dan gotong royong,” katanya.

Ia kemudian menyampaikan ucapan selamat dan sukses kepada seluruh pihak yang telah menjadi bagian dari Pacu Jalur KEN 2026.

“Sekali lagi, terima kasih kepada panitia pelaksana, seluruh peserta jalur, anak pacuan dan semua pihak yang telah berjibaku dan bertungkus lumus. Selamat dan sukses. Apa yang telah kita lakukan bersama adalah bagian dari upaya menjaga tradisi dan marwah daerah,” ujar Eka.

Kini, Tepian Narosa mungkin kembali lebih tenang.

Air Sungai Kuantan kembali membawa arusnya sendiri. Tak ada lagi derap ribuan kaki yang berlari mengikuti jalur, tak ada lagi teriakan yang pecah setiap kali dua jalur beradu kecepatan.

Tetapi Pacu Jalur meninggalkan pesan yang lebih panjang daripada sekadar daftar pemenang.

Bahwa sebuah tradisi tidak akan hidup hanya karena diwariskan.

Ia akan tetap hidup karena ada orang-orang yang mau bekerja, berkorban, bertungkus lumus dan menjaganya bersama-sama.

Dan di Tepian Narosa, mereka baru saja membuktikannya.

Selain kepada panitia pelaksana dan seluruh peserta jalur, Camat Kuantan Tengah Eka Putra, S.Sos., M.Si., juga menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, terutama kepada Plt Bupati Kuantan Singingi H. Muklisin, atas dukungan dalam pelaksanaan Pacu Jalur Event Nasional (KEN) 2026.

“Ucapan terima kasih juga kami sampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, terutama kepada Bapak Plt Bupati H. Muklisin, yang telah memberikan dukungan sehingga pelaksanaan Pacu Jalur Event Nasional 2026 dapat berjalan dengan baik,” ujar Eka.

Menurut Eka, dukungan pemerintah daerah menjadi bagian penting dalam memastikan tradisi Pacu Jalur tidak hanya berlangsung sebagai perlombaan, tetapi juga mampu menjadi ruang kebersamaan masyarakat sekaligus mengangkat kebudayaan Kuantan Singingi ke tingkat yang lebih luas.

Ia menilai, keberhasilan event tersebut merupakan hasil kerja bersama antara pemerintah daerah, panitia, peserta jalur, masyarakat, aparat keamanan, relawan, pelaku usaha, serta seluruh pihak yang mengambil bagian.

“Tidak mungkin event sebesar ini berhasil kalau hanya dikerjakan oleh satu pihak. Semua memiliki peran. Karena itu, apresiasi dan terima kasih kami sampaikan kepada seluruh pihak yang telah memberikan tenaga, pikiran dan dukungan,” katanya.

Eka berharap sinergi antara pemerintah daerah dan seluruh elemen masyarakat tersebut dapat terus dipertahankan dan ditingkatkan pada penyelenggaraan Pacu Jalur di masa mendatang.

“Semoga kebersamaan ini terus terjaga. Pacu Jalur adalah milik kita bersama, identitas dan marwah Kuantan Singingi yang harus kita rawat bersama,” ujarnya.

Ia kembali menyampaikan ucapan selamat kepada seluruh peserta dan apresiasi kepada panitia yang telah menyelesaikan rangkaian Pacu Jalur KEN 2026 dengan penuh perjuangan.

“Selamat dan sukses untuk seluruh peserta jalur. Terima kasih kepada panitia, pemerintah daerah, khususnya Bapak Plt Bupati H. Muklisin, serta seluruh masyarakat yang telah bertungkus lumus menyukseskan event ini,” kata Eka.*(ald)






Tulis Komentar