Dika Aura Farming Siap Meriahkan Pembukaan Pacu Jalur Rayon I Inuman, Dari Tepian Tigo Muaro Kuansing Menyapa Dunia

foto: Lexto Miranda bersama Rayyan Arkan Dikha (Dika Aura Farming)/ist. (doc. kilasriau.com)

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) – Gemuruh tabuhan gendang, sorak penyemangat anak pacu, serta semangat masyarakat di tepian Sungai Kuantan kembali akan menjadi pemandangan yang dinanti-nantikan. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun itu akan kembali hidup dalam perhelatan Pacu Jalur Rayon I Kecamatan Inuman yang akan digelar pada 12 hingga 14 Juni 2026 di Tepian Tigo Muaro.

Perhelatan tersebut bukan sekadar perlombaan mendayung perahu panjang. Bagi masyarakat Kuantan Singingi, Pacu Jalur merupakan denyut nadi kebudayaan yang menyatukan berbagai lapisan masyarakat dalam semangat persaudaraan, sportivitas, serta kecintaan terhadap warisan leluhur.

Tahun ini, pembukaan Pacu Jalur di Kecamatan Inuman dipastikan akan berlangsung lebih meriah. Pasalnya, sosok yang belakangan ramai diperbincangkan publik, Dika Aura Farming, dikabarkan siap hadir untuk memeriahkan agenda budaya terbesar di wilayah tersebut.

Kepastian kehadiran Dika disampaikan oleh Nopri, Pengurus Marching Band Pondok Pesantren Imam Saleh di Inuman, pada Rabu (10/6/2026).

"Dika Aura Farming siap hadir pada pembukaan Pacu Jalur di Inuman," ujarnya kepada KilasRiau.com.

Kehadiran Dika diyakini akan menjadi magnet tersendiri, terutama bagi generasi muda. Sosok yang dikenal luas melalui konten-kontennya itu dianggap telah ikut memperkenalkan istilah "aura farming" yang belakangan dikaitkan oleh masyarakat dengan semangat, keunikan, dan daya tarik budaya Pacu Jalur.

Di tengah derasnya arus modernisasi, perhatian dari figur publik terhadap tradisi daerah dinilai mampu menjadi jembatan yang menghubungkan budaya lokal dengan ruang-ruang digital yang lebih luas.

Camat Inuman, Suparman, S.Pd, mengatakan bahwa Dika tidak hanya hadir sebagai tamu undangan, melainkan juga akan terlibat dalam rangkaian acara pembukaan.

Menurutnya, Dika dijadwalkan berkolaborasi dengan marching band Pondok Pesantren Imam Saleh, yang telah melakukan berbagai persiapan untuk menyuguhkan penampilan terbaik di hadapan masyarakat.

"Dika nanti akan berkolaborasi dengan marching band dari Pondok Pesantren Imam Saleh. Hari ini beliau sudah menugaskan Lexto Miranda untuk menjemput Dika guna melakukan gladi di Kantor Camat Inuman," ujar Suparman.

Persiapan demi persiapan pun terus dimatangkan. Panitia pelaksana bersama pemerintah kecamatan berupaya memastikan seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar, aman, dan mampu memberikan kesan mendalam bagi setiap pengunjung yang datang.

Sementara itu, tokoh muda Inuman, Lexto Miranda, S.Sos, menilai kehadiran Dika merupakan momentum positif untuk semakin memperkenalkan Pacu Jalur ke tingkat yang lebih luas.

Menurutnya, perhatian yang diberikan oleh figur-figur publik dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat luar untuk mengenal lebih dekat budaya yang telah menjadi identitas masyarakat Kuantan Singingi selama ratusan tahun.

"Kehadiran Dika di Inuman bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Inuman khususnya dan Kuansing umumnya. Dengan adanya aura farming yang diperkenalkan Dika, hal itu membuka mata dunia tentang Pacu Jalur yang ada di Kuantan Singingi," katanya.

Bukan hanya perlombaan jalur yang akan menjadi pusat perhatian. Pembukaan Pacu Jalur Rayon I juga akan dimeriahkan dengan pawai budaya yang melibatkan berbagai desa serta sekolah-sekolah di Kecamatan Inuman.

Aneka pakaian adat, kesenian tradisional, hingga kreativitas generasi muda akan ditampilkan dalam pawai tersebut. Hal ini menjadi bukti bahwa Pacu Jalur tidak berdiri sendiri sebagai sebuah perlombaan, melainkan bagian dari mozaik budaya masyarakat Kuantan Singingi yang kaya dan beragam.

Bagi masyarakat Inuman, Pacu Jalur adalah kebanggaan. Di balik sebuah jalur yang melaju membelah sungai, terdapat semangat gotong royong mulai dari proses pencarian kayu, pembuatan jalur, latihan para anak pacu, hingga dukungan masyarakat yang tak pernah surut.

Setiap kayuhan dayung bukan hanya tentang mengejar kemenangan, tetapi juga menjadi simbol persatuan sebuah kampung dalam menjaga marwah daerahnya.

Karena itu, pemerintah daerah mengajak seluruh masyarakat untuk ikut menyukseskan perhelatan ini dengan tetap menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas dan menjaga ketertiban selama kegiatan berlangsung.

"Kami mengajak masyarakat untuk dapat hadir dan menyaksikan Pacu Jalur di Kecamatan Inuman pada tanggal 12 sampai 14 Juni," kata Nopri.

Ajakan tersebut bukan tanpa alasan. Kehadiran masyarakat menjadi energi tersendiri bagi para anak pacu yang telah berbulan-bulan mempersiapkan diri demi tampil maksimal di arena.

Pembukaan Pacu Jalur Rayon I di Tepian Tigo Muaro juga menjadi penanda dimulainya rangkaian Pacu Jalur di Kabupaten Kuantan Singingi tahun 2026. Dengan demikian, Inuman akan menjadi titik awal bergeloranya semangat masyarakat dalam menyambut musim pacu yang telah lama dinanti.

Di tepian sungai itu nanti, sejarah akan kembali dituliskan. Sorak-sorai penonton akan berpadu dengan irama dayung yang menghentak permukaan air. Anak-anak akan belajar mencintai budayanya, para orang tua akan mengenang masa lalu, sementara para perantau mungkin akan menemukan alasan untuk pulang sejenak ke kampung halaman.

Pacu Jalur telah membuktikan bahwa sebuah tradisi mampu bertahan melintasi zaman. Ia tidak hanya hidup dalam cerita para tetua, tetapi juga tumbuh dalam kebanggaan generasi hari ini.

Maka, ketika Tepian Tigo Muaro kembali dipenuhi manusia pada 12 hingga 14 Juni mendatang, sesungguhnya yang sedang dirayakan bukan sekadar sebuah perlombaan.

Yang dirayakan adalah identitas.

Yang dijaga adalah warisan.

Dan yang dipertontonkan kepada dunia adalah kebesaran budaya masyarakat Kuantan Singingi yang tak lekang oleh waktu.*(ald)






Tulis Komentar