Tari Merantang Siap Memukau Pembukaan MTQ ke-XLIV Riau, Wujud Kepedulian IKKS Provinsi Merawat Warisan Budaya Kuansing

foto: tari merantang saat pengukuhan IKKS di Pekanbaru, Riau/ist. (doc. kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Pembukaan Musabaqah Tilawatil Qur'an (MTQ) ke-XLIV Tingkat Provinsi Riau di Kabupaten Kuantan Singingi pada 26 Juni 2026 mendatang dipastikan tidak hanya menjadi perhelatan keagamaan semata. Lebih dari itu, momentum tersebut akan menjadi panggung besar bagi kebudayaan Melayu Kuansing untuk kembali menunjukkan jati dirinya melalui persembahan Tari Merantang, sebuah karya seni yang sarat akan nilai adat, adab, dan filosofi kehidupan masyarakat Kuantan Singingi.

Tari Merantang dijadwalkan menjadi salah satu sajian utama pada pembukaan MTQ tingkat Provinsi Riau. Kehadirannya bukan sekadar pelengkap acara, melainkan sebuah upaya nyata dalam menghidupkan kembali ingatan kolektif masyarakat terhadap warisan budaya leluhur yang telah lama tumbuh dan berkembang di tengah kehidupan orang Kuansing.

Tradisi merantang sendiri merupakan budaya turun-temurun yang lahir dari kearifan lokal masyarakat Melayu Kuantan Singingi. Tradisi ini erat kaitannya dengan semangat julang manjolang, yakni kebiasaan saling berbagi hidangan dalam berbagai perhelatan adat maupun hari-hari besar Islam, khususnya pada bulan suci Ramadan.

Melalui tarian ini, penonton akan diajak menyaksikan kesibukan gadis-gadis, oncu, uwo, etek, dan mondek-mondek Kuansing dalam mempersiapkan jamuan bagi para tetamu nogori. Mereka digambarkan sedang memasak, mengatur rantang sebagai wadah makanan khas Melayu, menata dulang dan ceret, serta menyiapkan berbagai perlengkapan jamuan dengan penuh ketelitian dan kesantunan.

Tarian tersebut tidak hanya menghadirkan keindahan gerak, tetapi juga merefleksikan nilai-nilai gotong royong, keramahan, penghormatan kepada tamu, keceriaan, dan semangat kebersamaan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat Kuantan Singingi.

Sinopsis tari ini bahkan diawali dengan sebuah refleksi mendalam:

"Ketika kami melihat jauh ke belakang, ternyata kearifan adat, adab, seni, dan budaya merantang serta isi-mengisi rantang adalah masa depan yang menantang."

Kalimat tersebut menjadi pengingat bahwa tradisi bukanlah sesuatu yang usang untuk ditinggalkan, melainkan sumber nilai yang dapat menjadi pedoman dalam menghadapi tantangan masa kini dan masa depan.

Ketua Panitia MTQ ke-XLIV Tingkat Provinsi Riau, Drs. Azhar Ali, menyebutkan bahwa penampilan Tari Merantang dalam pembukaan MTQ ke-XLIV Tingkat Provinsi Riau merupakan sebuah gagasan yang sangat bernilai dalam upaya memperkenalkan sekaligus melestarikan budaya Kuantan Singingi.

Menurut Azhar Ali, kesempatan untuk menampilkan Tari Merantang pada pembukaan MTQ tingkat Provinsi Riau merupakan momentum emas yang harus dimanfaatkan sebaik mungkin.

"Ini merupakan ide bernas dari Bapak Bupati, Dr. H. Suhardiman Amby. Kesempatan emas bagi IKKS Provinsi Riau untuk menampilkan Tari Merantang pada opening MTQ Riau di Kabupaten Kuantan Singingi. Momentum ini harus menjadi ruang untuk memperkenalkan sekaligus membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap budaya leluhur," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Umum IKKS Provinsi Riau, Ir. Hendrizal, M.Si, menegaskan bahwa keterlibatan IKKS dalam menghadirkan Tari Merantang merupakan bentuk kepedulian sekaligus tanggung jawab moral organisasi terhadap kelestarian budaya Kuantan Singingi.

Menurutnya, IKKS memiliki komitmen untuk terus menggali, membina, menumbuhkembangkan, merevitalisasi, merekonstruksi, mengkaryakan kembali, serta mempromosikan kearifan adat, adab, seni, dan budaya Kuansing kepada masyarakat luas.

"Kepedulian dan tanggung jawab moral IKKS Provinsi Riau terhadap upaya menggali, membina, menumbuhkembangkan, merevitalisasi, merekonstruksi, mengkaryakan kembali, dan mempromosikan kearifan adat, adab, seni, dan budaya Kuansing ini tidak lain untuk menyemangati serta memunculkan rasa kepedulian yang tinggi pada IKKS kecamatan, kabupaten, dan kota se-Riau terhadap kebudayaan leluhurnya," kata Hendrizal.

Ia berharap, langkah tersebut dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat Kuansing, khususnya generasi muda, agar semakin bangga terhadap identitas budayanya sendiri.

Tari Merantang diproduksi oleh IKKS Provinsi Riau dan dipentaskan oleh Marwah Dance Company FKIP Universitas Riau. Karya ini digarap oleh dua koreografer, yakni Dr. Nurlita Martison, M.Pd. dan Epi Martison, S.Sn., dengan komposisi musik yang ditata oleh Sutra Harmiko.

Melalui sentuhan para seniman tersebut, tradisi merantang dihadirkan kembali dalam kemasan panggung yang tetap berpijak pada nilai-nilai aslinya. Kehadiran para penari muda dari Marwah Dance Company menjadi simbol bahwa budaya tidak berhenti pada generasi terdahulu, tetapi terus bergerak dan diwariskan kepada generasi penerus.

Sebagaimana petuah yang hidup dalam masyarakat Kuansing:

"Jikok kito membao dulang,
Jangan lupokan membawo rantang.
Jikok kito hendak barolek godang,
Jangan lupokan budaya merantang julang manjolang."
(Jika kita membawa nampan,
Jangan lupa membawa Rantang.
Jika kita hendak berpesta besar,
Jangan lupakan budaya merantang saat berkunjung bersilaturahmi.)

Pada akhirnya, Tari Merantang bukan sekadar pertunjukan pembuka dalam sebuah perhelatan akbar. Ia adalah perayaan identitas, penghormatan kepada leluhur, sekaligus ajakan untuk terus menjaga akar budaya di tengah perubahan zaman.

Dan ketika ribuan pasang mata tertuju ke panggung pembukaan MTQ ke-XLIV Tingkat Provinsi Riau nanti, rantang-rantang itu tidak hanya membawa hidangan. Ia membawa cerita tentang adab, kebersamaan, dan kebijaksanaan orang-orang Melayu Kuantan Singingi yang diwariskan lintas generasi.*(ald)






Tulis Komentar