Janji Untung Berujung Aksi, Investor Dapur MBG Maredan Barat 2 Tuntut Kejelasan Dana Rp900 Juta Lebih
Siak, Kilasriau.com – Polemik pengelolaan Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Maredan Barat 2, Kecamatan Tualang, Kabupaten Siak, kian memanas. Enam investor yang mengaku telah menggelontorkan dana lebih dari Rp900 juta untuk pembangunan dan operasional dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) melakukan aksi pemblokiran akses masuk dapur, Senin (8/6/2026).
Aksi yang berlangsung sejak pagi itu menjadi puncak kekecewaan para investor setelah berbagai janji yang disampaikan sejak awal kerja sama disebut tak kunjung terealisasi. Dengan memasang garis pembatas (safety line) di akses menuju dapur, para investor menuntut kepastian atas dana yang telah mereka tanamkan sejak awal pembangunan fasilitas tersebut.
Suasana sempat memanas ketika terjadi adu argumen antara petugas keamanan dapur dan sejumlah warga yang terlibat dalam investasi pembangunan dapur MBG tersebut. Namun aksi berlangsung kondusif dan menjadi sorotan masyarakat sekitar.
Salah seorang investor, Syahroni, mengungkapkan bahwa dirinya bersama lima investor lainnya awalnya diajak untuk mendukung pembangunan dapur MBG oleh pendiri Yayasan Bunga Indonesia Raya (BIR). Saat itu, para investor dijanjikan sejumlah keuntungan, mulai dari pengembalian modal dalam waktu enam bulan, kompensasi bulanan, hingga kesempatan menjadi pemasok kebutuhan dapur MBG.
"Modal yang kami keluarkan dijanjikan kembali dalam enam bulan. Selain itu ada kompensasi bulanan dan kesempatan menjadi pemasok kebutuhan dapur. Namun setelah tujuh bulan berjalan, janji itu belum juga terealisasi," ujarnya.
Menurutnya, total investasi enam warga mencapai lebih dari Rp900 juta. Dana tersebut digunakan untuk pembangunan fisik dapur, pengadaan peralatan operasional, perlengkapan kantor, hingga fasilitas penunjang lainnya.
Syahroni mengaku secara pribadi telah menginvestasikan sekitar Rp411 juta untuk pengadaan alat dapur, peralatan kantor, pendingin ruangan (AC), keramik, dan berbagai kebutuhan operasional lainnya. Namun hingga kini ia mengaku baru menerima pengembalian sekitar Rp50 juta.
"Kalau saya pribadi investasi Rp411 juta. Yang dibayarkan baru sekitar Rp50 juta. Sementara investor lain ada yang belum menerima pembayaran sama sekali," ungkapnya.
Dari keterangan para investor, persoalan bermula ketika pengelola awal yang menggagas pembangunan dapur tidak lagi aktif. Mereka mengaku telah beberapa kali mencoba mencari solusi melalui komunikasi dan mediasi, namun belum mendapatkan kepastian yang diharapkan.
"Kami bukan menolak program Makan Bergizi Gratis. Kami mendukung program pemerintah. Yang kami perjuangkan adalah hak-hak kami sebagai masyarakat yang telah membantu membangun dapur ini sejak awal," ujar salah seorang investor saat aksi berlangsung.
Setelah aksi pemblokiran berlangsung lebih dari satu jam, pertemuan akhirnya digelar di Aula Kampung Maredan Barat. Pertemuan tersebut dihadiri perwakilan Yayasan Bunga Indonesia Raya, Camat Tualang, Korwil Badan Gizi Nasional (BGN) Kabupaten Siak, Pemerintah Kampung Maredan Barat, aparat kepolisian, Babinsa, serta para investor.
Dalam pertemuan tersebut, pihak yayasan yang diwakili Erlina Ader Nasution menyatakan kesediaan untuk menyelesaikan persoalan yang terjadi. Hasil musyawarah kemudian dituangkan dalam sebuah kesepakatan yang memberikan waktu kepada yayasan hingga 15 Juni 2026 untuk menyelesaikan seluruh persoalan dengan para investor.
Kesepakatan itu juga memuat poin penting bahwa apabila hingga batas waktu yang telah ditentukan tidak ada penyelesaian, maka operasional Dapur SPPG Maredan Barat 2 akan dihentikan sementara sampai persoalan tersebut tuntas. Kesepakatan ditandatangani oleh pihak yayasan dan enam investor serta disaksikan unsur pemerintah dan aparat terkait.
Kini perhatian publik tertuju pada langkah yayasan dalam memenuhi komitmen tersebut. Tenggat waktu yang tersisa beberapa hari ke depan akan menjadi penentu apakah polemik investasi yang telah berlangsung selama berbulan-bulan ini dapat diselesaikan secara damai atau justru berkembang menjadi persoalan yang lebih besar.

Tulis Komentar