Harga Pinang Muda Tembus Rp10 Ribu per Kilo, Harapan Baru Petani Inhil Mulai Bangkit
Kilasriau.com – Harapan baru mulai tumbuh di tengah masyarakat perkebunan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Di saat banyak petani menghadapi tekanan ekonomi akibat fluktuasi harga komoditas, kabar menggembirakan datang dari sektor perkebunan pinang. Mulai besok, harga pembelian buah pinang disebut akan mencapai Rp10.000 per kilogram, sebuah angka yang dinilai mampu memberi napas segar bagi para petani.
Kabar tersebut mencuat dalam bincang-bincang santai namun penuh makna yang berlangsung bersama Ketua Kadin Inhil, Edy Indra Kesuma, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISI Zainal Arifin Hussein, serta CEO PT Korindo Komplit Karbon, Robin.
Dalam pertemuan itu, dibahas keseriusan perusahaan dalam mengembangkan industri pengolahan pinang di Inhil. Setelah melalui proses panjang, perusahaan disebut siap mengoperasikan fasilitas pengolahan sekaligus menampung hasil pertanian masyarakat dengan harga yang lebih kompetitif.
- Program Makan Bergizi Gratis Diduga ‘Asal Jadi’, Siswa SD Terima Lauk Belum Matang
- Dapur MBG Diduga Tak Kantongi IPAL, AMPHIBI Singgung Lemahnya Pengawasan DLH
- Sorotan Dapur MBG Kayu Jati Menguat, Ketua Komunitas Inhil Tegaskan IPAL Wajib Ada
- Wamenaker: Kompetensi SDM Kunci Utama Hadapi Digitalisasi Global
- Menaker: Kebersamaan Perkuat Ketenagakerjaan Hadapi Tantangan Global
“Kami ingin memastikan hasil perkebunan masyarakat memiliki nilai ekonomi yang lebih baik. Petani tidak boleh terus berada di posisi lemah saat harga pasar turun,” ujar Robin, Ahad (10/5/26).
Ia menegaskan, hasil produksi dari pabrik di Inhil nantinya tidak hanya dipasarkan di dalam negeri, tetapi juga akan diekspor ke sejumlah negara seperti Thailand, Vietnam, India, dan China. Menariknya, seluruh produk akan menggunakan label “Tembilahan” sebagai identitas asal produksi.

“Potensi Inhil sangat luar biasa. Bahan bakunya melimpah, dan kami ingin mengolahnya langsung di daerah agar nilai tambahnya benar-benar dirasakan masyarakat,” katanya.
Tak hanya menerima pinang kering, perusahaan juga membuka penerimaan untuk pinang orange maupun pinang muda atau pinang jus yang nantinya akan dipasarkan ke berbagai wilayah di Indonesia hingga negara tetangga.
Robin menegaskan, pihaknya tidak ingin sekadar menjadi pembeli hasil panen masyarakat, melainkan hadir sebagai mitra jangka panjang bagi petani pinang di Inhil.
“Ke depan kami ingin membangun sistem yang transparan dan berkelanjutan. Petani harus mendapatkan harga yang layak dan memiliki kepastian pasar,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Kadin Inhil, Edy Indra Kesuma, menyampaikan dukungan penuh terhadap ekspansi investasi tersebut. Menurutnya, langkah itu sejalan dengan visi daerah dalam memperkuat sektor perkebunan rakyat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.

“Tentu kita menyambut kabar baik ini. Ini menjadi angin segar bagi seluruh petani perkebunan di Kabupaten Indragiri Hilir. Kolaborasi antara pelaku usaha dan petani menjadi kunci keberlanjutan ekonomi daerah,” ujar Edy.
Ia menilai potensi pinang Inhil sangat besar dan perlu dikelola secara modern, profesional, dan terukur agar mampu bersaing di pasar global. Dalam pertemuan tersebut, Kadin bersama manajemen perusahaan juga membahas strategi penguatan rantai pasok serta sistem penerimaan hasil panen agar lebih efisien dan transparan.
“Kita ingin petani benar-benar merasakan dampaknya. Bukan hanya harga yang membaik, tetapi juga terbukanya lapangan kerja baru, meningkatnya daya saing komoditas lokal, hingga bertambahnya kontribusi terhadap PAD daerah,” tambahnya.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UNISI, Zainal Arifin Hussein, juga menilai kehadiran industri pengolahan pinang di Inhil dapat menjadi momentum kebangkitan ekonomi masyarakat perkebunan.
“Jika dikelola serius dan berorientasi ekspor, pinang bisa menjadi komoditas strategis yang menggerakkan ekonomi masyarakat dari desa hingga kota,” ujarnya.
Kehadiran pabrik pengolahan pinang ini pun dinilai menjadi titik balik kebangkitan ekonomi masyarakat perkebunan di Inhil. Dengan kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan petani, Kabupaten Indragiri Hilir diyakini semakin memperkuat posisinya sebagai sentra industri pinang di Provinsi Riau yang mampu menembus pasar global.

Tulis Komentar