Ketika Literasi Menjadi Tujuan: Upaya Kuantan Singingi Mencerdaskan Anak Bangsa

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Di tengah derasnya arus informasi dan cepatnya perubahan zaman, literasi kembali ditegaskan sebagai fondasi utama dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Bagi Kabupaten Kuantan Singingi, literasi bukan sekadar program, melainkan jalan panjang menuju masa depan generasi yang lebih kritis, berkarakter, dan berdaya saing. Kamis (26/2/2026) pagi.

Sejalan dengan visi Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi, penguatan literasi menjadi indikator penting dalam pembangunan sumber daya manusia. Berdasarkan Rapor Pendidikan Literasi Kuansing Tahun 2025, capaian literasi daerah ini masih berada di angka 60 persen—sebuah angka yang menyimpan tantangan besar, sekaligus harapan untuk terus ditingkatkan melalui kolaborasi semua pihak.

Hal tersebut disampaikan Sekretaris Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kuantan Singingi, Zulmaswan, saat memberikan arahan dalam kegiatan penguatan literasi yang digelar Forum Literasi Kuansing (FOLIKU).

“Angka 60 persen ini harus kita baca sebagai alarm sekaligus peluang. Literasi tidak boleh berhenti pada kemampuan membaca dan menulis, tetapi harus melahirkan kemampuan berpikir kritis, memilah informasi, dan bertindak bijak,” tegas Zulmaswan.

Ia menambahkan, di era digital saat ini, literasi telah menjadi tujuan strategis dalam menyiapkan generasi yang siap menghadapi masa depan.

“Anak-anak kita hidup di zaman banjir informasi. Tanpa literasi yang kuat, mereka mudah terseret arus. Karena itu, literasi hari ini adalah bekal utama untuk masa depan Kuantan Singingi,” ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Zulmaswan juga menyampaikan apresiasi kepada Forum Literasi Kuansing (FOLIKU) dan seluruh panitia yang dinilainya konsisten menjadi motor penggerak literasi dari akar rumput.

“Gerakan yang lahir dari komunitas seperti FOLIKU ini sangat penting. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Literasi harus dibangun bersama,” katanya.

Kegiatan tersebut turut dihadiri Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kuantan Singingi, Shanti Evi Dimeti, yang menekankan bahwa perpustakaan hari ini harus menjadi ruang hidup bagi tumbuhnya budaya literasi.

“Perpustakaan bukan hanya tempat menyimpan buku, tetapi ruang belajar, ruang diskusi, dan ruang menumbuhkan imajinasi. Literasi harus hadir dekat dengan masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, menyatakan komitmennya untuk terus mendukung kegiatan literasi di wilayahnya.

“Kami ingin pelajar di Kuantan Tengah tidak hanya menjadi penonton di era digital, tetapi mampu menjadi subjek—menulis, berkarya, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab,” ujarnya.

Dari sisi komunitas, Ketua FOLIKU, Ronaldo Rozalino, menegaskan bahwa literasi adalah ikhtiar jangka panjang yang membutuhkan kesabaran dan konsistensi.

“Literasi adalah soal membangun nalar dan karakter. Kami ingin anak-anak berani berpikir, berani menulis, dan berani menyuarakan kebenaran dengan data,” kata Ronaldo.

Kegiatan ini juga diisi dengan sesi penguatan kapasitas peserta melalui materi jurnalistik dan konten kreator. Desriandi Candra membekali peserta dengan dasar-dasar jurnalistik, mulai dari teknik penulisan berita hingga etika dan pentingnya verifikasi informasi.

“Menulis berita bukan sekadar cepat, tetapi harus benar. Di situlah etika jurnalistik diuji,” pesannya kepada para peserta.

Sementara Ruri Tirta Kumala Dewi mengajak pelajar memanfaatkan media digital sebagai ruang kreatif yang positif.

“Konten itu bukan hanya soal viral, tapi soal nilai. Anak-anak harus sadar bahwa apa yang mereka unggah punya dampak,” ujarnya.

Di ujung kegiatan, literasi kembali dimaknai bukan sebagai angka dalam laporan, melainkan sebagai denyut kesadaran bersama. Bahwa mencerdaskan anak bangsa adalah kerja panjang, yang hanya bisa terwujud ketika pemerintah, komunitas, sekolah, dan masyarakat berjalan seiring.

Di Kuantan Singingi, langkah itu sedang dirajut—pelan, namun pasti—melalui literasi sebagai cahaya yang menuntun generasi menuju masa depan.*(ald)






Tulis Komentar