Pinjaman Rp 200 Miliar: Amanah Besar yang Menanti Jawaban di Hadapan Allah

H Andi Muhammad Ramadhani, Pengurus ICMI Orda Inhil

KILASRIAU.com  - Dalam kehidupan bernegara, keputusan seorang pemimpin bukan hanya dicatat dalam dokumen administrasi, tetapi juga dalam catatan langit. Ketika Pemerintah Kabupaten Indragiri Hilir berencana mengambil pinjaman Rp 200 miliar dari PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), maka sesungguhnya yang dipikul bukan sekadar beban fiskal, tetapi sebuah amanah besar yang kelak akan ditanya oleh Allah SWT.

Kita diajarkan bahwa segala sesuatu yang kita pegang di dunia hanyalah titipan. Sebagaimana firman Allah,

_“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya.” (An-Nisa: 58)._

Karena itu, setiap kebijakan besar termasuk pinjaman daerah harus dijalankan dengan ketakwaan, kehati-hatian, dan rasa takut untuk mengkhianati kepercayaan masyarakat.

_Pinjaman yang Bisa Menjadi Jalan Kebaikan_

Tidak ada yang salah dengan meminjam untuk membangun, terlebih di daerah kepulauan seperti Inhil yang tantangan infrastrukturnya nyata dan mendesak. Jalan yang terputus, akses ekonomi yang terbatas, dan kebutuhan layanan publik yang terus meningkat, semuanya memerlukan keberanian mengambil kebijakan.

Jika pemerintah mengambil pinjaman ini dengan perencanaan yang matang, ia justru menjadi jalan kebaikan:

jalan-jalan desa diperbaiki,jembatan dibangun,fasilitas publik diperkuat,dan ekonomi masyarakat kembali bergerak.

Semua itu adalah bentuk ibadah sosial dan dapat bernilai amal jariyah, selama dikerjakan dengan niat yang lurus, tata kelola yang amanah, dan benar-benar menyentuh kebutuhan rakyat kecil.

_Namun Amanah Selalu Datang Bersama Tanggung Jawab_

Dalam Islam, utang adalah hal yang sangat serius. Rasulullah SAW mengajarkan bahwa utang yang tidak diselesaikan dapat menahan seseorang dari ketenangan akhirat. Pesan ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pinjaman publik bukan perkara sepele.

Pinjaman Rp 200 miliar ini bukan pinjaman pribadi. Ia harus dibayar oleh APBD, oleh uang masyarakat. Maka pemerintah dan DPRD harus memastikan bahwa pinjaman ini:

1. Tidak menjerat daerah dalam kesempitan fiskal,

2. Tidak memutus layanan publik pada tahun-tahun mendatang,

3. Tidak menjadi beban bagi generasi setelahnya,

4. Diarahkan untuk proyek prioritas yang benar-benar menyentuh rakyat,

Namun di sisi lain, kita juga perlu menyadari bahwa tidak berbuat apa-apa dan tetap membiarkan persoalan pembangunan menumpuk juga merupakan kelalaian terhadap amanah.

Kadang, diam dan tidak mengambil keputusan justru lebih berisiko daripada mengambil langkah berani dengan perhitungan matang.

_Transparansi adalah Cermin Kejujuran_

Keterbukaan menjadi kunci penting agar pinjaman ini tidak menjadi fitnah. Pemerintah yang menjelaskan dengan terang benderang tujuan pinjaman, daftar proyek, manfaatnya bagi masyarakat, serta bagaimana pengelolaannya, sesungguhnya sedang menjalankan kejujuran yang diajarkan agama.

Tanpa keterbukaan, muncul prasangka.

Tanpa akuntabilitas, tumbuh fitnah. Padahal fitnah adalah sesuatu yang sangat dibenci oleh Allah.

Di sinilah peran DPRD menjadi sangat besar. Mereka bukan sekadar pemberi persetujuan, melainkan penjaga amanah rakyat. Ketika DPRD mengawasi secara objektif, mengkritisi dengan adil, dan mendukung kebijakan baik pemerintah, maka sejatinya mereka sedang menjalankan amar ma’ruf dan menutup pintu mudarat.

_Akhirnya, Ini Semua Akan Menjadi Jejak di Hari Pembalasan_

Setiap kebijakan seorang pemimpin akan menjadi saksi di hadapan Allah. Jika pinjaman ini kelak membawa manfaat luas membuka akses rakyat, memajukan ekonomi, dan memperbaiki pelayanan maka amal kebaikan itu akan mengalir bagi mereka yang turut memutuskan dan melaksanakannya.

Namun jika ia berubah menjadi beban, merugikan rakyat, atau disalahgunakan, maka itu menjadi tanggung jawab yang sangat berat.

Karena itu, kita berharap para pemimpin Inhil baik pemerintah maupun DPRD, menimbang kebijakan ini dengan hati yang jernih, perhitungan yang matang, serta rasa takut kepada Allah yang selalu hadir dalam setiap keputusan. Sebab utang boleh selesai di dunia, tetapi amanah akan tetap ditagih di akhirat.

و الله أعلم بالصواب.






Tulis Komentar