Alam Tak Lagi Bersahabat: Ketika Manusia Menantang Sunnatullah

H.Andi Muhammad Ramadhani, Warga Tembilahan.

Kilasriau.com - Akhir-akhir ini, alam seolah tak lagi bersahabat dengan manusia. Banjir datang tiba-tiba, longsor merenggut rumah dan nyawa, ombak besar mengganas di laut, dan cuaca kian sulit ditebak. Bencana hadir beruntun, meninggalkan duka dan pertanyaan mendasar: benarkah alam yang murka, atau manusia yang telah melampaui batas? Kita tidak sedang berbicara dalam ruang hampa. Banjir bandang di Aceh, longsor dan banjir berulang di Sumatera Barat serta bencana serupa di Sumatera Utara, menunjukkan satu pola yang sama ; alam rusak, manusia menuai akibatnya. Perbukitan digunduli, hulu sungai rusak, dan daerah hilir menjadi korban.

Lebih dekat dengan kita, pusat Kota Tembilahan setiap tahun menghadapi banjir rob yang kian tinggi. Air laut masuk ke rumah warga, jalan protokol, fasilitas publik, rumah sakit, hingga masjid. Rob yang dulu dianggap musiman, kini menjadi ancaman rutin. Pertanyaannya, apakah laut yang semakin ganas, atau daratan yang kehilangan daya tahan akibat tata kelola yang abai dan pembangunan yang menantang sunnatullah?

Al Qur’an telah lama mengingatkan hubungan erat antara perilaku manusia dan keseimbangan alam. Allah SWT berfirman ;

“Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, agar Allah merasakan kepada mereka sebagian dari akibat perbuatan mereka, supaya mereka kembali.”( Ar-Rum: 41)

Ayat ini adalah cermin yang jujur. Kerusakan alam bukan takdir buta, melainkan buah dari keserakahan, pembiaran, dan kebijakan yang lebih mementingkan keuntungan jangka pendek daripada keselamatan jangka panjang. Hutan ditebang, sungai dikotori, laut dieksploitasi, dan tanah dipaksa bekerja melampaui batasnya.

Ironisnya, manusia menuntut alam untuk ramah, tetapi enggan berlaku adil kepadanya. Kita ingin hujan yang menyejukkan, namun menutup saluran air. Kita berharap laut tenang, tetapi mencemarinya. Kita menginginkan tanah subur, namun merusaknya tanpa nurani.

Rasulullah Saw mengajarkan bahwa menjaga alam adalah bagian dari iman. Beliau bersabda ;

“Tidaklah seorang Muslim menanam tanaman atau menabur benih, lalu dimakan makhluk lain, melainkan menjadi sedekah baginya.”(HR. Bukhari dan Muslim)

Islam memandang alam sebagai amanah, bukan objek eksploitasi. Bahkan dalam perang sekalipun, Rasulullah Saw melarang perusakan lingkungan. Maka sungguh ironis, di masa damai manusia justru berlomba merusak bumi atas nama pembangunan dan investasi, sementara rakyat kecil menanggung akibatnya.

Bencana hari ini bukan sekadar tragedi alam, tetapi peringatan spiritual dan sosial. Allah SWT berfirman:

“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”(QS. Al-A’raf: 56)

Mungkin alam tidak memusuhi manusia. Ia hanya sedang berbicara melalui banjir bandang di Aceh, longsor di Sumbar dan Sumut, serta rob yang kian tinggi di Tembilahan karena manusia tak lagi mau mendengar dengan akal dan iman.

Sudah saatnya kita berhenti menyalahkan takdir, lalu bercermin. Kembali kepada Allah, kembali kepada adab terhadap alam, dan menyadari bahwa menjaga bumi adalah bagian dari ibadah. Jika amanah ini terus diabaikan, jangan heran bila alam semakin enggan bersahabat.






Tulis Komentar