Benar Nggak Sih Semua Barang Buatan China? Ini Datanya
KILASRIAU.com - Industri manufaktur China menjadi sorotan karena produknya yang merajai dunia. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) menyebut bahwa produk buatan China lebih unggul dibandingkan lainnya.
"Saya baru-baru ini ke New Zealand, beli sepatu, topi pun made in China (buatan China). Tak ada satu pun barang tanpa made in China," ujar JK dalam diskusi outlook perekonomian Indonesia 2019 di Ballroom Hotel Ritz Carlton, Jakarta, Pacific Place.
Mengutip CNBC Indonesia, bila dibandingkan dengan China, sektor manufaktur dalam negeri bagai langit dan bumi. Pada kuartal III-2018, China mencatatkan Produk Domestik Bruto (PDB) yang berasal dari industri manufaktur sekitar 3.332.475 juta US$.
Namun, di kawasan ASEAN, Indonesia adalah rajanya. PDB sektor manufaktur Indonesia merupakan yang terbesar di kawasan ASEAN, disusul oleh Thailand pada posisi ke-2 dengan US$ 22.506.Ini berarti Indonesia secara regional memiliki kapasitas manufaktur yang mumpuni.
Sedangkan, pada periode yang sama, PDB Indonesia yang berasal dari industri manufaktur hanya sebesar US$ 39.715 juta (berdasarkan data dari Trading Economics, asumsi kurs saat ini). Artinya, industri manufaktur Indonesia hanya 1,19% dari China.
Meskipun demikian, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) porsi industri manufaktur Indonesia yang paling banyak menyumbang PDB adalah industri makanan dan minuman, yang mana sekitar 6% dari PDB. Disusul manufaktur elektronik (2,08%) dan alat angkut (1,99%).
- Pemkab Inhil Gelar Ramadan Fair UMKM 2026, Dimeriahkan Berbagai Lomba dan Doorprize Menarik
- Bupati dan Ketua IWAPI Inhil Resmikan Outlet Oleh-Oleh UMKM, Perkuat Akses Pasar serta Ekonomi Lokal
- LSM Desak Aparat Tegakkan Hukum, Klaim Sepihak Dinilai Abaikan Putusan MA
- Udang Nenek, Potensi Emas Pesisir Inhil Dukung Visi Ekonomi Daerah
- Panen Raya IP 300, Bupati Indragiri Hilir Optimis Pertanian Kempas Terus Melaju
Maka menjadi masuk akal apabila sektor manufaktur dirasa masih belum bisa mendorong nilai ekspor. Terbukti dengan neraca dagang RI yang dominan defisit.
Padahal, nilai ekspor pada kategori makanan dan minuman terbilang cukup kecil. Sebagai informasi, golongan barang Minuman (HS22) merupakan peringkat ke 10 dari ekspor non migas Indonesia pada November 2018 dengan nilai 91,3 Juta US$, sedangkan peringkat pertamanya adalah golongan Mesin dan Pesawat Mekanik (HS84) dengan nilai 2.452,4 juta US$.
(ara/hns)


Tulis Komentar