Laksana Raja, Suhardiman Amby Berlayar Gunakan Perahu Beganduang

LUBUK JAMBI - Dalam rangkaian acara Pesona Festival Perahu Beganduang, Plt Bupati Kuantan Singingi Drs. H Suhardiman Amby, Ak.MM, Datuk Panglimo Dalam, layaknya seorang Raja yang sedang berlayar, di Tepian Muko Lobuah Lubuk Jambi Kecamatan Kuantan Mudik Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, pada Sabtu (07/05/2022) siang.

Perahu Beganduang adalah kendaraan adat yang digunakan untuk tradisi Majompuik Limau. Atraksi budaya Perahu Beganduang yang merupakan simbol adat masyarakat Kuantan Singingi.

Konon menurut sejarah, tradisi berlayar dengan Perahu Beganduang telah ada sejak zaman dimana masa kerajaan-kerajaan terdahulu. Perahu Beganduang ini, biasanya dipakai oleh Raja sebagai sarana transportasi. Namun seiring dengan berjalannya waktu, lambat laun tradisi berlayar dengan Perahu Beganduang ini kemudian dipakai untuk tradisi Menjopuik Limau oleh calon minantu ke rumah calon mertua dalam tradisi menyambut Hari Raya Idul Fitri. 

Yang mana, Perahu Beganduang ini telah ditetapkan oleh menteri pendidikan dan kebudayaan bahwa perahu beganduang adalah sebagai warisan budaya tak benda pada tahun 2017 yang silam.

Namun dua tahun setelah ditetapkannya Perahu Beganduang menjadi salahsatu warisan budaya tak benda oleh menteri pendidikan dan kebudayaan, kegiatan Pesona Festival Perahu Beganduang ini tidak bisa dilaksanakan disebabkan karena wabah covid 19.

Idul Fitri 1443 H tahun 2022 inilah kali pertama dilaksanakan kegiatan Pesona Festival Perahu Beganduang setelah wabah Covid 19 melanda, hingga ribuan pengunjung dari berbagai daerah di provinsi Riau berdatangan menyaksikan atraksi yang meriah tersebut.

Dimana, tradisi Perahu Beganduang yang dilaksanakan oleh masyarakat adat Lubuk Jambi ini, hingga saat ini masih dilestarikan sebagai bentuk kearifan lokal, karena mengandung nilai-nilai budaya, etika, moral, dan simbol-simbol adat yang sangat penting dari generasi ke generasi berikutnya.

Perahu Beganduang ini terdiri dari gabungan dua hingga tiga buah sampan panjang yang dirangkai menjadi satu dengan menggunakan bambu hingga terbentuklah perahu besar dan dihiasi dengan berbagai bentuk dan motif, dengan berbagai simbol-simbol adat yang penuh dengan makna, seperti kubah, tanduk kerbau, ani-ani, labu-labu, carano, dan payung, serta dimeriahkan dengan meruang atau bendera adat.

Dalam giat Pesona Festival Perahu Beganduang tersebut, Plt Bupati Kuantan Singingi Drs. H Suhardiman Amby, Ak.,MM merasa bangga dengan tradisi Manjopuik Limau ini. Sehingga dirinya meminta agar Kepala Dinas (Kadis) Pariwisata dan Kebudayaan (Parbud) Kabupaten Kuantan Singingi agar mencarikan solusi untuk menambah anggaran pembiayaan pelaksanaan kegiatan tardisi manjopuik limau dengan Parahu Baganduang ini di masa yang akan datang bisa menjadi lebih meriah lagi.

“Pak Kadis Pariwisata, tolong nanti dicarikan anggaran untuk bisa ditingkatkan lagi dana pelaksanaan kegiatan ini di tahun depan, sehingga pelaksanaannya bisa lebih meriah lagi dan diisi dengan kebudayaan ciri khas asli daerah,” begitu pinta Suhardiman Amby di hadapan seluruh Forkopimda, pemanggku adat, pejabat daerah dan tamu undangan lainnya serta para pengunjung yang berhadir.

Plt Bupati Kuansing, bergelar adat Datuk Panglimo Dalam itu juga mengatakan bahwa, mengembalikan ciri khas kebudayaan yang ada di Kabupaten Kuansing adalah tugas berat kita bersama. Kendatipun demikian, semua ini adalah tanggung jawab kita sebagai pemerintah daerah dan masyarakat Kuansing.

“Perahu Beganduang ini adalah event Kebudayaan Lokal yang sudah kita promosikan ke tingkat nasional, Alhamdulillah tahun yang lalu sudah menjadi agenda Nasional, dan diakui sebagai Kebudayaan Nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Nah, hari ini kita mulai karena kita sudah masuk endemik, mudah-mudahan bisa terselenggara seterusnya, namun tahun ini dianggap pelaksanaannya baru pra, dan akan ditingkatkan terus ke depannya, dimana kegiatan ini akan menampilkan semua kearifan lokalnya yang memang sarat kebudayaan yang berbudaya asli Kuantan Singingi, hal ini juga tertuang dalam visi dan misi Pemerintahan Kabupaten Kuantan Singingi saat ini,” kata Suhardiman Amby menjelaskan.

Kembali Suhardiman Amby mengatakan dengan tegas, dalam hal ini dirinya sudah menugaskan kepada OPD yang membidangi Kebudayaan agar bisa memberikan dan mengembalikan ciri khas kebudayaan lokalnya, meskipun akan di kemas juga dengan sejumlah kebudayaan lain nantinya.

“Hal ini agar mampu menarik perhatian turis-turis nasional dan manca negara nantinya, untuk itu dinas terkait sudah kita tugaskan agar mengerjakan tugas tugas yang cukup berat ini untuk segera dilakukan persiapan sehingga di tahun akan datang bisa terwujud, mampu menampilkan kebudayaan daerah yang memang berbudaya nantinya,” kata Pemimpin Daerah Kota Jalur itu dengan tegas.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR) Kabupaten Kuansing Datuk Seri Pebri Mahmud juga menceritakan terkait tradisi Parahu Baganduang yang ada di Kenegerian Lubuk Jambi Gajah Tunggal.

“Parahu Baganduang itu adalah kendaraan tradisional yang dulunya jalur transportasi melalui sungai, jadi Parahu Baganduang itu adalah kendaraan tradisional di Kenegerian Lubuk Jambi Gajah Tunggal, dan Parahu Baganduang ini di buat sebagai wujud kegembiraan masyarakat adat, contohnya dalam perayaan hari raya Idul Fitri, manjalan ninik mamak atau pemangku adat, dan juga apabila panen berhasil di jemput dengan Parahu Baganduang, nah seperti itulah kebudayaan aslinya,” begitu kata Datuk Seri Pebri Mahmud menjelaskan.

Dalam giat ini, Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, Drs. Azhar, MM.,CPM mengatakan, Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Kuansing ke depannya berencana dalam pelaksanaan Pacu Jalur akan dilaksanakan lebih meriah dan lebih besar lagi dan dilengkapi juga dengan pertunjukan-pertunjukan kebudayaan Kabupaten Kuansing yang lainnya.

Dimana, dikatakan Azhar, hal itu sesuai instruksi Plt Bupati Kuansing H Suhardiman Amby dan telah dilakukan sejumlah progres untuk perhelatan negeri yang lebih besar lagi ke depannya.

“Kami sampaikan kepada media sosial agar senantiasa bersinergi dan menyampaikan kepada masyarakat luas sehingga hal ini bisa terlaksana sesuai rencana nantinya, dimana Pacu Jalur Tradisional Kabupaten Kuantan Singingi ini hanya akan dilaksanakan dalam tiga agenda besar kabupaten nantinya,” kata Azhar.

Dikatakan Azhar lagi, bahwa dalam pelaksanaan agenda Pacu Jalur di Kabupaten Kuansing ke depannya tidak ada lagi istilah pacu rayon, namun akan dilaksanakan di tiga event besar daerah nantinya, yakni event Kabupaten, event Kebudayaan, dan event Nasional.

“Sudah tidak ada lagi istilah pacu rayon, ke depan hanya akan dilaksanakan tiga event besar kebudayaan kabupaten, yakni Pacu Jalur event Kabupaten di Lubuk Jambi yang akan dilaksanakan pada setiap awal bulan Agustus, dan Pacu Jalur event Kebudayaan di Baserah yang akan dilaksanakan setiap pertengahan bulan Agustus, serta Pacu Jalur event Nasional di Teluk Kuantan dilaksanakan akhir bulan Agustus nantinya,” demikian kata Azhar menyampaikan.**






Tulis Komentar