Dari Sombah Cerano, Plt Bupati Membaca Masa Depan Identitas Kuansing

foto: doc. kilasriau.com

Plt Bupati dan Jalan Pulang Kebudayaan Kuansing

KilasRiau.com — Ada jenis kekuasaan yang gemar memperlihatkan dirinya melalui pembangunan fisik.

Ia berbicara melalui beton, jalan, gedung, angka anggaran, proyek, dan seremoni.

Tetapi ada jenis kepemimpinan lain yang bekerja dengan cara yang lebih sunyi: mengembalikan manusia kepada akar kebudayaannya.

Di titik itulah cara Plt Bupati Kuantan Singingi melihat Sombah Cerano terasa menarik untuk dicermati.

Bukan karena sebuah tari tiba-tiba menjadi penting hanya karena dilirik seorang pejabat.

Tetapi karena perhatian terhadap Sombah Cerano membuka kemungkinan yang jauh lebih besar: kebudayaan ditempatkan kembali sebagai bagian dari pembangunan identitas daerah.

Ini bukan perkara kecil.

Sebab di tengah negara yang terus bergerak menuju modernitas, banyak daerah justru menghadapi persoalan yang sama: bagaimana menjadi modern tanpa kehilangan ingatan.

Bagaimana membangun masa depan tanpa memutus hubungan dengan leluhur.

Bagaimana menjadi terbuka terhadap dunia tanpa kehilangan wajah sendiri.

Dan bagaimana sebuah pemerintahan memahami bahwa pembangunan manusia tidak selesai dengan membangun infrastruktur.

Di situlah kebudayaan bekerja.

Jika membaca semangat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan secara substantif, kebudayaan tidak diperlakukan sebagai benda mati yang cukup disimpan di museum.

Ada gagasan tentang pelindungan, pengembangan, pemanfaatan, dan pembinaan kebudayaan.

Artinya, kebudayaan harus digali.

Dipelajari.

Dirawat.

Dikembangkan.

Dihidupkan kembali ketika mulai ditinggalkan.

Diberi ruang untuk tumbuh.

Dikaryakan.

Diperkenalkan.

Dan diwariskan kepada generasi berikutnya.

Semangat semacam itu terasa memiliki relevansi ketika perhatian diarahkan kepada Sombah Cerano.

Sebab yang hendak diselamatkan sesungguhnya bukan hanya gerak tari.

Yang hendak diselamatkan adalah pengetahuan yang berada di balik gerak tersebut.

Adabnya.

Filosofinya.

Simbolnya.

Hubungan sosial yang dikandungnya.

Dan cara masyarakat Kuansing memahami penghormatan.

Di sinilah kepemimpinan kebudayaan membutuhkan kebijaksanaan.

Kebudayaan tidak bisa diperintah dengan instruksi semata.

Ia tidak tumbuh karena surat keputusan.

Ia tidak hidup karena spanduk.

Ia tidak menjadi kuat karena sebuah acara resmi dibuka oleh pejabat.

Kebudayaan hidup ketika masyarakat merasa bahwa apa yang mereka warisi memang layak dicintai.

Maka pemerintah seharusnya bukan mengambil alih kebudayaan.

Pemerintah harus membuka ruang agar kebudayaan dapat tumbuh dengan pemilik dan komunitasnya sendiri.

Pelaku seni diberi tempat.

Tokoh adat diberi ruang.

Budayawan didengar.

Akademisi dilibatkan.

Generasi muda diberi kesempatan.

Dan para pewaris tradisi tidak diposisikan sekadar sebagai pelengkap acara.

Inilah kepemimpinan yang lebih arif.

Bukan menguasai kebudayaan.

Tetapi melayani kehidupan kebudayaan.

Sombah Cerano sendiri memberi pelajaran yang menarik tentang kepemimpinan.

Lihatlah gerak dasarnya.

Sombah.

Menunduk.

Merendahkan tubuh.

Tetapi bukan merendahkan martabat.

Justru dari sana lahir penghormatan.

Ada filosofi kepemimpinan yang sangat dalam di balik simbol itu.

Bahwa seseorang yang memegang amanah tidak selalu harus berdiri paling tinggi.

Kadang ia justru harus mampu menundukkan egonya.

Mendengar masyarakat.

Mendengar pelaku budaya.

Mendengar sejarah.

Mendengar suara leluhur yang datang melalui tradisi.

Dan mungkin karena itulah perhatian terhadap Sombah Cerano terasa lebih dari sekadar agenda kebudayaan.

Ia seperti menemukan metafora tentang bagaimana kekuasaan seharusnya bekerja:

semakin besar kewenangan yang berada di tangan seseorang, semakin besar pula kebutuhan untuk menundukkan ego.

Di tengah birokrasi yang sering terjebak pada target dan administrasi, kebudayaan mengajarkan sesuatu yang berbeda.

Ada hal-hal yang tidak dapat dihitung hanya dengan angka.

Bagaimana mengukur harga sebuah lagu tua?

Bagaimana menghitung nilai sebuah gerak yang diwariskan selama beberapa generasi?

Bagaimana memberi harga pada sebuah petuah yang membuat seorang anak memahami sopan santun?

Bagaimana memasukkan nilai penghormatan kepada orang tua ke dalam tabel indikator?

Tidak semua yang penting dapat dihitung.

Dan tidak semua yang dapat dihitung adalah yang paling penting.

Kebudayaan berada di wilayah itu.

Ia bekerja perlahan.

Tetapi pengaruhnya bisa panjang.

Satu gerak tari dapat mengajarkan kesantunan kepada puluhan anak.

Satu tradisi dapat menyambungkan satu generasi dengan generasi sebelumnya.

Satu simbol dapat membuat seseorang memahami bahwa dirinya berasal dari sebuah masyarakat yang memiliki sejarah.

Karena itu, jika Plt Bupati benar-benar melihat Sombah Cerano sebagai sesuatu yang patut digali, dibina, ditumbuhkembangkan, direvitalisasi, direkonstruksi, dikaryakan kembali dan dipromosikan, maka pendekatan tersebut seharusnya diteruskan menjadi gerakan kebudayaan yang lebih luas.

Bukan berhenti pada satu tari.

Sombah Cerano bisa menjadi pintu.

Setelah pintu terbuka, Kuansing dapat kembali melihat kekayaan budayanya sendiri.

Musik tradisional.

Oguang.

Calempong.

Gondang kayat.

Silek.

Kotuak.

Berbagai bentuk sastra lisan.

Permainan tradisional.

Arsitektur tradisional.

Kuliner.

Bahasa.

Pakaian adat.

Ritual.

Pengetahuan masyarakat tentang alam.

Dan berbagai ekspresi kebudayaan yang mungkin selama ini hidup, tetapi belum memperoleh dokumentasi dan perhatian yang memadai.

Sebab kebudayaan yang tidak dicatat akan mudah hilang.

Dan yang lebih berbahaya lagi:

yang hilang sering kali baru disadari setelah orang terakhir yang mengetahuinya meninggal dunia.

Maka gagasan Sombah Cerano menuju WBTb harus dibaca sebagai momentum.

Bukan sebagai tujuan akhir.

Kalau prosesnya dilakukan serius, Kuansing dapat membangun satu sistem dokumentasi kebudayaan yang jauh lebih kuat.

Setiap tradisi ditelusuri.

Setiap pelaku dicatat.

Setiap cerita direkam.

Setiap simbol dijelaskan.

Setiap perubahan didokumentasikan.

Dan setiap generasi diberikan kesempatan untuk meneruskan.

Dengan begitu, pemerintah tidak hanya menyelamatkan masa lalu.

Pemerintah sedang menyiapkan masa depan.

Ada satu hal lagi yang sangat penting.

Promosi kebudayaan jangan berhenti pada promosi keluar.

Sebab sebelum kebudayaan dipromosikan kepada wisatawan, nasional, bahkan dunia, kebudayaan itu harus terlebih dahulu dikenal oleh anak-anak negeri sendiri.

Anak Kuansing harus tahu apa itu Sombah Cerano.

Harus tahu mengapa tubuh menunduk.

Harus tahu mengapa cerano dipersembahkan.

Harus memahami apa arti penghormatan.

Karena jangan sampai sebuah tradisi justru lebih dikenal oleh orang luar daripada oleh anak-anak yang lahir dari tanah tempat tradisi itu tumbuh.

Itu akan menjadi ironi kebudayaan.

Dikenal dunia, tetapi asing bagi pewarisnya sendiri.

Maka di sinilah kesempatan emas itu berada.

Kuansing tidak perlu menciptakan identitas dari nol.

Identitas itu sudah ada.

Ia hidup dalam adat.

Hidup dalam bahasa.

Hidup dalam Pacu Jalur.

Hidup dalam Sombah Cerano.

Hidup dalam musik.

Hidup dalam cerita orang tua.

Hidup dalam ingatan masyarakat.

Persoalannya bukan apakah Kuansing memiliki kebudayaan.

Persoalannya adalah:

apakah Kuansing cukup serius untuk merawatnya?

Apakah pemerintah mau menjadikannya agenda pembangunan?

Apakah lembaga pendidikan mau mengajarkannya?

Apakah komunitas budaya mau dilibatkan?

Apakah generasi muda mau diberi ruang?

Dan apakah semua pihak mau memahami bahwa kebudayaan bukan aksesori pembangunan?

Ia adalah fondasi identitas.

Di sinilah sosok Plt Bupati dapat dilihat dalam perspektif yang lebih luas.

Bukan semata-mata sebagai pejabat yang melihat sebuah tarian.

Tetapi sebagai pemimpin daerah yang memiliki kesempatan untuk membaca kebudayaan sebagai jalan pulang sebuah masyarakat kepada dirinya sendiri.

Sebab pemerintahan yang hanya sibuk mengurus hari ini akan selalu tertinggal oleh zaman.

Pemerintahan yang berpikir tentang generasi berikutnya akan meninggalkan warisan.

Dan warisan terbaik tidak selalu berupa bangunan.

Kadang-kadang ia berupa nilai.

Kadang-kadang berupa bahasa.

Kadang-kadang berupa seni.

Kadang-kadang berupa sebuah gerakan sederhana seorang manusia yang menundukkan tubuhnya di hadapan manusia lain.

Sombah.

Ada keindahan yang sangat dalam di sana.

Kekuasaan biasanya berdiri.

Adat justru menunduk.

Kekuasaan berbicara keras.

Adat berbicara perlahan.

Kekuasaan mengejar hari ini.

Adat mengingatkan masa lalu agar masa depan tidak kehilangan arah.

Mungkin itulah sebabnya Sombah Cerano memiliki daya simbolik yang kuat.

Ia mengingatkan bahwa sebuah negeri tidak menjadi besar karena semua orang ingin berada di atas.

Sebuah negeri menjadi besar ketika masyarakatnya tahu bagaimana menghormati, mendengar, dan menjaga keseimbangan.

Dan jika prinsip itu benar-benar diterjemahkan ke dalam kebijakan kebudayaan, maka perhatian terhadap Sombah Cerano bukan lagi sekadar apresiasi.

Ia menjadi bagian dari sebuah proyek yang lebih besar:

proyek mengembalikan marwah kebudayaan Kuantan Singingi.

Pada akhirnya, kita boleh membangun jalan.

Kita boleh membangun gedung.

Kita boleh membangun pusat ekonomi.

Tetapi jangan lupa membangun sesuatu yang tidak terlihat:

ingatan.

Karena ketika bangunan runtuh, manusia masih dapat membangun kembali.

Tetapi ketika ingatan sebuah masyarakat hilang, generasi berikutnya mungkin bahkan tidak tahu apa yang harus dibangun kembali.

Maka jika Sombah Cerano hari ini sedang mendapatkan perhatian, jangan biarkan ia berhenti sebagai seremoni.

Jadikan ia penelitian.

Jadikan ia pendidikan.

Jadikan ia dokumentasi.

Jadikan ia ruang kreativitas.

Jadikan ia diplomasi budaya.

Jadikan ia bagian dari ekonomi kreatif yang tetap menghormati nilai adat.

Dan jika secara kajian memenuhi persyaratan, dorong dengan serius menuju WBTb.

Bukan demi sertifikat.

Bukan demi kebanggaan administratif.

Tetapi demi satu hal yang jauh lebih penting:

agar generasi Kuansing berikutnya masih memiliki sesuatu yang dapat mereka sebut sebagai milik mereka sendiri.

Sebab pada akhirnya, sebuah negeri membutuhkan identitas untuk menjawab pertanyaan paling sederhana sekaligus paling sulit:

“Siapa kami?”

Dan mungkin, melalui Sombah Cerano, Kuansing sedang menemukan jawabannya.

Bukan dengan berteriak.

Bukan dengan memamerkan kekuasaan.

Tetapi dengan sebuah gerakan yang sangat sederhana:

menunduk dengan hormat.

Karena terkadang, sebuah negeri baru benar-benar tegak ketika ia berani menundukkan kepalanya kepada adat, sejarah, dan kebijaksanaan leluhur.*(ald)

 

 

source: epi martison, seniman budayawan nasional lulusan institut kesenian jakarta/aldian.






Tulis Komentar