Asap Tebal Ganggu Pembelajaran, Sejumlah Sekolah di Inhil Terapkan PJJ

Kilasriau.com – Kondisi udara yang berubah-ubah akibat kabut asap menjadi perhatian Dinas Pendidikan Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), Riau. Sejumlah sekolah di wilayah yang terdampak bahkan mulai menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) sebagai langkah antisipasi terhadap kondisi udara yang dinilai belum stabil.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Inhil, Abdul Rasyid, mengatakan kondisi Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) tidak dapat dipastikan sepanjang hari. Ketebalan asap dapat berubah dalam waktu relatif singkat, mulai dari pagi hingga sore hari.

Hal tersebut disampaikan Abdul Rasyid saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (16/9/2026) sore.

Menurutnya, kondisi asap yang terkadang menebal pada pagi hari, kemudian menipis pada siang hari dan kembali pekat menjelang sore atau Magrib, menjadi salah satu pertimbangan sekolah dalam menentukan pola pembelajaran.

“ISPU tidak bisa diprediksi, sebab terkadang pagi asap tebal, terkadang siang menipis, dan sore menjelang Magrib kembali menebal,” ujar Rasyid.

Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Pendidikan memberikan ruang kepada sekolah untuk mengambil langkah penyesuaian pembelajaran sesuai situasi di masing-masing wilayah. Salah satunya dengan menerapkan PJJ bagi sekolah yang berada di kawasan dengan kondisi udara yang kurang baik.

PJJ tersebut, kata Rasyid, dapat dilakukan dengan berbagai metode. Pembelajaran tidak selalu harus berlangsung secara daring, tetapi juga dapat dilakukan secara luring melalui pemberian tugas kepada siswa.

“Baik secara online ataupun offline dalam bentuk pemberian tugas oleh guru ke siswa,” jelasnya.

Rasyid menyebut, sejumlah wilayah di bagian selatan Inhil telah menerapkan PJJ sebagai respons terhadap kondisi asap. Beberapa di antaranya yakni Kecamatan Kemuning, Keritang, Kayu Raja, Kempas, Reteh, hingga Tembilahan dan wilayah sekitarnya.

“Di antaranya Kemuning, Keritang, Kayu Raja karena di situ titik apinya, Kempas, Reteh dan Tembilahan dan sekitarnya,” sebutnya.

Selain menyesuaikan pola pembelajaran, Dinas Pendidikan juga menyampaikan bahwa satuan pendidikan dapat memanfaatkan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) untuk memenuhi kebutuhan dalam mengantisipasi dampak kabut asap.

Penggunaan dana tersebut antara lain dapat diarahkan untuk pengadaan masker bagi warga sekolah maupun perlengkapan yang mendukung sirkulasi udara di ruang kelas, seperti blower dan kipas angin.

“Sebenarnya dana BOS itu bisa digunakan untuk membeli keperluan untuk mengantisipasi asap, seperti masker. Di ruangan juga bisa untuk blower dan kipas angin guna mengusir jerebu di ruangan sekolah. Cuman saya belum tahu persis sejauh mana laporan mereka, artinya boleh,” katanya.

Meski demikian, penerapan PJJ tidak dilakukan secara permanen. Kebijakan tersebut akan terus dievaluasi dengan mempertimbangkan perkembangan kualitas udara di masing-masing wilayah.

Rasyid mengatakan evaluasi dilakukan secara berkala untuk memastikan apakah pembelajaran masih perlu dilakukan dari jarak jauh atau sudah memungkinkan kembali dilaksanakan secara tatap muka.

“Sistemnya tiga hari sekali evaluasi. Apabila udara sudah mulai membaik, maka dilakukan sistem pembelajaran tatap muka,” pungkas Rasyid.






Tulis Komentar