Panen Jagung Koto Sentajo Meledak! Produksi Diprediksi 3,3 Ton per Hektare, Desa Gaspol Dukung Swasembada Pangan 2026
KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Upaya memperkuat ketahanan dan swasembada pangan terus digerakkan hingga ke tingkat desa. Di Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, lahan perkebunan Desa Koto Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, menjadi lokasi panen tanaman jagung pipil yang digelar Senin (31/8/2026).

Kegiatan yang dimulai sekitar pukul 09.00 WIB tersebut merupakan bagian dari upaya mendukung program Swasembada Pangan Tahun 2026, sekaligus melihat secara langsung potensi produksi komoditas jagung di tingkat desa.
Panen itu melibatkan unsur pemerintah kecamatan, pemerintah desa, kepolisian, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), penyuluh pertanian lapangan (PPL), Badan Permusyawaratan Desa (BPD), hingga pendamping desa.
Camat Sentajo Raya diwakili Kasi Trantib, Amrul Azmi. Sementara dari Pemerintah Desa Koto Sentajo hadir Kepala Desa Koto Sentajo, H. Bahmada, A.Md, bersama jajaran perangkat desa.
Dari unsur kepolisian turut hadir Kanit Binmas Polsek Kuantan Tengah Ipda Asrul dan Bhabinkamtibmas Desa Koto Sentajo Aipda Asril Ali.
Kegiatan juga diikuti Ketua BUMDes Sumber Berkah Amprianto bersama anggota, PPL Desa Koto Sentajo Naparion bersama anggota, Ketua BPD Koto Sentajo Masrianto beserta anggota, serta Pendamping Desa Kardinata bersama anggota.
Dalam kegiatan tersebut, penghitungan potensi hasil panen dilakukan menggunakan metode ubinan yang digunakan Dinas Pertanian.
Pengukuran dilakukan pada bidang lahan berukuran 2,5 meter x 2,5 meter. Dari ukuran tersebut diperoleh hasil sekitar 5,9 kilogram jagung pipil.
Berdasarkan penghitungan sementara Dinas Pertanian, produktivitas tanaman jagung pipil di Desa Koto Sentajo diperkirakan mencapai 3,3 ton per hektare.
Angka tersebut menjadi gambaran awal mengenai potensi produksi jagung yang dapat dikembangkan di wilayah Desa Koto Sentajo.
Bagi pemerintah desa, kegiatan panen bukan sekadar agenda seremonial. Produksi pertanian menjadi salah satu bagian penting dalam memperkuat ketahanan pangan masyarakat sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan lahan yang tersedia.
Program swasembada pangan tidak semata berbicara tentang produksi dalam skala besar. Ketahanan pangan juga dibangun dari kemampuan daerah dan desa dalam mengoptimalkan potensi pertanian lokal.
Jagung menjadi salah satu komoditas yang memiliki nilai strategis karena dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, termasuk bahan pangan maupun pakan.
Karena itu, produktivitas lahan menjadi salah satu faktor penting yang perlu diperhatikan. Penghitungan menggunakan metode ubinan memberikan gambaran mengenai potensi produksi dalam luasan tertentu sebelum kemudian diproyeksikan ke luasan satu hektare.
Dengan estimasi produktivitas 3,3 ton per hektare, pengembangan tanaman jagung di Desa Koto Sentajo masih memiliki ruang untuk terus ditingkatkan melalui pendampingan, penerapan teknik budidaya yang tepat, serta pengelolaan pascapanen.
Keterlibatan PPL dan pendamping desa juga menjadi bagian penting dalam memastikan program pertanian tidak berhenti pada kegiatan tanam dan panen, tetapi dapat berkembang menjadi aktivitas ekonomi masyarakat yang berkelanjutan.
Panen jagung tersebut sekaligus menjadi momentum bagi Pemerintah Desa Koto Sentajo untuk melihat sejauh mana program ketahanan pangan dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Sebab, keberhasilan program pangan tidak cukup hanya diukur dari berapa ton hasil panen yang diperoleh. Ada persoalan lain yang tidak kalah penting, mulai dari keberlanjutan produksi, kualitas hasil panen, pemasaran, harga jual, hingga kemampuan petani memperoleh keuntungan yang layak.
Jika mata rantai tersebut dapat dibangun dengan baik, sektor pertanian desa tidak hanya berfungsi sebagai penopang kebutuhan pangan, tetapi juga mampu menjadi sumber penghasilan masyarakat.
Di sisi lain, keterlibatan BUMDes Sumber Berkah membuka peluang agar komoditas pertanian desa tidak berhenti sebagai hasil produksi mentah.
BUMDes dapat didorong mengambil peran dalam pengelolaan hasil pertanian, termasuk penguatan rantai pemasaran dan pengembangan potensi ekonomi desa, sesuai kewenangan dan kemampuan kelembagaan yang dimiliki.
Panen jagung di Koto Sentajo memperlihatkan bahwa program ketahanan pangan membutuhkan kolaborasi banyak pihak.
Pemerintah kecamatan hadir melalui unsur Trantib, pemerintah desa menjadi pelaksana di tingkat lokal, kepolisian melalui Bhabinkamtibmas ikut mendukung kegiatan, sementara penyuluh pertanian dan pendamping desa memberikan dukungan dari sisi teknis dan pendampingan.
BPD juga memiliki posisi penting dalam menjalankan fungsi kelembagaan desa, sementara BUMDes dapat menjadi salah satu instrumen penggerak ekonomi apabila mampu dikelola secara profesional.
Kolaborasi tersebut menjadi modal penting untuk memastikan program pangan benar-benar berjalan di lapangan.
Hasil sementara yang mencapai sekitar 3,3 ton per hektare menjadi catatan awal dalam pengembangan komoditas jagung di Desa Koto Sentajo.
Namun, angka tersebut juga perlu dibaca sebagai dasar evaluasi. Pemerintah dan para pemangku kepentingan dapat menjadikannya sebagai bahan untuk mengukur produktivitas pada musim tanam berikutnya.
Jika produktivitas dapat ditingkatkan tanpa mengorbankan keberlanjutan lahan dan pendapatan petani, maka kontribusi desa terhadap program swasembada pangan juga semakin besar.

Pada akhirnya, swasembada pangan bukan hanya tentang bagaimana sebuah daerah menghasilkan bahan pangan dalam jumlah besar. Lebih jauh, ia menyangkut kemampuan masyarakat untuk memproduksi, mengelola, mendistribusikan, dan memperoleh manfaat ekonomi dari hasil pertanian tersebut.
Dari lahan perkebunan Desa Koto Sentajo, langkah itu kembali dimulai.
Panen jagung hari ini menjadi bukti bahwa agenda besar ketahanan pangan nasional juga memiliki denyutnya di desa-desa—termasuk Koto Sentajo.*(ald)

Tulis Komentar