Tanggal Pacu Jalur Tepian Narosa Berubah, Junaidi: Jangan Cabut Tradisi dari Ingatan Masyarakat
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Ada yang berubah dari Pacu Jalur di Tepian Narosa. Bukan hanya ukuran perhelatannya yang kini dibungkus sebagai event nasional, tetapi juga kalendernya. Perubahan tanggal pelaksanaan yang terjadi dari waktu ke waktu kini dipertanyakan karena dinilai berpotensi mengikis salah satu penanda tradisi yang selama ratusan tahun hidup dalam ingatan masyarakat Kuantan Singingi.
Ketua LSM Permata Kuansing, Junaidi Affandi, mempertanyakan alasan tanggal pelaksanaan Pacu Jalur di Tepian Narosa tidak lagi dipertahankan sebagaimana pola yang selama ini dikenal masyarakat.
Pertanyaan itu disampaikannya dalam diskusi ringan di Teluk Kuantan, Sabtu (22/8/2026) malam.
Bagi Junaidi, persoalan tanggal bukan perkara administratif semata. Di balik sebuah tanggal terdapat ingatan, kebiasaan, kerinduan dan tradisi masyarakat yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Kalau memang Pacu Jalur di Tepian Narosa itu event nasional, harusnya tanggal yang sudah ditetapkan tidak serta-merta diubah. Ini tradisi yang harus kita kembalikan ke asalnya,” ujar Junaidi.
Menurut dia, menjadikan Pacu Jalur sebagai event nasional seharusnya tidak berarti mengubah karakter dasarnya. Justru ketika sebuah tradisi lokal dibawa ke panggung nasional, akar tradisi tersebut harus semakin kuat.
Jangan sampai, kata dia, yang dipertahankan hanya kemasan festival, sementara kebiasaan dan penanda tradisional yang menjadi identitas masyarakat justru perlahan ditinggalkan.
Junaidi melihat salah satu persoalan yang membuat kemeriahan Pacu Jalur di Teluk Kuantan tidak lagi selalu terasa seperti dahulu adalah perubahan tanggal pelaksanaan.
Masyarakat, menurut dia, membutuhkan kepastian.
Mereka perlu mengetahui kapan harus pulang ke kampung, kapan harus mengajak keluarga ke Tepian Narosa, kapan pedagang mulai mempersiapkan dagangan, dan kapan para perantau menyusun agenda untuk menyaksikan tradisi yang hanya datang sekali dalam setahun.
“Menurut saya, salah satu tidak terasanya Pacu Jalur di Teluk Kuantan ini semarak seperti dulu karena tanggalnya selalu berubah-ubah,” katanya.
Ia mengingatkan, masyarakat selama ini telah memiliki semacam kalender budaya sendiri.
Pacu Jalur di Tepian Narosa dikenal berlangsung setiap Agustus, setelah peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Dalam ingatan masyarakat, tanggal 23 Agustus menjadi salah satu penanda penting untuk pelaksanaan pacu jalur utama.
Sedangkan tanggal 19 Agustus, menurut Junaidi, selama ini dikenal sebagai momentum Pacu Jalur Mini yang menjadi pembuka rangkaian menuju pacu jalur utama.
“Biasanya masyarakat tahu kalau Pacu Jalur di Tepian Narosa pada setiap Agustus setelah hari kemerdekaan. Tanggal 23 Agustus itu ditetapkan setiap tahunnya. Dan tanggal 19 itu Pacu Jalur Mini sebagai pembuka Pacu Jalur event nasional,” ujarnya.
Bagi Junaidi, pola semacam itu bukan sekadar kebiasaan. Ia telah menjadi bagian dari cara masyarakat mengingat dan menunggu datangnya Pacu Jalur.
Ketika tanggal berubah, menurut dia, yang ikut berubah adalah pola persiapan masyarakat.
Perantau tidak lagi memiliki kepastian kapan harus pulang. Pedagang tidak lagi memiliki patokan yang sama. Masyarakat luar daerah yang ingin menyaksikan pacu jalur juga harus menyesuaikan kembali agenda mereka.
Dalam konteks itulah ia mempertanyakan: apakah tradisi boleh diubah hanya karena alasan teknis penyelenggaraan?
Pacu Jalur memang telah mengalami transformasi besar.
Dari sebuah tradisi masyarakat di sepanjang Batang Kuantan, pacu jalur kini menjadi magnet wisata budaya yang mampu menarik perhatian masyarakat dari berbagai daerah.
Status dan skala penyelenggaraan yang semakin besar tentu membutuhkan penyesuaian. Ada persoalan anggaran, keamanan, transportasi, kepadatan lalu lintas, agenda pemerintah, kedatangan tamu, hingga kalender pariwisata.
Namun, Junaidi mengingatkan, modernisasi tidak boleh menghilangkan akar.
Sebab, justru karena memiliki akar tradisional itulah Pacu Jalur mempunyai nilai yang tidak dimiliki oleh festival biasa.
“Banyak hal yang sakral kemudian diubah tidak berdasarkan apa yang menjadi tradisi. Padahal tradisi itu sesuatu yang ditetapkan satu kali dalam setahun,” ujarnya.
Ia menegaskan, tradisi bukan sesuatu yang semestinya terus-menerus dinegosiasikan mengikuti keadaan.
Tradisi, menurutnya, memiliki kepastian agar masyarakat dapat membangun ingatan kolektif.
“Tradisi itu sesuatu yang dirindukan dan ditetapkan,” katanya.
Kalimat itu menjadi inti kritik Junaidi.
Sebab tradisi pada dasarnya bukan hanya tentang apa yang dilakukan, tetapi juga tentang kapan masyarakat melakukannya.
Junaidi tidak mempersoalkan apabila Pacu Jalur dikembangkan menjadi agenda nasional. Bahkan, ia menilai langkah tersebut seharusnya menjadi kebanggaan masyarakat Kuansing.
Namun, ia meminta agar proses nasionalisasi tidak membuat tradisi lokal kehilangan identitasnya.
Menurut dia, ada perbedaan antara mengembangkan tradisi dengan mengubah tradisi.
Mengembangkan berarti memperluas panggung tanpa mencabut akar.
Sementara mengubah tanpa dasar yang kuat berpotensi membuat generasi berikutnya tidak lagi mengenali bentuk asli dari tradisi tersebut.
“Kalau memang kita mau menjadikan Pacu Jalur sebagai event nasional, maka tradisinya harus semakin kuat. Jangan sampai event-nya nasional, tetapi tradisinya malah semakin jauh dari asalnya,” kata Junaidi.
Kritik itu juga menyentuh bagaimana pemerintah dan panitia seharusnya memandang Pacu Jalur.
Pacu Jalur tidak boleh hanya ditempatkan sebagai pertunjukan wisata tahunan. Di dalamnya terdapat sejarah panjang masyarakat Kuansing, gotong royong, identitas kampung, kebanggaan daerah, serta hubungan sosial yang dibangun jauh sebelum istilah event nasional digunakan.
Ada kampung yang berbulan-bulan mempersiapkan jalur.
Ada anak pacu yang berlatih.
Ada masyarakat yang bergotong royong.
Ada keluarga yang menabung agar bisa pulang.
Dan ada perantau yang menunggu satu momentum dalam setahun untuk kembali melihat kampung halamannya.
Semua itu membutuhkan satu hal sederhana: kepastian waktu.
Di banyak daerah, tradisi bertahan bukan semata-mata karena regulasi. Tradisi bertahan karena masyarakat memiliki ingatan yang sama.
Mereka tahu kapan sebuah upacara berlangsung.
Mereka tahu kapan sebuah pesta rakyat dimulai.
Mereka tahu kapan harus pulang.
Begitu pula dengan Pacu Jalur.
Ia bukan sekadar perlombaan dua jalur yang beradu cepat di atas Batang Kuantan. Ia adalah momentum sosial yang menggerakkan sebuah daerah.
Karena itu, ketika kalendernya berubah-ubah, dampaknya bisa lebih luas daripada sekadar perubahan jadwal pertandingan.
Junaidi menilai, pemerintah semestinya duduk bersama tokoh adat, pelaku budaya, masyarakat, para pemilik jalur, dan pihak-pihak yang selama ini menjadi bagian dari Pacu Jalur untuk membicarakan kembali persoalan tersebut.
Bukan hanya menentukan tanggal berdasarkan kalender kegiatan pemerintah, tetapi menetapkan sebuah kalender budaya yang dapat dipahami dan dipegang masyarakat.
“Kalau tanggalnya sudah ditetapkan, masyarakat akan tahu dan menunggu. Itu yang membuat tradisi hidup,” katanya.
Pernyataan Junaidi pada akhirnya bukan hanya kritik terhadap perubahan tanggal.
Ia sedang mengingatkan bahwa sebuah tradisi akan kehilangan daya hidup jika masyarakat tidak lagi merasa memiliki kepastian terhadapnya.
Pacu Jalur seharusnya menjadi momentum yang dinanti.
Bukan sesuatu yang baru diketahui setelah kalender resmi diumumkan setiap tahun.
Sebab, masyarakat semestinya sudah tahu: ketika Agustus datang, setelah merah putih berkibar dalam perayaan kemerdekaan, Batang Kuantan akan kembali menjadi panggung besar bagi jalur-jalur terbaik.
Tepian Narosa kembali dipenuhi manusia.
Suara tambur menggema.
Sorak suporter pecah.
Anak pacu mengayuh dengan seluruh tenaga.
Dan masyarakat kembali berkumpul di tepian sungai.
Itulah kerinduan yang ingin dipertahankan Junaidi.
“Tradisi itu sesuatu yang dirindukan dan ditetapkan,” tegasnya.
Kini, bola berada di tangan pemerintah dan penyelenggara.
Jika Pacu Jalur hendak terus didorong menjadi event nasional, pertanyaan besarnya bukan lagi sekadar bagaimana mendatangkan lebih banyak wisatawan atau membuat panggung lebih megah.
Pertanyaannya jauh lebih mendasar:
Apakah Pacu Jalur akan tetap menjadi tradisi masyarakat Kuansing yang kemudian menjadi event nasional, atau berubah menjadi event nasional yang perlahan kehilangan tradisi masyarakat yang melahirkannya?
Sebab, ketika sebuah tradisi sudah kehilangan tanggal yang dirindukan, bukan tidak mungkin suatu hari generasi berikutnya hanya mengenal Pacu Jalur sebagai sebuah festival.
Padahal jauh sebelum menjadi festival, ia adalah ingatan masyarakat yang hidup setahun sekali di sepanjang Batang Kuantan.*(ald)

Tulis Komentar