Harapan Besar Masyarakat Kuansing di Balik Laga Keramat Jubah Merah vs Untung Bertuah di Baserah
KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) — Denyut tepian sungai kembali berdegup. Sorak penonton, denting suara tepukan, dan deru semangat anak pacu akan kembali memenuhi Tepian Lubuk Sobae, Baserah, Kecamatan Kuantan Hilir, Kabupaten Kuantan Singingi, Jumat (14/8/2026).
Memasuki hari kedua perhelatan pacu jalur di Baserah, satu nama kembali menjadi buah bibir masyarakat Kuantan Singingi: Keramat Jubah Merah.
Jalur kebanggaan Kuansing itu diharapkan mampu kembali menunjukkan taringnya ketika berhadapan dengan Untung Bertuah dari Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu).
Pertarungan tersebut bukan sekadar adu cepat dua jalur di atas permukaan sungai. Bagi masyarakat Kuansing, setiap hentakan dayung Keramat Jubah Merah membawa harapan, kebanggaan, sekaligus harga diri budaya daerah yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Khusus masyarakat Kecamatan Sentajo Raya, dukungan terhadap Keramat Jubah Merah terasa semakin kuat.
Nama jalur itu kini tidak hanya disebut di tepian arena pacu. Ia menjadi bahan percakapan di kedai-kedai, rumah warga, hingga ruang-ruang keluarga. Harapan sederhana terus mengemuka: semoga Jubah Merah mampu melaju dan memenangkan pertarungan.
“Insya Allah Jubah Merah!”
Kalimat pendek itu menjadi gambaran optimisme masyarakat.
Pacu jalur bagi masyarakat Kuantan Singingi bukan sekadar perlombaan tradisional. Di balik panjangnya jalur, kekompakan anak pacu dan hentakan dayung, terdapat identitas budaya yang terus dipertahankan.
Karena itu, ketika satu jalur asal Kuansing turun ke gelanggang, dukungan masyarakat seolah bergerak bersama.
Keramat Jubah Merah menjadi salah satunya.
Masyarakat Sentajo Raya berharap jalur tersebut mampu tampil maksimal sejak awal hingga garis finis. Setiap detik menjadi penting. Setiap hentakan dayung menjadi penentu.
Di tengah gemuruh tepian, anak pacu dituntut bukan hanya memiliki tenaga, tetapi juga konsentrasi, kekompakan dan keberanian.
Sebab dalam pacu jalur, keunggulan dapat berubah hanya dalam hitungan detik.
Jalur yang pada awalnya tertinggal bisa mengejar. Sebaliknya, jalur yang sudah berada di depan pun dapat kehilangan momentum apabila kekompakan mulai goyah.
Itulah yang membuat pacu jalur selalu menghadirkan ketegangan tersendiri.
Bagi masyarakat Sentajo Raya, Keramat Jubah Merah diharapkan menjadi salah satu jalur yang mampu membawa nama Kuansing tetap berkibar dalam rangkaian pacu jalur di Tepian Lubuk Sobae.
Dukungan itu bukan berarti meremehkan lawan.
Untung Bertuah dari Inhu tetap dipandang sebagai lawan yang harus diwaspadai. Dalam gelanggang pacu jalur, nama besar dan sejarah kemenangan tidak otomatis menjadi jaminan.
Yang berbicara di sungai adalah kemampuan.
Yang menentukan adalah kekompakan.
Dan yang akhirnya tercatat adalah siapa yang lebih dahulu menyentuh garis kemenangan.
Karena itu, masyarakat berharap para anak pacu Keramat Jubah Merah dapat menjaga fokus, mengikuti komando tukang tari dan tukang tari? serta menjaga ritme dayung hingga ujung perlombaan.
Bagi penonton, mungkin hanya beberapa menit.
Namun bagi anak pacu, waktu sesingkat itu merupakan pertarungan panjang yang membutuhkan tenaga, mental dan konsentrasi penuh.
Pacu jalur di Baserah kembali membuktikan bahwa tradisi lama masih memiliki tempat yang kuat di tengah kehidupan masyarakat modern.
Tepian Lubuk Sobae bukan sekadar lokasi perlombaan. Ia berubah menjadi ruang perjumpaan masyarakat dari berbagai daerah.
Warga datang membawa keluarga. Anak-anak ikut menyaksikan. Generasi muda berdiri di tepian sungai, sementara para orang tua kembali mengingat bagaimana pacu jalur telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kuansing sejak dahulu.
Di sana, sungai menjadi panggung.
Jalur menjadi simbol.
Anak pacu menjadi aktor utama.
Dan masyarakat menjadi saksi sekaligus pemilik tradisi.
Suasana seperti inilah yang membuat pacu jalur selalu memiliki daya tarik tersendiri.
Bukan hanya soal siapa yang menang dan siapa yang kalah, tetapi bagaimana kebudayaan tetap hidup melalui keterlibatan masyarakat.
Pertarungan Keramat Jubah Merah menghadapi Untung Bertuah dari Inhu pada hari kedua pacu jalur Baserah menjadi salah satu laga yang dinantikan.
Masyarakat Kuansing tentu berharap jalur kebanggaan daerahnya mampu memberikan penampilan terbaik.
Tidak ada yang dapat memastikan hasil sebelum dayung benar-benar bergerak.
Tidak ada kemenangan yang dapat dirayakan sebelum jalur melewati garis finis.
Namun satu hal yang sudah pasti: doa dan dukungan masyarakat telah lebih dahulu mengalir ke tepian.
Dari Sentajo Raya, harapan itu dititipkan kepada para anak pacu.
Berlaga dengan tenaga.
Berpacu dengan kekompakan.
Menang dengan kehormatan.
Sebab kemenangan memang menjadi tujuan, tetapi sportivitas dan pelestarian budaya tetap menjadi ruh utama.
Hari ini, Jumat (14/8/2026), Tepian Lubuk Sobae kembali menjadi saksi.
Keramat Jubah Merah akan berhadapan dengan Untung Bertuah.
Dua jalur.
Dua kekuatan.
Satu garis finis.
Dan di belakang Keramat Jubah Merah, ada harapan masyarakat Kuansing yang menunggu dengan doa.
“Insya Allah, Jubah Merah!”
Semoga dayung tetap kompak, langkah tetap seirama, dan semangat tidak padam hingga ujung tepian.
Sebab bagi masyarakat Kuansing, ketika jalur kebanggaan turun ke gelanggang, yang berpacu bukan hanya kayu di atas air.
Ada nama daerah yang ikut dibawa. Ada budaya yang ikut dijaga. Dan ada kebanggaan masyarakat yang ikut mengalir bersama derasnya sungai.*(ald)

Tulis Komentar