Deadline di Depan Mata, Junaidi Affandi Soroti Kesiapan Astaka Tepian Narosa
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Waktu terus bergerak menuju perhelatan Pacu Jalur Event Nasional 2026. Di tengah hitungan hari menuju pembukaan, pekerjaan pembangunan Astaka MTQ Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing) di kawasan Tepian Narosa justru kembali menyisakan tanda tanya. Kamis (13/8/2026).
Sorotan menguat setelah LSM Permata Kuansing turun langsung ke lapangan untuk memastikan progres pembangunan sekaligus mempertanyakan kesiapan fasilitas tersebut menjelang pelaksanaan Pacu Jalur Event Nasional yang dijadwalkan berlangsung 19–23 Agustus 2026.
Di lapangan, pengawas pekerjaan pembangunan Astaka MTQ Kuansing, Yopi, menyebut progres pembangunan saat ini telah mencapai sekitar 90 persen.
Namun ketika ditanya apakah pekerjaan tersebut dapat benar-benar dinyatakan selesai dan clear secara utuh sebelum digunakan dalam perhelatan Pacu Jalur Event Nasional, jawabannya justru memunculkan pertanyaan baru.
“Kalau untuk sampai Pacu Jalur Event Nasional belum bisa clear utuh,” ujar Yopi saat ditemui di lokasi pekerjaan.
Pernyataan tersebut menjadi penting karena tenggat waktu sudah berada di depan mata.
Jika progres baru disebut 90 persen, sementara agenda nasional tinggal menghitung hari, publik tentu berhak mengetahui bagian mana yang masih tersisa, kapan penyelesaiannya, serta apakah pekerjaan yang belum selesai tersebut berpotensi mengganggu fungsi maupun keamanan kawasan Astaka.
Bagi Ketua LSM Permata Kuansing, Junaidi Affandi, persoalannya bukan semata-mata mengejar angka progres pembangunan.
Ia mempertanyakan transparansi penyelenggaraan pekerjaan tersebut. Menurutnya, proyek pemerintah yang menggunakan anggaran publik semestinya dapat diawasi masyarakat secara terbuka, terlebih pembangunan fasilitas yang berkaitan langsung dengan agenda besar daerah.
Saat Junaidi mempertanyakan mengenai Rencana Anggaran Biaya (RAB) pekerjaan, Yopi menyampaikan bahwa pihaknya tidak memiliki kewenangan untuk memperlihatkannya.
Jawaban tersebut kembali memunculkan pertanyaan mengenai sejauh mana ruang publik untuk memperoleh informasi mengenai proyek yang sedang dikerjakan.
Di sisi lain, keberadaan informasi proyek di lokasi juga menjadi sorotan.
Berdasarkan pantauan LSM Permata Kuansing, plang nama kantor pengawasan pekerjaan disebut tidak terpasang.
Ketiadaan plang tersebut dinilai menyulitkan publik untuk mengetahui secara jelas identitas pelaksana, pengawas, nilai pekerjaan, sumber anggaran, waktu pelaksanaan hingga informasi teknis lainnya yang semestinya menjadi bagian dari transparansi proyek.
“Jangan sampai masyarakat hanya disuguhi hasil akhirnya, sementara proses pengerjaannya tertutup. Ini pekerjaan pemerintah dan menggunakan anggaran publik. Semestinya informasi dasarnya jelas dan mudah diakses,” sorot Junaidi.
Menurutnya, angka progres 90 persen harus dapat dijelaskan dengan ukuran yang konkret.
Sebab, persentase tanpa penjelasan mengenai item pekerjaan yang telah dan belum selesai akan sulit diverifikasi publik.
Terlebih, pengawas lapangan sendiri menyebut pembangunan tersebut belum dapat clear utuh apabila dikaitkan dengan pelaksanaan Pacu Jalur Event Nasional.
Pertanyaan berikutnya pun tak terhindarkan:
Jika belum tuntas secara utuh, bagian mana yang belum selesai? Apakah hanya pekerjaan minor atau terdapat pekerjaan penting yang masih harus dikebut?
Pernyataan lain datang dari Agung, yang juga disebut sebagai pengawas lapangan.
Agung menyampaikan bahwa plang yang memuat informasi pagu anggaran pembangunan Astaka tersebut sudah dicabut.
Sebab bagi publik, informasi mengenai nilai anggaran merupakan salah satu bagian penting dalam pengawasan pekerjaan yang bersumber dari keuangan negara.
Jika benar plang informasi anggaran telah dicabut, dengan alasan acara MTQ ke 44 tingkat Provinsi dilaksanakan, publik berhak mendapatkan penjelasan: mengapa setelah dicabut karena berlangsungnya acara mtq, mengapa tidak dipasang lagi ?
Apakah karena masa pekerjaan hampir selesai, adanya perubahan administrasi, atau terdapat alasan teknis lainnya?
Semua itu semestinya dapat dijelaskan secara terbuka oleh pihak yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan.
Jangan sampai pencabutan plang justru melahirkan persepsi bahwa informasi mengenai proyek semakin jauh dari jangkauan publik.
Kini persoalannya bukan lagi sekadar bagaimana Astaka itu dibangun.
Yang menjadi taruhan adalah apakah fasilitas tersebut benar-benar siap digunakan ketika Pacu Jalur Event Nasional dimulai.
Waktu semakin sempit.
Pacu Jalur Event Nasional bukan agenda kecil. Event tersebut membawa nama Kuansing ke panggung yang lebih luas. Karena itu, setiap fasilitas pendukung yang menjadi bagian dari penyelenggaraan harus dipastikan tidak hanya tampak selesai secara fisik, tetapi juga memenuhi aspek kelayakan, keamanan, fungsi dan administrasi.
Junaidi meminta Pemerintah Kabupaten Kuansing tidak menunggu sampai detik terakhir untuk memberikan penjelasan kepada masyarakat.
Menurutnya, pemerintah harus mampu menjawab secara terang mengenai progres pembangunan, target penyelesaian, sumber anggaran, nilai pekerjaan, pelaksana, pengawasan serta status pekerjaan menjelang event nasional.
“Kalau memang 90 persen, sampaikan apa saja yang 10 persen belum selesai. Kalau memang tidak bisa clear utuh sebelum Pacu Jalur, pemerintah harus menjelaskan apa konsekuensinya dan bagaimana solusinya,” tegas Junaidi.
Bagi Junaidi, persoalan Astaka tidak boleh berhenti pada seremoni atau sekadar kejar tayang menjelang acara.
Pembangunan menggunakan uang publik harus meninggalkan jejak yang dapat diperiksa dan dipertanggungjawabkan, bukan sekadar bangunan yang berdiri ketika acara berlangsung.
Kekhawatiran terbesar adalah ketika pekerjaan dikebut karena mengejar jadwal event, aspek kualitas dan pengawasan justru terpinggirkan.
Dalam proyek konstruksi, mengejar waktu memang penting. Namun kecepatan tidak boleh mengorbankan mutu dan keselamatan.
Apalagi kawasan tersebut nantinya akan dipadati masyarakat dan menjadi salah satu titik perhatian selama Pacu Jalur Event Nasional.
Karena itu, pernyataan pengawas bahwa pekerjaan telah mencapai 90 persen harus diikuti dengan penjelasan yang lebih transparan dari instansi teknis maupun pihak yang bertanggung jawab atas proyek.
Masyarakat tidak membutuhkan sekadar angka.
Masyarakat membutuhkan kepastian.
Kapan selesai?
Apa yang belum selesai?
Berapa nilai anggarannya?
Siapa pelaksana dan pengawasnya?
Apakah pekerjaan telah sesuai RAB dan kontrak?
Dan yang paling penting: apakah Astaka benar-benar siap digunakan ketika Pacu Jalur Event Nasional dimulai?
Untuk mendapatkan penjelasan dari pihak pemerintah, konfirmasi juga telah disampaikan kepada Kepala Dinas PUPR Kabupaten Kuantan Singingi, Ade Fahrer.
Konfirmasi diarahkan pada sejumlah hal penting, mulai dari progres pembangunan Astaka, target penyelesaian sebelum Pacu Jalur Event Nasional, status pekerjaan yang disebut belum clear utuh, transparansi RAB hingga informasi mengenai pencabutan plang pagu anggaran.
Namun hingga berita ini diturunkan, Ade Fahrer belum memberikan jawaban.
Pesan konfirmasi yang dikirim melalui WhatsApp diketahui telah berstatus dua centang biru, yang menunjukkan pesan tersebut telah dibaca. Meski demikian, belum ada tanggapan atau penjelasan resmi dari Kepala Dinas PUPR Kuansing.
Konfirmasi tersebut dinilai penting untuk memperoleh penjelasan langsung dari pemerintah, terutama untuk memastikan apakah progres pekerjaan benar telah mencapai 90 persen, bagian pekerjaan apa yang masih tersisa, apakah target penyelesaian sebelum Pacu Jalur Event Nasional dapat dipenuhi, serta bagaimana status informasi anggaran dan pengawasan proyek tersebut.
Hingga berita ini dipublikasikan, belum ada jawaban resmi dari Ade Fahrer.
Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi Dinas PUPR Kuansing, pelaksana pekerjaan, pengawas maupun pihak terkait lainnya untuk memberikan penjelasan atas informasi yang berkembang di lapangan.
Kini, pertanyaannya sederhana tetapi mendesak:
Ketika Pacu Jalur Event Nasional tinggal menghitung hari, apakah Astaka Tepian Narosa benar-benar akan tuntas, atau justru masih berpacu dengan waktu?
Jawaban pemerintah akan menjadi penting. Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya sebuah bangunan, melainkan wajah Kuansing di hadapan tamu nasional dan internasional.*(ald)

Tulis Komentar