Pelepah Sawit Tak Lagi Jadi Limbah, Mahasiswa KUKERTA UNRI Dorong Kemandirian Petani Lewat Pupuk Organik di Muara Langsat

foto: Rahmat Hidayat/ist (doc. kilasriau.com)

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) – Di tengah tingginya harga pupuk kimia yang terus membebani biaya produksi petani, sebuah inovasi sederhana namun berdampak lahir dari Desa Muara Langsat, Kabupaten Kuantan Singingi, Riau. Limbah pelepah kelapa sawit yang selama ini hanya menjadi tumpukan sampah di kebun kini berhasil diolah menjadi pupuk kompos organik melalui pendampingan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KUKERTA) Berdampak Universitas Riau (UNRI).

Program ini menjadi bukti bahwa pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu melahirkan solusi konkret terhadap persoalan yang dihadapi petani. Melalui pemanfaatan limbah perkebunan sebagai pupuk organik, mahasiswa KUKERTA UNRI tidak hanya membantu masyarakat mengurangi ketergantungan terhadap pupuk kimia, tetapi juga mendorong lahirnya sistem pertanian yang lebih mandiri, hemat biaya, dan berkelanjutan.

Bagi masyarakat Muara Langsat yang mayoritas menggantungkan mata pencaharian dari sektor perkebunan kelapa sawit, kenaikan harga pupuk kimia dalam beberapa tahun terakhir menjadi tantangan serius. Di sisi lain, pelepah sawit hasil pemangkasan rutin atau pruning justru melimpah dan selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Limbah tersebut umumnya dibiarkan membusuk di kebun atau hanya menjadi tumpukan yang tidak memiliki nilai ekonomi.

Melihat kondisi tersebut, mahasiswa KUKERTA Berdampak UNRI menghadirkan inovasi pengolahan limbah pelepah sawit menjadi pupuk kompos organik. Selain mampu menekan biaya produksi, penggunaan pupuk organik juga diyakini dapat memperbaiki struktur fisik tanah, meningkatkan kandungan bahan organik, menjaga kelembapan lahan, serta membantu akar tanaman berkembang lebih baik sehingga produktivitas kebun dapat meningkat dalam jangka panjang.

Sosialisasi dan pelatihan pembuatan pupuk kompos tersebut dilaksanakan di Gedung Olahraga (GOR) Desa Muara Langsat pada Jumat (3/7/2026) dan diikuti sekitar 25 perwakilan masyarakat dari lima dusun.

Kegiatan dibuka oleh Sekretaris Desa Muara Langsat, Dys Oco Sinara, S.H., yang hadir mewakili Penjabat Kepala Desa Babus Salam, S.Pd. Turut hadir Kepala Karang Taruna, perangkat desa, tokoh masyarakat, serta tamu undangan dari Kelompok KUKERTA UNRI Desa Langsat Hulu.

Dalam pemaparannya, mahasiswa menjelaskan secara rinci tahapan pembuatan pupuk kompos dengan memanfaatkan pelepah sawit muda sebagai bahan utama. Pelepah tersebut dipadukan dengan kotoran ternak kering dan dedak padi menggunakan komposisi tertentu agar menghasilkan pupuk yang kaya unsur hara.

Untuk mempercepat proses penguraian bahan organik, campuran tersebut ditambahkan bioaktivator berupa cairan Effective Microorganisms (EM4) Pertanian serta molase atau tetes tebu sebagai sumber energi bagi mikroorganisme selama proses fermentasi berlangsung.

Materi yang disampaikan tidak hanya bersifat teoritis. Mahasiswa juga menjelaskan takaran setiap bahan, teknik pencampuran, tingkat kelembapan yang ideal, hingga proses pembalikan kompos agar fermentasi berlangsung sempurna dan menghasilkan pupuk berkualitas.

Antusiasme masyarakat terlihat sepanjang kegiatan berlangsung. Puluhan pertanyaan diajukan peserta, mulai dari lama proses fermentasi, dosis penggunaan EM4, cara mengetahui kompos matang, hingga jumlah pupuk yang tepat untuk diaplikasikan pada tanaman kelapa sawit maupun komoditas pertanian lainnya.

Banyak peserta terlihat mencatat setiap tahapan pembuatan kompos secara rinci agar dapat langsung mempraktikkannya secara mandiri di rumah maupun di kebun masing-masing.

Pelatihan kemudian dilanjutkan dengan demonstrasi langsung menggunakan metode layering atau susun lapis.

Mahasiswa memanfaatkan dua ember bekas cat berkapasitas 25 kilogram yang telah diberi lubang sebagai media fermentasi sederhana untuk menjaga sirkulasi udara selama proses pengomposan.

Satu ember digunakan oleh mahasiswa sebagai media demonstrasi penyusunan bahan secara bertahap, sedangkan ember lainnya digunakan oleh perwakilan masyarakat yang secara langsung mempraktikkan proses pembuatan kompos dengan pendampingan mahasiswa.

Metode sederhana tersebut dipilih karena mudah diterapkan oleh masyarakat tanpa memerlukan teknologi maupun peralatan yang mahal. Seluruh bahan bakunya pun tersedia melimpah di lingkungan sekitar desa sehingga masyarakat dapat memproduksi pupuk organik secara mandiri tanpa bergantung pada pasokan dari luar.

Sekretaris Desa Muara Langsat, Dys Oco Sinara, S.H., mengapresiasi inovasi yang dibawa mahasiswa KUKERTA UNRI. Menurutnya, program tersebut sejalan dengan komitmen Pemerintah Desa dalam mendorong pemanfaatan potensi lokal demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.

"Kami berharap kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun kemandirian petani di Desa Muara Langsat. Ketika warga terbiasa memproduksi kompos sendiri dari limbah di sekitar mereka, tidak hanya biaya perawatan kebun yang bisa ditekan, namun kualitas tanah juga akan semakin subur untuk generasi mendatang," ujarnya.

Ia berharap ilmu yang diberikan mahasiswa tidak berhenti pada kegiatan sosialisasi semata, tetapi benar-benar diterapkan secara konsisten sehingga menjadi budaya baru dalam pengelolaan limbah perkebunan di Desa Muara Langsat.

Menurutnya, apabila masyarakat mampu memanfaatkan limbah pelepah sawit menjadi pupuk organik secara berkelanjutan, desa tidak hanya akan memperoleh manfaat ekonomi melalui penghematan biaya produksi, tetapi juga memperoleh manfaat ekologis berupa berkurangnya limbah perkebunan dan meningkatnya kualitas lahan pertanian.

Bagi mahasiswa KUKERTA Berdampak UNRI, program ini merupakan implementasi nyata dari peran perguruan tinggi sebagai mitra pembangunan desa. Kehadiran mahasiswa di tengah masyarakat diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi yang sesuai dengan potensi lokal sekaligus menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat.

Melalui kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, dan Universitas Riau, Desa Muara Langsat diharapkan mampu menjadi contoh pengembangan pertanian berbasis sumber daya lokal. Pelepah sawit yang selama ini dipandang sebagai limbah kini berubah menjadi sumber daya bernilai ekonomi dan ekologis, membuka jalan menuju sistem pertanian yang lebih mandiri, efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.

Program ini sekaligus menunjukkan bahwa solusi bagi berbagai persoalan pertanian tidak selalu harus datang dari teknologi yang mahal. Dengan memanfaatkan potensi yang tersedia di sekitar, disertai edukasi dan pendampingan yang tepat, masyarakat mampu menciptakan inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi peningkatan produktivitas, kesejahteraan petani, dan kelestarian lingkungan di masa depan.*(ald)






Tulis Komentar