Usai Polemik Hadiah Pacu Jalur, Honor 200 Penari dan 12 Pelatih Pembukaan MTQ Riau di Kuansing Juga Belum Dibayar
KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) – Persoalan pembayaran hak peserta kegiatan yang diselenggarakan Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, kembali menjadi sorotan publik. Belum tuntas polemik hadiah Festival Pacu Jalur tingkat rayon yang hingga kini dikabarkan belum diterima para pemenang, kini muncul keluhan serupa dari ratusan penari massal dan para pelatih yang terlibat dalam pembukaan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-XLIV Tingkat Provinsi Riau.
Sedikitnya 200 penari massal dan 12 pelatih dikabarkan belum menerima honorarium yang dijanjikan, meski seluruh rangkaian MTQ telah lama berakhir.
Informasi yang dihimpun media ini dari sejumlah peserta menyebutkan, setiap penari dijanjikan menerima honor sebesar Rp950 ribu, sedangkan masing-masing pelatih dijanjikan memperoleh honorarium sebesar Rp5 juta. Namun hingga pertengahan Juli 2026, pembayaran tersebut disebut belum juga direalisasikan.
Seorang penari yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku kecewa karena hingga kini belum memperoleh kepastian kapan honor tersebut akan dibayarkan.
"Kami mengikuti latihan hampir setiap hari. Waktu, tenaga, bahkan waktu belajarpun kami tinggalkan demi menyukseskan pembukaan MTQ Provinsi Riau. Kami bangga bisa tampil membawa nama daerah, tetapi sampai sekarang honor yang dijanjikan belum juga kami terima," ujarnya.
Penari lainnya mengatakan, mereka tidak mempermasalahkan besaran honor yang dijanjikan. Namun yang mereka harapkan adalah kepastian.
"Kalau memang ada kendala administrasi, sampaikan kepada kami. Jangan dibiarkan menggantung seperti ini. Kami hanya ingin hak kami dipenuhi karena kami sudah menyelesaikan kewajiban kami," katanya.
Keluhan juga datang dari salah seorang pelatih yang selama proses persiapan bertanggung jawab membimbing para penari hingga mampu menampilkan pertunjukan kolosal pada malam pembukaan MTQ.
Menurutnya, proses latihan bukan pekerjaan ringan. Dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk menyatukan gerakan ratusan penari agar menghasilkan penampilan yang layak di hadapan ribuan tamu dan masyarakat.
"Kami bekerja secara profesional. Mulai dari menyusun konsep, melatih, mengevaluasi hingga memastikan penampilan berjalan sempurna. Sampai hari ini honor pelatih juga belum kami terima. Kami berharap pemerintah segera memberikan kejelasan," tuturnya.
Pelatih lainnya berharap persoalan tersebut tidak berlarut-larut.
"Kami tidak ingin berpolemik. Kami hanya meminta hak yang memang sudah dijanjikan sejak awal. Mudah-mudahan pemerintah segera menyelesaikannya," katanya.
Munculnya persoalan ini menambah daftar keluhan mengenai pembayaran hak peserta dalam sejumlah kegiatan pemerintah di Kuansing. Sebelumnya, hadiah uang pembinaan Festival Pacu Jalur tingkat rayon juga menjadi sorotan setelah para pemenang mengaku belum menerima hadiah yang dijanjikan usai perlombaan berakhir.
Kondisi tersebut memunculkan pertanyaan publik mengenai tata kelola pembayaran anggaran kegiatan yang melibatkan masyarakat dalam jumlah besar.
Ketua LSM Permata Kuansing, Junaidi Affandi, menilai persoalan tersebut tidak boleh dianggap sepele. Menurutnya, pemerintah memiliki kewajiban moral dan administratif untuk segera menuntaskan pembayaran seluruh hak masyarakat yang telah berkontribusi menyukseskan agenda resmi daerah.
"Dalam ajaran Islam sudah sangat jelas disebutkan, 'Bayarlah upah seseorang sebelum keringatnya mengering.' Jangan sampai orang-orang yang telah mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, bahkan meninggalkan aktivitas mereka demi menyukseskan kegiatan pemerintah justru harus menunggu tanpa kepastian," tegas Junaidi.
Ia mengatakan, keterlambatan pembayaran bukan hanya persoalan administrasi, tetapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
Menurutnya, para penari dan pelatih bukan sekadar pengisi acara. Mereka adalah bagian penting dari suksesnya pembukaan MTQ Provinsi Riau yang saat itu menjadi etalase budaya Kuantan Singingi di hadapan para tamu dari seluruh kabupaten dan kota se-Riau.
"Kalau hak mereka tidak segera dibayarkan, tentu akan menimbulkan kekecewaan. Pemerintah harus menunjukkan komitmen menghargai kerja keras masyarakat. Jangan sampai setelah acara selesai, para peserta justru dibiarkan menunggu haknya tanpa kepastian," ujar Junaidi.
Ia juga menyinggung polemik hadiah Festival Pacu Jalur tingkat rayon yang hingga kini juga menuai keluhan.
"Kemarin hadiah Pacu Jalur menjadi sorotan karena belum dibayarkan. Sekarang muncul lagi persoalan honor penari dan pelatih MTQ. Ini harus menjadi perhatian serius. Jangan sampai setiap selesai kegiatan pemerintah selalu muncul persoalan yang sama," katanya.
Junaidi mendesak pemerintah daerah segera memberikan penjelasan secara terbuka kepada masyarakat mengenai penyebab keterlambatan pembayaran tersebut sekaligus menyampaikan jadwal pasti pencairannya.
"Masyarakat tidak membutuhkan janji yang berulang-ulang. Mereka membutuhkan kepastian. Hak mereka harus segera diselesaikan. Pemerintah harus transparan agar tidak menimbulkan spekulasi dan hilangnya kepercayaan publik," pungkasnya.
Diketahui, sebanyak 200 penari massal yang tampil pada pembukaan MTQ ke-XLIV Tingkat Provinsi Riau merupakan siswa-siswi terbaik dari jenjang SMP, SMA, dan SMK di Kabupaten Kuantan Singingi. Mereka dipilih melalui proses seleksi yang dilakukan oleh Dewan Kesenian Kuantan Singingi (DKKS) bersama Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Kuantan Singingi.
Setelah dinyatakan lolos seleksi, para peserta menjalani rangkaian latihan intensif selama beberapa pekan untuk mempersiapkan pertunjukan kolosal yang menjadi salah satu penampilan utama pada malam pembukaan MTQ Provinsi Riau. Selain harus membagi waktu antara latihan dan kegiatan belajar di sekolah, sebagian peserta juga rela mengorbankan waktu libur demi menyukseskan agenda yang menjadi kebanggaan daerah tersebut.
Sementara itu, 12 orang pelatih yang hingga kini juga dikabarkan belum menerima honor berasal dari unsur Dewan Kesenian Kuantan Singingi (DKKS) dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kuantan Singingi. Mereka bertanggung jawab menyusun konsep koreografi, melatih ratusan penari, hingga memastikan seluruh rangkaian pertunjukan berjalan sesuai skenario pada malam pembukaan MTQ.
Kondisi ini memunculkan keprihatinan berbagai pihak. Sebab, para penari yang mayoritas masih berstatus pelajar maupun para pelatih telah menunaikan tanggung jawab mereka dengan baik, sementara hak yang dijanjikan pemerintah disebut belum juga diterima hingga beberapa pekan setelah kegiatan berakhir. Situasi tersebut dinilai berpotensi mencederai semangat pembinaan seni dan budaya di kalangan generasi muda serta mengurangi kepercayaan para pelaku seni terhadap penyelenggaraan kegiatan pemerintah di masa mendatang.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi maupun pihak penyelenggara terkait alasan belum dibayarkannya honor 200 penari massal dan 12 pelatih pembukaan MTQ ke-XLIV Tingkat Provinsi Riau tersebut. Media ini masih berupaya memperoleh konfirmasi dari pihak-pihak terkait guna memenuhi asas keberimbangan dalam pemberitaan.*(ald)

Tulis Komentar