Ketika Kuda Hitam Menjadi Raja: Keramat Jubah Merah Menaklukkan Tepian Burondo Pangean

foto: istimewa (doc. Kilasriau.com)

PANGEAN (KilasRiau.com) – Senja belum benar-benar turun ketika gemuruh manusia membelah tepian Batang Kuantan. Di bawah langit yang menaungi Desa Pulau Rengas, Kecamatan Pangean, ribuan pasang mata seakan menahan napas, menyaksikan dua perahu panjang beradu cepat di atas aliran sungai yang telah berabad-abad menjadi saksi denyut peradaban masyarakat Kuantan Singingi.

Dan ketika garis akhir berhasil disentuh lebih dahulu, sorak kemenangan pun pecah.

Bukan jalur yang sejak awal paling dijagokan. Bukan pula mereka yang ramai disebut-sebut sebagai calon juara. Tetapi dari Desa Muaro Sentajo, Kecamatan Sentajo Raya, lahirlah sebuah kejutan yang menggetarkan gelanggang. Jalur Keramat Jubah Merah tampil bak kuda hitam yang mengamuk, menaklukkan satu demi satu lawan tangguh, sebelum akhirnya berdiri tegak sebagai Sang Jawara Pacu Jalur Tepian Burondo Pangean Tahun 2026, Ahad (21/6/2026).

Pada partai puncak, Keramat Jubah Merah berhasil mengandaskan perlawanan Sari Jadi Gementar Alam dari Desa Pulau Beralo, Kecamatan Kuantan Hilir Seberang. Sebelumnya, jalur kebanggaan masyarakat Muaro Sentajo itu juga membuat kejutan besar dengan menyingkirkan salah satu kandidat juara, Alam Cahayo Tuah Nagoghi dari Kecamatan Cerenti.

Kemenangan itu bukan sekadar soal siapa yang lebih dahulu menyentuh garis akhir. Lebih dari itu, ia adalah kisah tentang kesetiaan pada tradisi, tentang irama dayung yang bergerak serentak dalam satu kehendak, dan tentang doa-doa yang diam-diam dipanjatkan dari kampung halaman hingga rantau yang jauh.

Di tepian sungai yang menjadi nadi kebudayaan masyarakat Kuansing itu, Keramat Jubah Merah menuliskan sejarahnya sendiri.

Bupati Kuantan Singingi, Dr. H. Suhardiman Amby, menyampaikan apresiasi atas keberhasilan yang diraih jalur asal Muaro Sentajo tersebut.

"Selamat kepada Jalur Keramat Jubah Merah yang berhasil meraih gelar Sang Jawara di Tepian Burondo Pangean tahun 2026. Ini merupakan prestasi yang membanggakan bagi Desa Muaro Sentajo dan Kecamatan Sentajo Raya," ujar Suhardiman Amby yang hadir bersama Asisten III Setda Kuansing, Drs Azhar, dan Camat Pangean, Suwandi, S.Pd., MM.

Menurutnya, kemenangan tersebut menjadi bukti bahwa semangat gotong royong dan pembinaan yang terus dilakukan masyarakat masih menjadi kekuatan utama dalam menjaga denyut kehidupan Pacu Jalur sebagai warisan budaya yang telah melintasi zaman.

"Saya berharap gelar juara ini dapat terus dipertahankan pada event-event berikutnya. Teruslah berlatih, jaga kekompakan, dan persiapkan diri menghadapi gelanggang yang lebih besar, termasuk event nasional nantinya," katanya.

Namun, bagi masyarakat Muaro Sentajo, kemenangan ini sesungguhnya telah dimulai jauh sebelum dayung pertama menghentak air Batang Kuantan.

Ia lahir dari malam-malam panjang saat para pemacu berlatih. Ia tumbuh dari uluran tangan masyarakat yang menyumbang tenaga dan biaya. Ia dibesarkan oleh doa-doa ibu-ibu, harapan para tetua kampung, dan dukungan para perantau yang tak pernah lupa pada kampung halaman.

Kepala Desa Muaro Sentajo, Halmadi Asmara, tak mampu menyembunyikan rasa syukurnya.

"Alhamdulillah, berkat usaha para pemacu dan doa dari kito basamo, Jalur Keramat Jubah Merah sampai ke puncak. Ini adalah kebahagiaan seluruh masyarakat Muaro Sentajo," ujar Halmadi.

Menurut dosen Universitas Islam Kuantan Singingi (Uniks) itu, kejayaan yang diraih Keramat Jubah Merah adalah kemenangan yang lahir dari persatuan.

"Ditambah dengan dukungan dari semua golongan masyarakat, baik berupa doa, semangat maupun bantuan dana dari masyarakat juga. Semua menjadi kekuatan besar bagi jalur ini. Kemenangan ini adalah kemenangan kita bersama," ungkapnya.

Ia menyampaikan terima kasih kepada para atlet pemacu, pengurus jalur, tokoh masyarakat, ninik mamak, pemuda, kaum ibu, para donatur, hingga para perantau yang selama ini tetap menjaga ikatan batin dengan kampung halaman.

"Kemenangan ini bukan akhir dari perjuangan. Ini justru menjadi awal untuk menghadapi gelanggang yang lebih besar. Kami berharap generasi muda terus mencintai dan menjaga Pacu Jalur sebagai identitas masyarakat Kuantan Singingi," katanya.

Sejak pagi, Tepian Burondo telah berubah menjadi lautan manusia. Mereka datang dari berbagai penjuru, membawa semangat yang sama: menyaksikan warisan budaya yang tak sekadar perlombaan, tetapi juga perayaan kebersamaan.

Di sana, Batang Kuantan kembali menjadi panggung peradaban.

Setiap kayuhan bukan hanya upaya mengejar kemenangan, tetapi juga usaha menjaga denyut tradisi yang diwariskan para leluhur. Setiap hentakan dayung adalah bahasa kebudayaan yang tak pernah usang dimakan zaman.

Dan ketika Keramat Jubah Merah melesat di lintasan terakhir, sorak kemenangan yang membahana itu sesungguhnya bukan hanya milik para pemacu di atas perahu. Ia milik seluruh Muaro Sentajo.

Milik para ibu yang tak henti berdoa.

Milik para perantau yang menyisipkan harapan dari kejauhan.

Milik anak-anak kampung yang bermimpi suatu hari kelak berdiri di atas jalur yang sama.

Serta milik sebuah negeri kecil di tepian Batang Kuantan yang sekali lagi membuktikan, bahwa kejayaan tak selalu lahir dari mereka yang paling dijagokan, melainkan dari mereka yang tak pernah berhenti percaya.

Kini, nama Keramat Jubah Merah telah terpatri sebagai penguasa baru Tepian Burondo Pangean 2026.

Dan dari Muaro Sentajo, sebuah pesan kembali berlayar bersama arus sungai yang tua itu:

Bahwa selama dayung masih digenggam dengan kebersamaan, selama doa masih dipanjatkan dengan ketulusan, dan selama cinta kepada tradisi tetap dijaga, maka kejayaan akan selalu menemukan tepian tempat ia berlabuh.*(ald)






Tulis Komentar