Menunggu Gemuruh Dayung di Tepian Narosa, Ketika Kuantan Singingi Bersiap Menulis Kembali Sejarah Pacu Jalur

foto: istimewa (doc. Kilasriau.com)

 

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Pagi-pagi di tepian Batang Kuantan selalu menyimpan cerita. Kabut tipis yang menggantung di atas permukaan air, deretan pohon yang memantulkan bayangannya ke sungai, serta suara kehidupan yang perlahan bangun dari tidurnya, seolah menjadi pengingat bahwa dari aliran sungai inilah sebuah peradaban pernah tumbuh dan hingga kini masih bertahan.

Di sungai yang sama, sejak ratusan tahun silam, orang-orang Melayu Kuantan Singingi membangun cerita tentang kebersamaan. Mereka memahat kayu-kayu pilihan dari hutan, mengubahnya menjadi jalur panjang, lalu menyatukan tenaga dan hati untuk melawan arus.

Kini, ketika kalender bergerak menuju akhir Juni 2026, Batang Kuantan kembali bersiap menjadi panggung bagi sebuah tradisi yang tak sekadar menjadi kebanggaan masyarakat Riau, tetapi telah menjelma menjadi identitas budaya yang dikenal hingga ke berbagai penjuru negeri.

Pacu Jalur Rayon II di Tepian Narosa, Teluk Kuantan, diperkirakan akan berlangsung selama tiga atau empat hari yang dimulai 27 Juni 2026. Perhelatan itu menjadi semakin istimewa karena hadir di tengah semarak Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) ke-XLIV Tingkat Provinsi Riau yang tahun ini dipercayakan kepada Kabupaten Kuantan Singingi sebagai tuan rumah.

Jarak menuju hari pelaksanaan kini tinggal menghitung hari.

Di balik hitungan yang semakin pendek itu, ada kesibukan yang tak terlihat oleh banyak mata.

Pada Jumat (19/6/2026) malam, panitia pelaksana berkumpul dalam rapat koordinasi yang dipimpin Ketua Panitia, Indra Sukri. Tak ada kemewahan dalam pertemuan itu. Namun, di dalamnya tersimpan tanggung jawab besar untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sebagaimana mestinya.

Mulai dari kesiapan gelanggang, perlengkapan perlombaan, fasilitas pendukung, hingga koordinasi antarbidang, semuanya menjadi perhatian bersama.

"Persiapan gelanggang, perlengkapan, dan kebutuhan lainnya harus benar-benar diperhatikan. Kita harus saling berkoordinasi. Semua fasilitas yang dibutuhkan harus segera disegerakan agar kegiatan kita sukses," kata Indra Sukri.

Kalimat itu mungkin terdengar biasa.

Namun bagi masyarakat Kuantan Singingi, suksesnya Pacu Jalur bukan semata soal terselenggaranya sebuah perlombaan.

Lebih dari itu, ia menyangkut kehormatan sebuah negeri.

Karena Pacu Jalur tidak lahir dari ruang kosong.

Tradisi ini tumbuh dari sejarah panjang masyarakat yang hidup di sepanjang Batang Kuantan. Jalur pada mulanya adalah alat transportasi utama yang digunakan masyarakat untuk membawa hasil bumi, menghubungkan kampung dengan kampung lain, serta menjadi urat nadi kehidupan masyarakat tepian sungai.

Seiring perjalanan waktu, jalur kemudian menjelma menjadi simbol kebersamaan.

Kayu yang digunakan tidak dipilih sembarangan.

Proses pembuatannya sarat nilai adat.

Peluncurannya diiringi doa.

Dan ketika jalur turun ke sungai, yang ikut berlayar sesungguhnya bukan hanya sebatang perahu panjang, melainkan harga diri dan kebanggaan sebuah kampung.

Karena itulah, bagi masyarakat Kuantan Singingi, kemenangan bukan sekadar menjadi yang tercepat.

Tetapi tentang bagaimana menjaga marwah.

Tentang bagaimana semangat gotong royong diwariskan.

Tentang bagaimana para orang tua, ninik mamak, dan generasi muda berdiri dalam satu barisan yang sama.

Menjelang musim pacu, denyut kehidupan di Kuantan Singingi selalu berubah.

Perantau mulai membeli tiket pulang.

Warung-warung kopi dipenuhi obrolan mengenai kekuatan jalur unggulan.

Nama-nama jalur menjadi bahan pembicaraan.

Pedagang kecil berharap rezeki dari ramainya pengunjung.

Hotel-hotel dan rumah-rumah keluarga mulai bersiap menerima tamu.

Anak-anak kecil bermain sambil menirukan gaya tukang concang dan tukang onjai.

Sementara para orang tua akan tersenyum, menyaksikan tradisi yang dahulu mereka nikmati, kini diwarisi oleh anak cucunya.

Sempena MTQ ke-XLIV Tingkat Provinsi Riau, Pacu Jalur Rayon II menjadi lebih dari sekadar perlombaan budaya.

Ia menjadi ruang pertemuan antara syiar agama dan warisan leluhur.

Lantunan ayat suci Al-Qur'an akan berkumandang dari arena MTQ.

Sedangkan di Batang Kuantan, suara dayung dan gemuruh tepuk tangan masyarakat akan menjadi syair lain yang tak kalah indah.

Sebab di tanah Melayu, agama dan budaya tidak pernah berjalan sendiri.

Keduanya tumbuh bersama, saling menjaga dan saling menguatkan.

Kini, waktu semakin dekat.

Tepian Narosa yang hari ini masih terlihat tenang, beberapa hari lagi akan berubah menjadi lautan manusia.

Ribuan pasang mata akan tertuju ke tengah sungai.

Tabuhan gondang akan menggema.

Meriam tanda start akan meledak memecah langit.

Puluhan anak pacu akan menghentakkan dayung mereka secara serentak.

Dan Batang Kuantan akan kembali bergetar oleh semangat yang diwariskan lintas generasi.

Namun sesungguhnya, yang berpacu bukan hanya jalur-jalur yang membelah arus sungai.

Yang berpacu adalah sebuah peradaban agar tidak hilang ditelan zaman.

Yang berpacu adalah semangat masyarakat Melayu menjaga identitasnya.

Yang berpacu adalah cinta para perantau kepada kampung halaman.

Dan yang berpacu adalah keyakinan bahwa warisan budaya tidak boleh sekadar dikenang, tetapi harus terus hidup.

Maka dari Tepian Narosa, di sebuah negeri kecil bernama Kuantan Singingi, Indonesia kembali diingatkan bahwa kebudayaan tidak dibangun oleh gedung-gedung megah atau gemerlap kota besar.

Ia hidup di tengah masyarakat.

Ia tumbuh dari kebersamaan.

Ia diwariskan melalui cinta.

Dan selama Batang Kuantan masih mengalir, selama suara dayung masih memecah permukaan air, selama sorak masyarakat masih menggema dari tepian, Pacu Jalur akan terus bercerita kepada Indonesia bahwa ada sebuah warisan yang tak pernah menyerah kepada zaman.

Warisan itu bernama Pacu Jalur.

Dan beberapa hari lagi, sejarah akan kembali berlayar dari Tepian Narosa.*(ald)






Tulis Komentar