Masyarakat Muak Janji, Warga Gotong Royong Perbaiki Jalan Tembus ke Pasar Senin Tungkal Dibuka dengan Swadaya Warga
Kilasriau.com, Reteh – Rasa kecewa dan lelah menunggu janji perbaikan akhirnya memuncak. Warga Jalan Imam Bonjol Parit 2, Kelurahan Pulau Kijang, Kecamatan Reteh, memilih turun tangan sendiri memperbaiki jalan rusak yang selama ini menjadi keluhan utama masyarakat, Minggu (10/5/2026).
Dengan semangat gotong royong, puluhan warga berkumpul sejak pagi membawa semen, pasir, batu, hingga peralatan seadanya untuk memperbaiki jalan yang kondisinya sudah lama memprihatinkan.
Jalan yang menjadi akses penghubung menuju Pasar Senin Tungkal itu sebelumnya dipenuhi kubangan lumpur, licin, dan nyaris tidak bisa dilalui, terutama saat hujan turun.
- Jalan Rusak 450 Meter Diperbaiki Secara Swadaya, Edy Indra Kesuma Ikut Turun ke Lapangan
- Jeritan Warga Parit Pelam Jalan Rusak Lumpuhkan Ekonomi “Kami Seperti Hidup Terisolasi”
- Diduga Gagal Struktur, Proyek Rp2,3 Miliar di Riau Retak-retak Usai Dikerjakan
- Jalan Sanglar–Kota Baru Hancur Bak Kolam Lumpur, Warga Tagih Janji Proyek Rp15 Miliar
- Progres Pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi di Batang Tuaka Capai 95 Persen

Kondisi tersebut selama bertahun-tahun membuat aktivitas warga terganggu. Tidak hanya kendaraan roda dua yang kesulitan melintas, para pelajar, petani, hingga warga yang sakit juga harus berjibaku melewati jalan rusak demi menjalankan aktivitas sehari-hari.
“Janji perbaikan sudah sering kami dengar, baik saat kampanye maupun musrenbang. Tapi sampai hari ini belum juga ada realisasinya. Karena itulah masyarakat sepakat bergotong royong memperbaiki jalan ini sendiri,” ujar salah seorang warga yang ikut dalam kerja bakti.

Jalan Imam Bonjol Parit 2 diketahui merupakan jalur vital bagi masyarakat sekitar. Selain menjadi akses utama menuju pemukiman, jalan tersebut juga menjadi penghubung ekonomi warga ke Pasar Senin Tungkal. Banyak hasil kebun dan kebutuhan pokok masyarakat yang setiap hari melintasi jalur tersebut.
Melihat kondisi yang semakin parah, warga akhirnya tidak ingin terus bergantung pada janji. Mereka memilih bergerak secara swadaya demi memastikan akses tetap bisa digunakan.
“Kalau jalannya hancur, semua aktivitas lumpuh. Anak-anak susah pergi sekolah, hasil kebun sulit dibawa keluar, bahkan warga sakit pun kesulitan menuju puskesmas. Mau tidak mau kami harus bergerak sendiri,” ungkap seorang ibu rumah tangga yang turut membantu proses pengecoran jalan.

Suasana kebersamaan terlihat begitu kuat dalam kegiatan tersebut. Kaum pria bekerja menyemen jalan, sementara ibu-ibu menyiapkan konsumsi dan membantu mengangkut material. Semangat saling membantu itu menjadi gambaran nyata bahwa masyarakat masih mengandalkan solidaritas di tengah minimnya perhatian terhadap infrastruktur lingkungan mereka.
Warga mengaku usulan perbaikan jalan sebenarnya sudah berkali-kali disampaikan, mulai dari tingkat kelurahan hingga kabupaten. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut yang dirasakan masyarakat secara nyata.
“Kami tidak meminta yang mewah. Cukup jalan yang layak dilalui masyarakat. Kalau pemerintah belum mampu memperbaiki sekarang, setidaknya dengarkan keluhan warga dan jangan hanya memberi harapan,” tegas Samsul.
Aksi swadaya masyarakat ini pun mendapat apresiasi dari warga sekitar. Mereka berharap semangat gotong royong tersebut dapat menjadi perhatian serius bagi pemerintah agar lebih peka terhadap kondisi infrastruktur di Kelurahan Pulau Kijang, khususnya jalan-jalan lingkungan yang menjadi urat nadi aktivitas masyarakat sehari-hari.
Bagi warga, perbaikan jalan secara mandiri bukan hanya soal membangun akses, tetapi juga bentuk kepedulian dan perjuangan agar roda kehidupan masyarakat tetap berjalan di tengah keterbatasan.

Tulis Komentar