“Simpang Sambung Kini Jadi Simpang Perdagangan,” Warga Sentil Janji Politik di Reses Firman Rendiansyah

foto: istimewa (doc. Kilasriau.com)

KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) – Forum reses anggota DPRD Kabupaten Kuantan Singingi, Firman Rendiansyah, S.Psi di Gedung Serbaguna Desa Sungai Sirih, Kecamatan Singingi, Jumat (8/5/2026) sore, mendadak berubah menjadi ruang pelampiasan kekecewaan masyarakat terhadap buruknya infrastruktur jalan yang tak kunjung mendapat sentuhan pembangunan.

Di hadapan Kepala Desa Sitas Riyanto, perangkat desa, BPD, tokoh adat, tokoh agama, Bhabinkamtibmas, dan masyarakat yang hadir, warga secara bergantian menyuarakan keresahan yang selama bertahun-tahun mereka rasakan.

Bukan hanya ruas Simpang Sambung menuju Sungai Bawang yang menjadi sorotan. Warga juga menuntut perbaikan jalan poros antar desa, mulai dari Desa Air Mas menuju Desa Pasir Mas, dari Desa Pasir Mas menuju Desa Sungai Sirih, hingga akses dari Desa Sungai Sirih menuju Desa Sungai Kuning yang disebut sama-sama dalam kondisi memprihatinkan.

Namun yang paling menyita perhatian adalah ketika salah seorang warga melontarkan kritik tajam yang membuat suasana forum seketika hening.

“Kami sudah bosan membahas jalan ini. Dari tahun ke tahun, dari reses ke reses, hanya jalan yang dibahas. Aspirasi kami hanya jadi catatan, tanpa realisasi.”

Tak lama berselang, Tokoh Masyarakat Desa Sungai Sirih, Saripudin Batanghari kembali menyentil keras janji-janji politik yang dinilai terus berulang tanpa hasil nyata.

“Janji ke janji akan memperbaiki, tapi realitanya nol. Setiap mau pilkada, setiap mau pileg, jalan ini selalu jadi bahan jualan.”

Lalu kalimat yang paling mengguncang forum pun terlontar—“Simpang Sambung ini sudah berubah nama menjadi Simpang Perdagangan.”

Ucapan bernada satire itu langsung menyita perhatian seluruh peserta. Bagi warga, istilah Simpang Perdagangan bukan tanpa alasan. Mereka menilai ruas jalan tersebut kerap menjadi “barang dagangan politik”, dibicarakan, dijanjikan, dijual dalam kampanye, namun setelah pesta demokrasi usai, kondisi jalan tetap berlubang, becek saat hujan, dan berdebu saat kemarau.

Menanggapi derasnya kritik masyarakat, Firman Rendiansyah tidak menampik bahwa persoalan jalan di wilayah tersebut memang menjadi pekerjaan rumah besar pemerintah daerah.

“Pengaspalan jalan yang ada di Jalan Simpang Sambung ini agak berat, karena anggaran kita yang terbatas,” ujar Firman secara terbuka.

Ia juga menjelaskan bahwa akses menuju wilayah ekstran memiliki dua jalur utama, yakni melalui Simpang Sambung dan Simpang Handoyo, yang menurutnya tetap menjadi perhatian dalam pembahasan pembangunan infrastruktur ke depan.

"Saya akan bawa masalah ini ke kantor saya, sebab jalan ini juga akses saya menuju kantor. Dan saya pastikan," imbuhnya.

Meski penjelasan itu disampaikan, masyarakat tampaknya kini tak lagi sekadar ingin mendengar. Mereka ingin melihat alat berat turun, aspal benar-benar digelar, dan janji tak lagi berhenti di forum.

Karena bagi warga Singingi, jalan bukan sekadar akses. Ia adalah urat nadi ekonomi, penghubung masa depan, dan ukuran apakah suara rakyat benar-benar sampai ke pusat kekuasaan—atau hanya kembali menjadi komoditas politik lima tahunan.*(ald)






Tulis Komentar