Di Bawah Hujan yang Turun Pelan, Air Emas Bersatu Melawan DBD

foto: gotong royong warga Air Emas/ist. (doc. kilasriau.com)

SINGINGI (KilasRiau.com) – Hujan yang turun pelan di atas Desa Air Emas bukan sekadar membawa kesejukan, tetapi juga kekhawatiran. Di sela genangan yang diam, ancaman Demam Berdarah Dengue (DBD) mengintai tanpa suara. Namun pagi itu, Jumat (17/04/2026), warga memilih untuk tidak tinggal diam.

Dengan cangkul di tangan dan semangat di dada, mereka berkumpul. Bukan karena perintah, melainkan kesadaran. Bahwa menjaga kehidupan dimulai dari hal sederhana: membersihkan lingkungan sendiri.

Gotong royong pun menjadi bahasa yang paling jujur. Drainase dibuka, sampah diangkat, genangan dikeringkan. Di antara tawa yang bersahutan dan peluh yang jatuh ke tanah, terselip harapan—agar tak ada lagi nyamuk yang membawa duka.

Kegiatan itu turut dihadiri Kepala Desa Air Emas, H. Adi Setiyo, SH, bersama Wiyono dari Puskesmas Sungai Keranji, Babinsa Serka Afriadi, BPD, mahasiswa KKN UNIKS, Yayasan Bahrul Ulum, serta para Ketua RT/RW dan masyarakat. Namun lebih dari sekadar kehadiran, yang terasa adalah kebersamaan yang hidup dan bergerak.

“Ini adalah wujud smart society, masyarakat yang sadar bahwa kesehatan lahir dari kepedulian bersama,” ucap Adi Setiyo, dengan nada yang tidak sekadar memberi imbauan, tetapi juga keyakinan.

Baginya, gotong royong bukan hanya soal membersihkan lingkungan. Ia adalah cara merawat hubungan antar manusia, menumbuhkan kepedulian, dan memperkuat rasa memiliki terhadap kampung halaman.

Di sisi lain, Wiyono mengingatkan bahwa musim pancaroba adalah waktu yang rawan. Ketika hujan dan panas datang silih berganti, nyamuk Aedes aegypti menemukan ruang untuk berkembang.

“Maka jangan beri mereka tempat,” ujarnya singkat, namun penuh makna.

Ia mengajak masyarakat untuk terus menghidupkan gerakan 3M Plus—menguras, menutup, dan menimbun—sebagai benteng sederhana yang mampu melindungi banyak nyawa.

Di Desa Air Emas, gotong royong hari itu bukan hanya tentang membersihkan selokan. Ia adalah perlawanan sunyi terhadap ancaman yang tak terlihat. Sebuah ikhtiar kolektif, bahwa kesehatan bukanlah sesuatu yang ditunggu, melainkan dijaga.

Dan di antara tanah yang dibersihkan serta air yang kembali mengalir, tersimpan pesan yang tak terucap: bahwa desa yang kuat bukanlah desa tanpa masalah, melainkan desa yang mau bergerak bersama menghadapinya.*(ald)






Tulis Komentar