Mr. Wan: Dari Kanvas Sunyi Menuju Panggung Strategi Pemasaran

foto: Irwansyah (mr. Wan)/istimewa. ( doc. kilasriau.com)

KilasRiau.com - Di balik geliat pemasaran properti yang keras dan penuh target, jarang ada ruang untuk perasaan. Dunia ini menuntut angka, capaian, dan kecepatan. Namun di tengah tekanan itu, ada satu nama yang justru datang dengan pendekatan berbeda—lebih tenang, lebih personal, dan nyaris tak biasa.

Ia adalah Irwansyah. Atau, sebagaimana banyak orang mengenalnya hari ini: Mr. Wan.

Lahir dan tumbuh di Desa Sawah, wilayah Kota Jalur, Irwan bukanlah sosok yang dibesarkan dalam gemerlap peluang. Sebagai anak pertama dari tiga bersaudara, ia terbiasa hidup dengan tanggung jawab yang datang lebih awal dari usianya.

“Dari kecil saya sudah terbiasa berpikir bagaimana membantu, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga,” ujarnya.

Namun di balik kerasnya realitas hidup, Irwan menemukan satu ruang yang tidak bisa disentuh oleh tekanan apa pun: seni lukis.
 

Bagi sebagian orang, melukis adalah hobi. Bagi Irwan, itu adalah kebutuhan.

Ia menghabiskan banyak waktunya dengan kuas dan kanvas, menuangkan apa yang tidak bisa ia ucapkan. Di sanalah ia menemukan kebebasan—ruang tanpa tuntutan, tanpa target, tanpa penilaian.

“Kalau lagi melukis, saya seperti bicara sama diri sendiri. Semua yang tidak bisa saya sampaikan, keluar di situ,” katanya.

Goresannya tidak selalu rapi. Warnanya tidak selalu patuh pada teori. Tapi justru di situlah letak kekuatannya—jujur, liar, dan penuh makna.

Namun hidup, seperti yang ia pahami kemudian, tidak bisa hanya dijalani di atas kanvas.

Keputusan Irwan untuk masuk ke dunia pemasaran bukanlah sesuatu yang direncanakan sejak awal. Ia tahu, dunia ini keras. Tidak ada ruang untuk ragu, apalagi lambat.

Titik balik itu datang ketika ia mendapat kepercayaan untuk bergabung di bawah manajemen Cibria Townhouse, melalui peran seorang sosok yang ia sebut sebagai pintu awal perjalanannya: Datuak Mangkuto Jilelo (DMJ)

“Awalnya saya tidak terlalu percaya diri. Dunia ini beda jauh dengan yang biasa saya jalani,” ungkapnya jujur.

Namun kepercayaan yang diberikan kepadanya tidak ia sia-siakan. Ia memilih untuk belajar, meski harus dimulai dari nol.

Dan dari situlah semuanya berubah.

Di dunia marketing, banyak orang berbicara tentang strategi, closing, dan target. Tapi Mr. Wan melihatnya dari sudut yang berbeda.

Ia tidak sekadar menjual rumah.

Ia menjual cerita.

“Saya tidak pernah merasa sedang menjual. Saya hanya membantu orang menemukan apa yang mereka cari,” ujarnya.

Pendekatan itu bukan tanpa dasar. Latar belakangnya sebagai seniman membuatnya peka terhadap rasa—sesuatu yang sering diabaikan dalam dunia pemasaran yang serba cepat.

Ia tahu bagaimana membangun koneksi, bagaimana membuat orang merasa nyaman, dan bagaimana menyampaikan nilai tanpa terkesan memaksa.

“Orang itu beli bukan cuma karena butuh, tapi karena merasa yakin. Dan keyakinan itu dibangun, bukan dipaksa.”

Di situlah letak keunggulannya.

Namun perjalanan itu tidak selalu mulus. Dunia marketing mengajarkannya satu hal yang tidak ia temukan di atas kanvas: penolakan.

Berkali-kali ia menghadapi calon konsumen yang ragu, bahkan menolak. Target yang tidak tercapai, tekanan dari pekerjaan, hingga rasa lelah yang datang diam-diam.

“Pernah di titik capek, iya. Pernah juga merasa tidak cukup. Tapi saya pikir, kalau berhenti di situ, saya tidak akan ke mana-mana,” katanya.

Ia tidak lari.

Ia bertahan.

Dan perlahan, ia mulai memahami ritme dunia yang ia jalani. Ia belajar bahwa keberhasilan bukan datang dari sekali usaha, tetapi dari konsistensi yang sering kali melelahkan.

Dalam proses itu, Irwan tidak berjalan sendiri. Ia menyadari bahwa ada peran besar dari lingkungan yang membentuknya, termasuk kepercayaan yang diberikan oleh DMJ dan sistem kerja di bawah manajemen Cibria Townhouse.

“Dari sini saya banyak belajar. Bukan cuma kerja, tapi cara berpikir, cara menghadapi masalah, dan cara berkembang,” ungkapnya.

Lingkungan tersebut menjadi ruang tempanya—tempat ia diuji, sekaligus dibentuk.

Meski kini tenggelam dalam dunia pemasaran, Irwan tidak pernah benar-benar meninggalkan seni.

Di sela kesibukan, ia tetap melukis. Bukan lagi sebagai pelarian, melainkan sebagai pengingat.

“Melukis itu seperti mengisi ulang diri saya. Biar tidak hilang,” katanya singkat.

Dan mungkin, di situlah kunci dari keseimbangannya.

Hari ini, Mr. Wan berdiri di persimpangan dua dunia—seni dan bisnis—tanpa harus kehilangan salah satunya.

Ia adalah marketing yang berpikir seperti seniman. Ia adalah seniman yang mampu bertahan di dunia profesional.

Di tengah industri yang sering kali seragam, ia hadir dengan pendekatan yang berbeda.

Lebih manusiawi. Lebih jujur. Lebih terasa.

“Saya cuma ingin terus berkembang. Tidak harus jadi siapa-siapa, yang penting tidak berhenti di tempat,” tutupnya.

Kalimat itu sederhana. Namun dari perjalanan yang ia lalui, jelas bahwa ia telah melangkah jauh.

Dari Desa Sawah, dari kanvas sederhana, hingga ke dunia pemasaran properti—Irwansyah alias Mr. Wan tidak hanya sedang bekerja.

Ia sedang melukis hidupnya sendiri.*(ald)






Tulis Komentar