Menyemai Kata di Tengah Riuh Digital: Dari Kuantan Tengah, Jurnalis Muda Dilahirkan
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) – Di sebuah aula sederhana di jantung Kuantan Tengah, kata-kata sedang dipersiapkan untuk dilahirkan. Bukan kata yang lahir tergesa-gesa, bukan pula yang sekadar mengejar sensasi, melainkan kata yang tumbuh dari nalar, etika, dan tanggung jawab. Dari ruang itulah, Forum Literasi Kuansing (FOLIKU) bersama Pemerintah Kecamatan Kuantan Tengah menyemai harapan: melahirkan jurnalis muda dan kreator konten pelajar yang berpikir jernih di tengah riuh dunia digital. Rabu (25/2/2026)
Pelatihan Jurnalistik dan Konten Kreator tingkat SMP dan SMA sederajat se-Kecamatan Kuantan Tengah yang akan digelar pada Kamis, 26 Februari 2026, bukan sekadar agenda pelatihan. Ia adalah ruang sunyi untuk belajar mendengar, menimbang, lalu menuliskan kebenaran—di saat dunia lebih gemar berteriak daripada memahami.
Hari ini, gawai telah menjadi jendela utama dunia bagi pelajar. Dari layar kecil itu, informasi datang tanpa permisi: cepat, deras, dan sering kali tak sempat diuji. Di sanalah literasi menemukan maknanya yang paling hakiki—bukan hanya membaca huruf, tetapi membaca realitas.
Ketua FOLIKU, Ronaldo Rozalino, memaknai pelatihan ini sebagai ikhtiar moral. Baginya, literasi adalah benteng terakhir agar generasi muda tidak hanyut dalam arus informasi yang menyesatkan.
“Anak-anak kita hidup di zaman ketika kabar bohong bisa lebih cepat viral daripada kebenaran. Maka tugas kita bukan melarang mereka menggunakan media digital, tetapi membekali mereka dengan kesadaran dan keberanian untuk bertanya: apakah ini benar, adil, dan bermanfaat?” tuturnya.
Dari kegelisahan itulah, pelatihan ini dirancang—sebagai upaya membangun kesadaran bahwa menulis bukan sekadar keterampilan teknis, melainkan laku berpikir.
Sinergi dengan pemerintah kecamatan menjadi simbol kehadiran negara dalam skala paling dekat dengan rakyat. Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, melihat pelatihan ini sebagai investasi jangka panjang yang nilainya tak selalu bisa diukur dengan angka.
“Menulis berita dan membuat konten positif bukan hanya soal masa depan profesi, tetapi soal masa depan cara berpikir. Dari kemampuan menyaring informasi, lahir generasi yang tidak mudah diprovokasi dan mampu mencintai daerahnya dengan cara yang bermartabat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pemerintah kecamatan membuka ruang seluas-luasnya bagi kolaborasi yang bertujuan memperkuat karakter dan daya pikir generasi muda.
Baru tercatat sebanyak 40 pelajar dari berbagai SMP/MTs dan SMA/SMK/MA se-Kecamatan Kuantan Tengah yang sudah mendaftarkan diri. Mereka akan datang dengan android, buku catatan, dan harapan yang mungkin belum sepenuhnya terucap. Di balik raut wajah para remaja itu, tersimpan potensi besar: keinginan untuk bercerita, untuk dipahami, dan untuk dimaknai.
Bagi sebagian dari mereka, ini adalah pertemuan pertama dengan dunia jurnalistik—dunia yang mengajarkan bahwa kata-kata memiliki konsekuensi, dan kebenaran menuntut keberanian.
Dalam pelatihan ini, para peserta tidak hanya belajar bagaimana menulis, tetapi juga mengapa menulis harus jujur. Pada sesi jurnalistik, mereka akan dibimbing oleh Desriandi Candra, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia Kabupaten Kuantan Singingi.
Ia akan memperkenalkan dunia jurnalistik sebagai profesi yang berdiri di antara fakta dan nurani—tempat kebenaran diuji sebelum disebarkan.
Sementara itu, pada sesi konten kreator, Ruri Tirta Kumala Dewi akan mengajak pelajar memahami bahwa kreativitas bukan sekadar mengikuti tren, tetapi tentang menghadirkan makna.
Konten, kata Ruri, seharusnya tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menguatkan identitas lokal.
Pelatihan ini dirancang tidak berhenti pada satu hari pertemuan. Ia diharapkan menjadi awal dari perjalanan panjang—di mana pelajar kembali ke sekolah masing-masing dengan cara pandang baru terhadap informasi, media sosial, dan kekuatan kata.
Ronaldo Rozalino menegaskan bahwa cita-cita terbesar FOLIKU bukanlah mencetak wartawan instan, melainkan membangun ekosistem literasi yang hidup.
“Kami ingin anak-anak ini tumbuh dengan kesadaran bahwa setiap tulisan adalah jejak pemikiran. Dari tulisan yang jujur, lahir masyarakat yang lebih waras,” katanya.
Di tengah dunia digital yang bising, pelatihan ini adalah jeda. Di tengah algoritma yang kerap memihak sensasi, ia adalah ruang nalar. Dari Aula Kantor Camat Kuantan Tengah, kata-kata mulai disemai—perlahan, penuh kesadaran, dan dengan harapan besar.
Kelak, mungkin dari pelajar-pelajar inilah akan lahir cerita-cerita tentang Kuantan Singingi: tentang sungai, sekolah, desa, dan manusia-manusia sederhana yang layak didengar suaranya. Dan ketika itu terjadi, dunia digital tak lagi hanya menjadi ruang gaduh, melainkan tempat di mana kebenaran menemukan rumahnya.*(ald)


Tulis Komentar