Di Bawah Langit Ramadhan Pucuk Rantau, Muhammadiyah Menyulam Ukhuwah dan Menanam Harapan

PUCUK RANTAU (KilasRiau.com) – Malam Ramadhan itu turun dengan kelembutan yang hampir tak terdengar. Langit menggantungkan bintang-bintangnya seperti lampu-lampu kecil yang menyaksikan manusia meneguhkan niat baiknya. Di halaman Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Pucuk Rantau, langkah-langkah jamaah masih berbekas setelah shalat Isya, Tarawih, dan Witir usai ditegakkan.

Sabtu malam (7/3/2026) itu, masjid tersebut bukan hanya menjadi rumah ibadah, tetapi juga ruang perjumpaan hati. Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kuantan Singingi (PDM Kuansing) menyambangi Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pucuk Rantau (PCM Pucuk Rantau) dalam agenda Konsolidasi dan Safari Ramadhan 1447 Hijriah.

Namun pertemuan itu terasa lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia seperti sebuah majelis sunyi tempat kata-kata, doa, dan harapan berkumpul dalam satu nafas yang sama.

Ketika gema zikir perlahan mereda, malam terasa semakin khusyuk. Udara membawa aroma Ramadhan yang khas—perpaduan antara kesederhanaan, kebersamaan, dan keheningan yang menenangkan jiwa.

Acara dipandu oleh Ustadz Raja Risel, S.Pd., yang membuka majelis dengan tutur kata yang mengalir tenang. Suaranya seperti menuntun para jamaah memasuki ruang percakapan yang penuh kekeluargaan.

Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pucuk Rantau, Mawardi, S.P., berdiri dengan wajah yang menyiratkan syukur. Dalam sambutannya, ia menyampaikan bahwa kehadiran rombongan PDM bukan sekadar kunjungan biasa.

“Selamat datang Tim Safari Ramadhan PDM Kuansing. Mari kita simpan setiap pesan malam ini dalam hati, lalu kita hidupkan dalam langkah-langkah keseharian,” ujarnya pelan namun penuh harap.

Bagi Mawardi, kehadiran para tamu dari daerah itu ibarat embun yang jatuh di tengah musim yang panjang—memberi kesejukan bagi para penggerak dakwah yang bekerja di tingkat akar rumput.

Ia kemudian memaparkan mimpi-mimpi yang tengah dirawat Muhammadiyah di Pucuk Rantau. Mimpi yang sederhana, tetapi memiliki akar panjang untuk masa depan umat.

Pertama, melanjutkan pembangunan Masjid At-Taqwa agar menjadi pusat peradaban yang bukan hanya menghidupkan shalat, tetapi juga ilmu dan kebersamaan.

Kedua, membangun SD Muhammadiyah 1 Pucuk Rantau, yang direncanakan mulai menerima murid pada tahun ajaran 2026/2027—sebuah taman ilmu tempat generasi baru disemai.

Ketiga, menjaga nyala ruhani melalui pengajian rutin bulanan yang menjadi ruang perjumpaan ilmu dan iman.

Dan keempat, mengelola aset tanah seluas dua hektar sebagai investasi masa depan, tempat lahirnya program-program kemaslahatan bagi masyarakat.

Empat langkah itu, bagi mereka, bukan sekadar program kerja. Ia adalah jalan panjang untuk memastikan Muhammadiyah tetap hadir sebagai cahaya kecil di tengah kehidupan masyarakat.

Mewakili Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kuantan Singingi, Sekretaris PDM, H. Burdianto, S.Kom., MM., menyampaikan apresiasi atas sambutan hangat yang diberikan oleh tuan rumah.

Ia mengatakan bahwa Safari Ramadhan ini merupakan perjalanan yang sedang dilakukan PDM di beberapa kecamatan—sebuah ikhtiar untuk memastikan bahwa denyut gerakan Muhammadiyah tetap hidup hingga ke ranting-ranting paling jauh.

Menurutnya, ada lima tujuan utama dari perjalanan tersebut.

Pertama, merajut ukhuwah antara pengurus daerah dan cabang agar persaudaraan tetap kokoh.

Kedua, memperkuat pemahaman bermuhammadiyah yang moderat dan berkemajuan.

Ketiga, menghidupkan publikasi dakwah agar setiap aktivitas positif Muhammadiyah dikenal oleh masyarakat luas.

Keempat, menguatkan amal usaha seperti sekolah dan masjid agar benar-benar menjadi oase bagi umat.

Dan kelima, menegakkan nilai amar ma’ruf nahi mungkar sebagai ruh dari perjuangan Ramadhan.

Dalam kesempatan itu, ia juga mengundang jamaah untuk menghadiri Pengajian Ahad yang akan digelar di Masjid Nurul Ilmi Ponpes KH Ahmad Dahlan Teluk Kuantan, yang akan diisi oleh Ustadz Dr. Sayuti dari Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Riau.

Menjelang akhir acara, suasana majelis kembali dipenuhi keheningan ketika Ustadz Rindra Pebrian, S.Fil., MH., menyampaikan tausiyah.

Dengan gaya tutur yang tenang namun dalam, ia mengajak jamaah merenungi kemuliaan sepuluh malam terakhir Ramadhan—malam-malam yang diyakini menyimpan rahasia keberkahan.

“Jangan pernah meremehkan debu-debu kebaikan yang kita lakukan. Membangun masjid, mendirikan sekolah, atau sekadar mendukung perjuangan ini—kita tidak pernah tahu amal mana yang kelak menjadi kunci pembuka pintu surga,” tuturnya.

Ia juga mengingatkan bahwa menjadi bagian dari Muhammadiyah berarti menyandarkan diri pada teladan Nabi Muhammad—menghormati yang lebih tua, menyayangi sesama, serta menjaga persaudaraan sebagai fondasi akhlak.

Malam itu akhirnya ditutup dengan hamdalah yang terucap serentak.
Para jamaah pun pulang dalam langkah-langkah yang lebih ringan. Di dada mereka tersimpan cahaya kecil—sebuah semangat baru untuk menuntaskan sisa Ramadhan dengan amal terbaik.

Di bawah langit Pucuk Rantau yang sunyi, dakwah terus berjalan. Tidak selalu dengan gemuruh, tetapi dengan kesabaran—seperti benih yang ditanam diam-diam di dalam tanah, menunggu waktu untuk tumbuh menjadi pohon yang menaungi banyak orang.*(ald)






Tulis Komentar