Di Ujung Pucuk Rantau, Safari Ramadhan Muhammadiyah Menyalakan Cahaya Ukhuwah

PUCUK RANTAU (KilasRiau.com) – Senja perlahan menurunkan tirainya di langit barat pada Sabtu, 7 Maret 2026 (1447 H). Cahaya keemasan yang tersisa seakan menjadi saksi bagi langkah-langkah pengabdian yang menapaki tanah Pucuk Rantau. Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, semangat dakwah kembali dirajut dalam kebersamaan.

Pada malam yang penuh keberkahan itu, Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kuantan Singingi menggelar agenda Konsolidasi dan Safari Ramadhan di Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Pucuk Rantau. Bukan sekadar perjalanan organisasi, melainkan perjalanan hati—mengunjungi saudara, merawat ukhuwah, dan meneguhkan langkah dakwah di penjuru Kuantan Singingi.

Saat rombongan tiba, suasana masjid telah dipenuhi senyum dan salam hangat dari keluarga besar Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pucuk Rantau. Seperti embun yang menenangkan bumi, sapaan itu mencairkan segala jarak.

Tak lama kemudian, azan Maghrib menggema memecah kesunyian senja. Segelas air dan sebutir kurma menjadi saksi betapa sederhana namun agungnya momen berbuka puasa bersama. Di tengah kebersamaan itu, rasa haus dan lapar seakan luluh dalam kehangatan silaturahmi.

Usai berbuka, jamaah merapatkan saf dalam shalat Maghrib berjamaah. Setelahnya, hidangan makan malam tersaji, mengundang semua yang hadir duduk melingkar di lantai masjid—tanpa sekat, tanpa jarak.

Di sana tidak ada perbedaan kedudukan. Yang ada hanyalah satu keluarga besar yang dipersatukan oleh iman dan cita-cita dakwah.

Tawa kecil, obrolan ringan, dan doa-doa lirih berpadu menjadi melodi kebersamaan yang menghangatkan malam.

Ketika malam benar-benar turun dan langit berubah menjadi hamparan kelam bertabur bintang, azan Isya kembali berkumandang dari menara Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Pucuk Rantau.

Jamaah kembali memenuhi rumah Allah itu. Saf-saf yang rapi menjadi saksi kesungguhan mereka menunaikan shalat Isya, dilanjutkan dengan tarawih dan witir—ibadah yang selalu menghadirkan kedamaian dalam Ramadhan.

Malam itu, mimbar masjid memancarkan cahaya ilmu saat Rindra Febrian, S.Fil.I., MH menyampaikan tausiyahnya.

Dengan tutur yang lembut namun penuh makna, ia mengajak jamaah memaknai Ramadhan sebagai ruang pembaruan jiwa. Bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga menata hati, memperbaiki diri, dan menguatkan tekad untuk terus menebar manfaat bagi umat.

Setiap kalimat yang terucap seakan menjelma lentera—menerangi jalan panjang dakwah Muhammadiyah di pelosok negeri.

Safari Ramadhan ini juga dihadiri sejumlah tokoh penggerak Muhammadiyah di Kuantan Singingi. Sebanyak 15 personel dari Tim III turut hadir memperkuat barisan konsolidasi.

Di antara mereka terlihat Masran Ali, S.Ag – Penasehat PDM, Burdianto, S.Kom., MM – PDM Kuansing, Ahdanan Shaleh, S.Ag., M.Pd – Kwarda HW, Risel Oktoberiadi, S.Pd.I – Koordinator Tim III

Turut hadir pula unsur dari Lazismu, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah, serta Pimpinan Daerah Nasyiatul ‘Aisyiyah.

Kehadiran mereka bukan sekadar formalitas organisasi. Mereka adalah para penjaga api—orang-orang yang dengan sunyi namun setia merawat nyala dakwah di tengah masyarakat.

Malam kian larut, tetapi kehangatan di wajah-wajah yang hadir belum juga padam. Di halaman masjid, angin malam berembus pelan, membawa harapan yang melangit bersama doa-doa Ramadhan.

Safari Ramadhan ini bukan sekadar perjalanan dari satu kecamatan ke kecamatan lain. Ia adalah perjalanan ruhani—sebuah upaya meneguhkan bahwa dakwah Islam yang berkemajuan akan terus hidup di hati umat.

Dari Masjid At-Taqwa Muhammadiyah Pucuk Rantau yang sederhana itu, cahaya kecil kembali dinyalakan.

Dan seperti bintang di langit malam, cahaya itu mungkin tampak kecil dari kejauhan—namun cukup untuk menerangi langkah-langkah umat menuju masa depan yang lebih terang.*(ald)






Tulis Komentar