“Siang Bapacu, Malam Mangaji”: Camat Kuantan Tengah Ajak Semua Pihak Bersatu Sukseskan Pacu Jalur Rayon II dan MTQ Riau 2026

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Sungai Kuantan kembali bersiap menjadi saksi sejarah. Riak air yang membelah Tepian Narosa perlahan seperti mulai memanggil anak negeri untuk berkumpul, bersatu, dan menjaga marwah budaya yang diwariskan turun-temurun oleh para leluhur. Di bawah langit Kuansing yang sarat kisah, gema dayung Pacu Jalur akan kembali berpadu dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an dalam sebuah perhelatan akbar yang tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga ruh kebersamaan dan nilai-nilai spiritual masyarakat Melayu. Sabtu (23/5/2026).

Tahun 2026 menjadi momentum istimewa bagi Kabupaten Kuantan Singingi. Pacu Jalur Rayon II akan digelar bersempena dengan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-XLIV Provinsi Riau di Teluk Kuantan pada 27 hingga 29 Juni mendatang. Sebuah perpaduan antara budaya dan syiar Islam yang terangkum indah dalam tema penuh makna: “Siang Bapacu, Malam Mangaji.

Di tengah semangat persiapan yang terus bergulir, Camat Kuantan Tengah, Eka Putra, S.Sos., M.Si mengajak seluruh elemen masyarakat, para tokoh adat, pemuda, pelaku usaha, hingga perusahaan-perusahaan yang beroperasi di wilayah Kuansing untuk bergandengan tangan menyukseskan agenda besar tersebut.

Baginya, Pacu Jalur bukan sekadar perlombaan panjang jalur yang membelah arus sungai. Ia adalah denyut nadi budaya, wajah peradaban Melayu Kuantan, sekaligus simbol persatuan masyarakat yang sejak dahulu hidup dalam semangat gotong royong.

“Pacu Jalur ini milik kita bersama. Ini bukan hanya tentang siapa tercepat di atas air, tetapi tentang bagaimana masyarakat Kuansing menjaga warisan leluhur dengan penuh cinta dan kebersamaan,” ujar Eka Putra dengan penuh semangat. Jumat (22/5/2026) di Teluk Kuantan.

Sementara itu, MTQ bukan sekadar ajang perlombaan tilawah. Ia adalah cahaya yang menerangi hati masyarakat, menghadirkan kesejukan di tengah kehidupan, serta menjadi pengingat bahwa budaya dan agama adalah dua kekuatan yang saling menguatkan dalam kehidupan masyarakat Melayu.

Di Kuantan Singingi, budaya tidak pernah berdiri jauh dari nilai agama. Dayung jalur dan lantunan ayat suci tumbuh di tanah yang sama. Anak-anak belajar berenang di sungai, sementara malam-malam mereka dihiasi suara mengaji dari surau-surau kampung. Karena itulah tema “Siang Bapacu, Malam Mangaji” terasa begitu hidup dan dekat dengan denyut kehidupan masyarakat.

Eka Putra menilai, keberhasilan event sebesar ini tidak mungkin hanya dipikul oleh pemerintah dan panitia semata. Dibutuhkan kepedulian bersama, termasuk dukungan nyata dari perusahaan-perusahaan yang tumbuh dan berkembang di bumi Kuansing.

Menurutnya, keterlibatan dunia usaha dalam mendukung kegiatan budaya dan keagamaan merupakan bentuk tanggung jawab moral sekaligus sosial kepada masyarakat dan daerah tempat mereka mencari kehidupan.

“Kita ingin seluruh pihak ikut merasa memiliki. Ketika budaya dijaga bersama dan syiar Islam didukung bersama, maka yang lahir bukan hanya sukses acara, tetapi juga kuatnya rasa persaudaraan di tengah masyarakat,” katanya.

Perhelatan Pacu Jalur Rayon II diperkirakan akan menghadirkan ribuan masyarakat dan wisatawan dari berbagai daerah. Tepian Narosa akan kembali dipenuhi sorak penonton, kibaran bendera, tabuhan gondang, dan semangat para anak pacu yang berdiri gagah di atas jalur kebanggaan kampung mereka.

Di sisi lain, malam-malam Teluk Kuantan akan diselimuti nuansa religius melalui pelaksanaan MTQ Provinsi Riau. Cahaya lampu di arena utama akan berpadu dengan lantunan ayat-ayat suci yang menggema hingga ke sudut-sudut kota, menghadirkan suasana syahdu yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.

Momentum ini juga diyakini akan menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Pedagang kecil, pelaku UMKM, pengusaha kuliner, hingga sektor pariwisata lokal dipastikan akan merasakan dampak positif dari ramainya kunjungan masyarakat selama pelaksanaan event berlangsung.

Namun lebih dari sekadar dampak ekonomi, kegiatan ini sesungguhnya adalah tentang menjaga identitas. Tentang bagaimana sebuah daerah tetap berdiri tegak dengan budaya dan nilai-nilai yang dimilikinya, di tengah derasnya arus modernisasi yang terus bergerak tanpa henti.

Di tepian Sungai Kuantan, sejarah terus ditulis. Dayung-dayung akan kembali menghentak air sungai dengan irama penuh semangat. Anak-anak pacu akan berteriak menyatukan tenaga. Masyarakat akan bersorak dari tepian. Dan ketika malam tiba, suara mengaji akan mengambil alih suasana, menenangkan hati-hati yang larut dalam cinta kepada budaya dan agama.

“Ini tentang marwah daerah kita. Tentang kebanggaan sebagai masyarakat Kuansing. Mari kita sukseskan bersama, dengan hati yang tulus dan semangat persatuan,” tutup Eka Putra.

Karena di negeri jalur ini, budaya bukan sekadar pertunjukan. Ia adalah ingatan. Ia adalah kebanggaan. Dan ia adalah warisan yang akan terus hidup selama masyarakatnya tetap bersatu menjaga akar sejarahnya.*(ald)






Tulis Komentar