Menjernihkan Hati di Ambang Ramadan: Halal bi Halal Surau Nurul Hidayah Gontiang
KOTO SENTAJO (KilasRiau.com) — Di ambang datangnya bulan suci, ketika waktu seakan mengajak manusia berhenti sejenak untuk bercermin, Surau Nurul Hidayah di Dusun Gontiang menjadi ruang pertemuan hati. Selasa (10/2/2026), masyarakat Desa Koto Sentajo larut dalam suasana Halal bi Halal, sebuah peristiwa batin yang menautkan maaf, doa, dan harapan dalam satu ikatan kebersamaan.

Surau itu tak sekadar berdiri sebagai bangunan ibadah, tetapi menjelma menjadi saksi. Saksi atas tangan-tangan yang saling menggenggam, mata yang saling menunduk, dan dada yang berusaha dilapangkan sebelum Ramadan mengetuk pintu.
Hadir dalam kegiatan tersebut Penjabat Kepala Desa Koto Sentajo, Bahmada, A.Md., yang menegaskan bahwa Halal bi Halal adalah fondasi penting dalam menyambut Ramadan dengan jiwa yang utuh.
“Halal bi Halal ini bukan hanya tradisi, tetapi pengingat bagi kita semua. Sebelum Ramadan membersihkan hari-hari kita, maka hati dan hubungan antarsesama harus lebih dulu kita bersihkan,” ujar Bahmada, A.Md., dengan nada tenang namun sarat makna.
Ia menambahkan, kekuatan desa bukan semata terletak pada pembangunan fisik, tetapi pada kokohnya persaudaraan dan kebersamaan warganya.
“Jika silaturahmi terjaga, jika kita saling memaafkan, insyaallah Ramadan akan kita jalani dengan lebih khusyuk dan penuh keberkahan,” lanjutnya.
Tausiah yang mengiringi acara mengalir lembut, mengajak jamaah menata niat dan menundukkan ego. Ramadan dipahami bukan sekadar ritual tahunan, melainkan madrasah jiwa—tempat manusia belajar jujur pada diri sendiri dan rendah hati di hadapan Tuhan.
Di Surau Nurul Hidayah, kata maaf tidak diucapkan dengan suara keras, tetapi dirasakan dalam keheningan yang menyejukkan. Tak ada yang lebih tinggi, tak ada yang lebih rendah. Semua berdiri sejajar sebagai hamba yang berharap ampunan.
Doa bersama menutup rangkaian kegiatan, melangitkan harapan agar Desa Koto Sentajo senantiasa dinaungi kedamaian, dijauhkan dari perpecahan, dan dikuatkan dalam menjalani ibadah Ramadan.

Dari Dusun Gontiang, pesan itu mengalir sederhana namun dalam: bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan perjalanan menyucikan hati. Dan Halal bi Halal adalah langkah pertama menuju perjalanan itu.*(ald)

Tulis Komentar