Gotong Royong di Rumah Godang Kenegerian Sentajo
Menyapu Jejak Waktu, Merawat Ingatan, Menjaga Marwah Adat
KUANTAN SINGINGI (KilasRiau.com) – Ahad pagi itu, Ahad (8/2/2026), Desa Koto Sentajo tidak sekadar terbangun oleh suara alam dan denyut rutinitas. Ia terjaga oleh kesadaran kolektif akan satu amanah besar: menjaga warisan leluhur. Di bawah langit yang bersahabat, masyarakat berkumpul di satu titik yang menyimpan sejarah panjang kenegerian—Rumah Godang Cagar Budaya Kenegerian Sentajo.

Langkah-langkah kaki menyatu, tangan-tangan bekerja dalam irama yang sama. Daun-daun kering disapu, semak dirapikan, halaman dibersihkan. Namun yang sesungguhnya dirawat bukan hanya ruang dan halaman, melainkan ingatan, nilai, dan jati diri masyarakat Kenegerian Sentajo.
Rumah Godang bukan bangunan bisu. Ia adalah kitab terbuka yang ditulis oleh waktu. Di sanalah adat bermusyawarah, petuah ninik mamak disemai, dan keputusan adat dilahirkan. Ia menjadi pusat denyut kehidupan sosial dan budaya—tempat marwah dijaga dan harga diri adat dipertahankan.
Kegiatan gotong royong ini melibatkan Penjabat Kepala Desa Koto Sentajo, H. Bahmada, A.Md, bersama perangkat desa, tokoh adat, ninik mamak, pemuda, serta masyarakat. Tidak ada sekat jabatan, tidak ada jarak usia. Semua berdiri sejajar sebagai anak negeri yang memikul tanggung jawab yang sama terhadap warisan leluhur.

Penjabat Kepala Desa Koto Sentajo, H. Bahmada, A.Md, menyampaikan bahwa gotong royong tersebut merupakan wujud nyata kepedulian bersama terhadap cagar budaya yang menjadi identitas dan kebanggaan Kenegerian Sentajo.
“Rumah Godang adalah nadi adat dan pusat nilai luhur. Di sinilah musyawarah hidup, di sinilah adat bernaung. Menjaganya bukan sekadar tugas pemerintah desa, melainkan amanah seluruh masyarakat,” ungkapnya.
Ia menegaskan, merawat Rumah Godang berarti menjaga kesinambungan sejarah. Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan Rumah Godang harus tetap menjadi jangkar nilai agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya sendiri.

Para ninik mamak dan tokoh adat yang hadir menyambut baik kegiatan tersebut. Menurut mereka, gotong royong adalah roh adat yang sesungguhnya. Selama masyarakat masih mau berkumpul, bekerja bersama, dan memelihara simbol adat, selama itu pula adat akan tetap bernapas dan hidup di tengah zaman.
Keterlibatan pemuda menjadi pemandangan yang menyejukkan. Mereka tidak hanya datang sebagai tenaga, tetapi sebagai pewaris nilai. Dari sapuan halaman dan peluh yang jatuh, mereka belajar bahwa adat tidak cukup diceritakan—ia harus dialami dan dijaga.
Suasana gotong royong berlangsung hangat dan bersahaja. Tawa ringan sesekali pecah di sela kerja, mempererat ikatan sosial yang telah diwariskan turun-temurun. Kebersamaan itu menjadi bukti bahwa nilai kolektif masih berakar kuat di Desa Koto Sentajo.

Bagi masyarakat setempat, Rumah Godang bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah penunjuk arah masa depan—tempat anak cucu kelak belajar tentang asal-usul, tentang nilai, dan tentang arti kebersamaan.
Gotong royong Ahad itu pun menjelma menjadi ikrar tak tertulis: bahwa Rumah Godang Cagar Budaya Kenegerian Sentajo akan terus dirawat, dijaga, dan dihormati. Agar sejarah tidak hanya menjadi cerita, tetapi tetap hidup—menjadi napas masyarakat, dari generasi ke generasi.
*(ald)

Tulis Komentar