Di Tepian Narosa, Astaqa Akan Tumbuh dari Jejak Pasar yang Pergi
TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Di tepian Sungai Kuantan, di sebuah ruang yang dahulu hiruk oleh transaksi dan tawar-menawar, kini suara alat berat menggantikan gemuruh pasar. Eks Pasar Bawah Teluk Kuantan perlahan beralih rupa. Tanah ditimbun, sisa-sisa bangunan kios diratakan, dan sejarah pun bersiap menulis babak baru.
Pemerintah Kabupaten Kuantan Singingi melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) hingga Jumat (23/1/2026) terus mematangkan kawasan eks Pasar Bawah. Penataan ini bukan sekadar pekerjaan fisik, melainkan bagian dari persiapan besar Kuansing menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat Provinsi Riau tahun 2026.
Di lahan yang menghadap Sungai Kuantan itu, sebuah bangunan simbolik akan berdiri: Astaqa utama MTQ Riau. Ia direncanakan menjadi pusat lantunan ayat-ayat suci, tempat gema tilawah berpadu dengan denyut budaya pacu jalur yang telah ratusan tahun hidup di kota jalur ini.
Kepala Dinas PUPR Kuansing, Ade Fahrer Arif, mengungkapkan bahwa desain awal Astaqa telah disiapkan. Meski masih bersifat gambar awal dan memungkinkan perubahan, arah pembangunan sudah jelas: eks Pasar Bawah akan dimanfaatkan secara serius dan strategis.
“Gambar awalnya sudah ada, tetapi masih bisa berubah. Namun yang jelas, Pemkab Kuansing serius memanfaatkan kawasan eks Pasar Bawah ini,” ujar Ade Fahrer.
Dalam rancangan tersebut, Astaqa direncanakan berdiri dengan panjang 30 meter dan lebar 20 meter, terdiri dari dua lantai. Bangunannya didominasi warna putih dengan atap abu-abu, menghadirkan kesan bersih dan sakral. Sebuah kubah besar akan menjadi penanda utama, ditemani tiga kubah kecil yang melengkapi siluet bangunan.
Tak sekadar berdiri sebagai panggung MTQ, Astaqa ini dirancang menghadap langsung ke eks areal pembukaan pacu jalur. Posisi itu seolah menegaskan satu pesan: antara agama dan budaya, antara lantunan ayat dan deru jalur, Kuansing menempatkan keduanya dalam satu tarikan napas sejarah.
Bangunan Astaqa akan menempati sebagian kawasan eks Pasar Bawah yang berada di Tepian Narosa Teluk Kuantan, kawasan yang selama ini dikenal sebagai wajah waterfront city Kuansing. Tepian ini bukan hanya ruang publik, melainkan lanskap identitas—tempat sungai, tradisi, dan kehidupan masyarakat saling bertaut.
Lebih jauh, penataan tidak berhenti di Astaqa. Pemerintah Kabupaten Kuansing tengah membahas pengembangan kawasan Tepian Narosa hingga Pulau Bungin, termasuk tebing di wilayah Seberang Taluk, sebagai kawasan pariwisata pacu jalur. Rencana tersebut kini dibicarakan bersama Pemerintah Provinsi Riau dan kementerian terkait.
Jika rencana itu terwujud, maka Tepian Narosa akan menjadi ruang yang memeluk banyak makna: tempat wisata, pusat budaya, arena religi, dan etalase wajah Kuansing di mata Riau dan Indonesia.
Di titik inilah, eks Pasar Bawah menemukan takdir barunya. Dari ruang ekonomi rakyat yang telah pergi, akan tumbuh ruang spiritual dan budaya yang baru. Dari reruntuhan kios, akan berdiri bangunan yang mengumandangkan ayat-ayat suci. Dari tepian sungai, Kuansing kembali menegaskan jati dirinya: berakar pada tradisi, berpijak pada iman, dan menatap masa depan.*(ald)


Tulis Komentar