Eka Putra, dari Bangku SMK hingga Pelayan Publik Kuantan Tengah

foto: (doc. Kilasriau.com)

KilasRiau.com - Tak semua pemimpin lahir dari sorak sorai. Sebagian tumbuh diam-diam, ditempa oleh disiplin, diuji oleh fitnah, dan dibesarkan oleh doa orang tua. Eka Putra, S.Sos., M.Si adalah salah satunya.

"Saya mengenalnya bukan sebagai camat, bukan pula sebagai pejabat publik. Saya mengenalnya sebagai Eka, sahabat sebangku sejak 1999, saat kami sama-sama menimba ilmu di SMKN 1 Teluk Kuantan, Kabupaten Kuantan Singingi. Dua puluh enam tahun lalu, kami duduk di ruang kelas yang sama, belajar tentang kayu, bangunan, dan—tanpa kami sadari—tentang arti tanggung jawab," beber Ronaldo Rozalino. Senin (22/12/2025).

Dikatakan Ronaldo, sejak sekolah, Eka telah menunjukkan watak yang kelak menjadi fondasi kepemimpinannya: disiplin, tekun, dan konsisten. Ia jarang absen, selalu hadir, seolah menganggap tanggung jawab sebagai bagian dari kehormatan. Di kelas Bangunan Teknik Perkayuan, kami kerap bekerja bersama dalam tugas-tugas praktik. Saya aktif di OSIS, sementara Eka menyalurkan energinya melalui karate. Kami berbeda jalur, tetapi bertemu pada nilai yang sama: kerja keras dan sportivitas.

Prestasi akademik bukan sesuatu yang kebetulan baginya. Ia memperolehnya melalui ketekunan. Bahkan di tengah persaingan sehat di kelas, persahabatan tetap terjaga. Kami saling bertukar pikiran, saling menguatkan, tanpa iri dan tanpa jarak.

Di luar sekolah, Eka adalah anak muda yang santun. Hubungannya dengan keluarga saya begitu akrab. Ia sering berkunjung ke rumah, duduk bersama, makan masakan sederhana buatan Ibu. Dalam kehangatan itu, saya melihat satu hal yang kini semakin jarang: kesopanan yang lahir dari kesadaran, bukan pencitraan.

Usai menamatkan pendidikan, jalan pengabdian Eka dimulai dari bawah. Ia diterima sebagai tenaga honor di Dinas Pekerjaan Umum, tempat ia pernah magang. Dari sana, ia belajar bahwa pelayanan publik bukan sekadar pekerjaan, melainkan ketekunan harian yang sering luput dari sorotan. Disiplin dan kinerjanya mengantarkannya menjadi Pegawai Negeri Sipil, sementara saya masih berjuang di bangku kuliah.

Amanah demi amanah datang. Salah satu yang paling saya ingat adalah saat Eka dipercaya menjadi Kepala PAM Teluk Kuantan. Kami tinggal di wilayah yang sama. Ketika air mati, saya menelponnya—seperti warga kebanyakan.

“Ndaan, abek air PAM mati?” (Sobat, kenapa air PAM tidak mengalir. red)

Jawabannya bukan pembelaan atau janji kosong. Ia mengirim foto dirinya di lapangan, memperbaiki pipa yang rusak, berlumpur bersama para pekerja. Di sanalah saya memahami satu hal: kepemimpinan sejati tak selalu rapi, sering kali justru kotor oleh kerja nyata.

Waktu membawa Eka ke ruang pengabdian yang lain. Ia dipercaya menjadi Lurah Sungai Jering. Di sana, ia dikenal aktif bersama masyarakat, termasuk dalam upaya menjaga ketertiban sosial. Ia tidak bekerja sendiri, melainkan membangun kolaborasi—sebuah pendekatan yang menuntut kesabaran dan keberanian.

Seperti banyak pelayan publik lainnya, Eka pun tak luput dari badai. Berita miring sempat beredar, viral, dan cenderung menghakimi. Namun waktu membuktikan: isu itu tak berdasar. Saya memilih bertanya langsung kepadanya. Ia menjawab tenang—ada oknum yang mencoba mengambil keuntungan dari persepsi negatif.

Bukankah para nabi pun difitnah? Maka fitnah adalah harga yang sering harus dibayar oleh mereka yang memilih tetap berjalan lurus. Eka memilih bertahan, bekerja, dan menyerahkan penilaian pada waktu.

Kini, Eka Putra kembali dipercaya sebagai Camat Kuantan Tengah. Di mata saya, ia tetap Eka yang sama: energik, produktif, mau mendengar, disiplin, ramah, dan rendah hati. Ia kerap mengatakan satu kalimat yang melekat dalam ingatan saya: “Pemimpin itu menderita.”

Kalimat itu bukan keluhan, melainkan kesadaran. Bahwa memimpin berarti menanggung beban orang lain, menahan diri, dan sering kali mengalah demi kepentingan yang lebih luas.

Sebagai seorang guru, saya menjadikan perjalanan hidupnya sebagai cerita bagi siswa-siswa saya. Bahwa kepemimpinan tidak lahir dari kemewahan, melainkan dari konsistensi, etika, dan restu orang tua. Eka tak pernah melangkah tanpa doa mereka—juga doa sahabat dan keluarga.

Tak ada manusia yang sempurna. Namun kekurangan akan tertutupi oleh jejak kebaikan yang ditanam terus-menerus.

Dan bagi saya, Eka Putra bukan hanya seorang camat. Ia adalah potret bagaimana ketekunan kecil yang dijalani lama dapat tumbuh menjadi pengabdian besar bagi masyarakat.*(R²)






Tulis Komentar