Dari Penyadap Karet Menjadi Pemimpin Bijak, Rendah Hati, dan Humanis di Kuantan Tengah
KILASRIAU.COM - Dari desa kecil yang terletak di seberang Sungai Kuantan, tepatnya Desa Pulau Kedundung, lahirlah seorang anak pada 23 Mei 1983 yang kelak dikenal sebagai sosok pemimpin yang merakyat: Eka Putra. Namun sebelum namanya tercatat sebagai Camat Kuantan Tengah, ia menempuh perjalanan panjang yang penuh peluh, perjuangan, dan keteguhan hati.
Sejak usia sekolah dasar, Eka sudah ditempa oleh kehidupan yang keras. Sejak kelas 1 SD hingga kelas 3, ia ikut orang tuanya menyadap karet setiap pagi sebelum berangkat sekolah. Di tengah kabut pagi dan dinginnya udara, tangan kecilnya menggores batang karet, menampung getah demi membantu biaya sekolah.
Ia pergi ke sekolah dengan satu buku tulis untuk semua mata pelajaran dan satu sepatu yang ia rawat bertahun-tahun. Jarak yang jauh ia tempuh dengan berjalan kaki tanpa pernah mengeluh. Baginya, pendidikan adalah harapan yang harus dijaga dengan sekuat tenaga.
Di tengah keterbatasan itu, Eka kecil menyimpan mimpi besar: ia ingin menjadi seorang “penguasa”.
Namun takdir membawanya pada jalan yang jauh lebih indah—bukan sekadar berkuasa, tetapi menjadi pemimpin yang membawa manfaat bagi banyak orang.
Ketika beranjak dewasa, Eka merantau. Di negeri perantauan itulah ia mempelajari kerasnya kehidupan dan luasnya dunia luar. Ia bekerja, belajar, memimpin kegiatan sosial, dan membangun tanggung jawab sedikit demi sedikit.
Karakter kepemimpinan Eka tumbuh bukan dari kemewahan, tetapi dari proses panjang,: dari kesusahan, dari peluh yang mengering di ladang karet, dari jalan tanah berlumpur menuju sekolah, dan dari berbagai ujian hidup yang mengajarinya arti empati.
Setelah menikah, Eka Putra memperoleh gelar kehormatan Paduko (Paduka). Gelar ini bukan sekadar julukan, tetapi bentuk penghargaan masyarakat terhadap dirinya sebagai pribadi yang santun, berwibawa, dan mampu membawa diri secara terhormat dalam adat maupun pergaulan sosial.
Titik balik terbesar dalam hidupnya tiba ketika masyarakat mempercayakan amanah besar: ia ditunjuk sebagai Camat Kuantan Tengah. Dan di sinilah nilai-nilai hidup yang ia pelajari sejak kecil menemukan tempat terbaiknya.
Sebagai camat, Eka Putra dikenal sebagai pemimpin yang bijak dalam Mengambil Keputusan. Ia tidak terburu-buru, selalu mendengar masukan masyarakat, memahami persoalan dari akarnya, dan mengambil keputusan yang mempertimbangkan banyak sisi. Kebijaksanaannya lahir dari pengalaman hidup yang penuh dinamika.
Meski kini menjadi pemimpin, Eka Putra tetap membawa kerendahan hati. Ia tak pernah merasa lebih dari rakyatnya, karena ia pernah berada di posisi mereka. Ia tidak segan turun langsung ke lapangan, menyapa warga, berbincang santai, dan mendengar keluhan tanpa jarak.
Kepekaannya sebagai pemimpin dibentuk oleh pengalaman masa kecil. Ia tahu apa itu kesulitan. Ia tahu bagaimana perjuangan rakyat kecil. Itu sebabnya setiap langkahnya selalu berpihak pada kepentingan masyarakat. Ia memimpin dengan hati—dan itulah yang membuatnya dicintai.
Perjalanan Eka Putra adalah bukti bahwa pemimpin sejati tidak lahir dari kemewahan, tetapi dari tempaan hidup. Dari seorang bocah penyadap karet yang memiliki satu sepatu dan satu buku, Eka kini menjadi pemimpin yang membawa harapan dan teladan bagi masyarakat Kuantan Tengah.
Ia bukan hanya memimpin dengan jabatan, tetapi dengan ketulusan, kebijaksanaan, dan hati yang merangkul semua golongan.
Eka Putra membuktikan bahwa mimpi sebesar apa pun dapat diraih ketika kita tidak menyerah, tidak lupa bersyukur, dan tetap rendah hati.
Dari Pulau Kedundung yang sederhana, lahirlah pemimpin bijak yang hari ini menerangi Kuantan Tengah dengan kehadiran dan pengabdiannya.*(ald)

Tulis Komentar