Setiap Dua Hari, Satu Aktivis HAM di Kolombia Dibunuh
KILASRIAU.com - Ombudsman menyatakan tingkat kekerasan terhadap aktivis hak asasi manusia (HAM) di Kolombia cukup tinggi. Berdasarkan temuan mereka, pada sepanjang 2018 kemarin setiap dua hari, satu aktivis HAM atau pemimpin gerakan sosial di negara tersebut tewas dibunuh.
Angka pembunuhan aktivis HAM tersebut naik 36,5 persen dibandingkan dengan 2017. "Pada 2018, ada 172 pembunuhan pemimpin gerakan sosial dan aktivis HAM. Ini mengkhawatirkan," kata Defensorio del Pueblo dari Pertahanan Rakyat Kolombia seperti dikutip dari AFP, Jumat (11/1).
Kolombia memang sudah setengah abad mengalami konflik bersenjata. Konflik melibatkan gerilyawan Marxis, pengedar narkoba, paramiliter dan angkatan bersenjata.
- AI Hancurkan Monopoli Pengetahuan Kampus, SEVIMA & Prof Rhenald Kasali Berikan Tips Perubahan bagi Kampus
- Bersama Wakil Presiden Republik Indonesia dan Para Pakar, SEVIMA Luncurkan Solusi Administrasi Kampus Berbasis AI
- Wakili Aceh, Rijalul Maula Lolos ke Grand Finalis Duta Siswa Indonesia 2026
- Capaian UHC 2025, Pemerintah Pusat Anugerahkan UHC Awards Madya kepada Kabupaten Inhil
- Polda Riau Pecat 12 Polisi 'Nakal', Kapolda: Tak Ada Toleransi untuk Narkoba
Komisioner Ombudsman Carlos Alfonsi Negret menyatakan kondisi Kolombia akibat konflik memang cukup memprihatinkan. Selain pada 2017 dan 2018, pembunuhan aktivis juga terjadi pada 2016.
Pada tahun tersebut tercatat, 431 orang aktivis yang mayoritas berasal dari komunitas petani pribumi berkulit hitam. Pembunuhan-pembunuhan tersebut menurut perkiraannya masih akan terus berlanjut pada 2019 ini.
Presiden pemerintah sayap kanan Kolombia Ivan Duque sementara itu mengatakan agar pembunuhan tidak terus berlanjut, pihaknya akan mengambil langkah tegas.


Tulis Komentar