Jelang 2029, Warga Kuansing Diingatkan: Jangan Terjebak Pencitraan, Bedah Track Record Calon Bupati!

foto: Indra Razendra, Masyarakat Kuansing/ist. (doc. kilasriau.com)

TELUK KUANTAN (KilasRiau.com) — Pesta demokrasi Pemilihan Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Kuantan Singingi (Kuansing), Riau, 2029 mendatang memang masih berada di depan mata. Namun, perbincangan mengenai siapa yang layak menerima mandat masyarakat mulai menemukan ruangnya.

Di tengah dinamika politik yang perlahan akan menghangat, masyarakat justru diingatkan untuk tidak tergesa-gesa terjebak dalam politik pencitraan, popularitas, baliho, slogan, ataupun janji-janji yang terdengar manis menjelang hari pemilihan.

Indra Razendra, masyarakat Kuansing, mengajak masyarakat mulai membangun tradisi memilih pemimpin dengan cara yang lebih kritis: membaca rekam jejak, melihat pengalaman, menguji kapasitas, serta menilai sejauh mana seorang calon benar-benar memiliki kepedulian dan keberpihakan terhadap masyarakat.

Pesannya sederhana tetapi tajam.

Jangan memilih calon pemimpin yang baru belajar memimpin.

Menurut Indra, jabatan bupati bukan ruang untuk sekadar belajar memahami bagaimana pemerintahan bekerja. Kursi kepala daerah membawa tanggung jawab besar karena keputusan seorang bupati akan bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat.

Mulai dari pengelolaan APBD, pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, pelayanan publik, ekonomi masyarakat, investasi, lingkungan hidup hingga tata kelola birokrasi.

Karena itu, masyarakat harus memiliki keberanian untuk bertanya sebelum memberikan mandat.

Apa yang sudah pernah dilakukan calon tersebut?

Apa pengalaman kepemimpinannya?

Bagaimana rekam jejaknya ketika memegang tanggung jawab?

Bagaimana sikapnya terhadap kritik?

Apakah ia benar-benar dekat dengan masyarakat atau baru mendekat ketika membutuhkan suara?

“Jangan memilih calon pemimpin yang baru belajar memimpin. Kita harus melihat pengalaman dan track record-nya,” kata Indra saat bincang ringan di Teluk Kuantan, Sabtu (26/9/2026).

 

Bukan Sekadar Pandai Berbicara

Indra menegaskan, masyarakat membutuhkan pemimpin yang bukan hanya pandai berbicara, tetapi juga mampu mendengar.

Sebab, menurutnya, persoalan masyarakat tidak selesai hanya dengan pidato, slogan dan janji politik.

Pemimpin harus mau turun ke lapangan, melihat persoalan secara langsung dan mendengarkan suara masyarakat dari berbagai lapisan.

Pemimpin harus mau mendengar keluhan. Mau menerima kritik. Mau mendengar aspirasi. Dan yang paling penting, memiliki keberanian menerjemahkan aspirasi tersebut menjadi kebijakan.

“Pemimpin itu harus benar-benar peduli dan memiliki keberpihakan kepada masyarakat. Yang mau mendengar keluhan dan aspirasi masyarakat,” tegasnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena masyarakat kerap berhadapan dengan persoalan nyata yang tidak selalu terlihat dari ruang-ruang elite politik.

Ada persoalan infrastruktur, pendidikan, ekonomi, lapangan pekerjaan, pelayanan administrasi, lingkungan, pertanian, perkebunan, hingga berbagai persoalan sosial lainnya.

Masyarakat membutuhkan pemimpin yang tidak hanya hadir ketika kamera menyala.

Masyarakat membutuhkan pemimpin yang hadir ketika rakyat sedang menghadapi masalah.

 

Jangan Baru Muncul Ketika Butuh Suara

Indra juga mengingatkan agar masyarakat dapat membedakan antara popularitas politik dan kedekatan yang benar-benar dibangun melalui kerja.

Sebab, dalam setiap kontestasi politik, hubungan dengan masyarakat dapat berubah menjadi sangat intens ketika masa pemilihan mendekat.

Pertemuan digelar.

Spanduk bermunculan.

Baliho memenuhi ruang publik.

Tokoh-tokoh mulai menyampaikan visi.

Calon mulai turun ke berbagai daerah.

Namun, menurut Indra, masyarakat jangan berhenti pada apa yang terlihat di permukaan.

Pertanyaan yang lebih penting justru:

Di mana calon tersebut ketika masyarakat tidak sedang memberikan suara?

Apa yang pernah dilakukannya sebelum membutuhkan dukungan politik?

Bagaimana ia bersikap ketika menerima kritik?

Apakah pintunya tetap terbuka bagi masyarakat setelah memperoleh jabatan?

“Jangan hanya datang ketika membutuhkan dukungan. Setelah mendapatkan amanah, justru masyarakat sulit menemui pemimpinnya,” ujarnya.

Karena itu, rekam jejak menjadi penting.

Rekam jejak tidak lahir dalam satu malam.

Ia terbentuk dari perjalanan panjang seseorang dalam menjalankan tanggung jawab, mengambil keputusan, berinteraksi dengan masyarakat dan menghadapi berbagai persoalan.

 

Junaidi: Jangan Serahkan Mandat kepada Figur Hanya karena Popularitas

Senada dengan Indra Razendra, pengamat politik sekaligus Ketua LSM Permata Kuansing, Junaidi Affandi, mengingatkan masyarakat agar menjadi pemilih yang kritis dan rasional.

Menurut Junaidi, masyarakat tidak boleh hanya mengenal seorang calon berdasarkan apa yang disampaikan tim politiknya.

Masyarakat harus mencari informasi yang lebih lengkap.

Siapa calon tersebut sebelum menjadi calon?

Apa yang pernah dikerjakannya?

Apa tanggung jawab yang pernah diembannya?

Bagaimana hasil kerjanya?

Bagaimana sikapnya terhadap kepentingan masyarakat?

Dan yang tak kalah penting:

Bagaimana orang-orang yang berada di sekelilingnya?

“Track record itu penting. Masyarakat harus melihat apa yang pernah dilakukan seorang calon, bukan hanya apa yang dijanjikannya,” ujar Junaidi.

Menurutnya, seorang calon kepala daerah harus diuji melalui perjalanan hidup dan pengalaman kepemimpinannya.

Jika pernah menjadi pejabat publik, masyarakat dapat melihat bagaimana ia menjalankan tugas.

Jika pernah memimpin organisasi, masyarakat dapat menilai bagaimana ia mengelola organisasi tersebut.

Jika pernah menjadi bagian dari pemerintahan, masyarakat dapat mencermati kebijakan dan keputusan yang pernah diambil.

Jika pernah terlibat dalam berbagai aktivitas sosial, masyarakat juga dapat melihat apakah kepeduliannya terhadap rakyat memang konsisten atau hanya muncul menjelang pemilihan.

 

Baliho Besar Tidak Sama dengan Kapasitas Besar

Junaidi mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan kemasan politik sebagai ukuran utama.

Sebab, baliho besar tidak otomatis berarti kapasitas besar.

Popularitas tidak otomatis berarti kemampuan mengelola pemerintahan.

Kemampuan berpidato tidak otomatis berarti kemampuan membuat kebijakan.

Banyaknya massa yang hadir dalam sebuah acara juga tidak otomatis menggambarkan kualitas kepemimpinan.

Begitu pula banyaknya janji tidak otomatis menjamin program dapat diwujudkan.

Karena itu, masyarakat harus berani menguji setiap janji politik.

Apa programnya?

Bagaimana cara melaksanakannya?

Berapa kebutuhan anggarannya?

Dari mana sumber pembiayaannya?

Apa target yang ingin dicapai?

Bagaimana masyarakat mengawasi pelaksanaannya?

Pertanyaan seperti inilah yang menurut Junaidi seharusnya semakin banyak muncul dalam ruang publik menjelang Pemilukada 2029.

 

Lima Tahun Jangan Dipertaruhkan karena Keputusan Sesaat

Ada satu hal yang menurut kedua pihak perlu dipahami masyarakat.

Memberikan suara hanya membutuhkan waktu beberapa menit.

Tetapi konsekuensi dari pilihan tersebut dapat dirasakan selama satu periode pemerintahan.

Karena itu, masyarakat perlu berhati-hati agar tidak mempertaruhkan masa depan daerah hanya karena pertimbangan sesaat.

Jangan menukar mandat politik dengan sesuatu yang sifatnya sementara.

Pilihan terhadap kepala daerah menyangkut bagaimana daerah dikelola dalam lima tahun ke depan.

Menyangkut bagaimana anggaran publik digunakan.

Menyangkut bagaimana pembangunan ditentukan.

Menyangkut bagaimana birokrasi bekerja.

Menyangkut bagaimana keluhan masyarakat ditanggapi.

Dan pada akhirnya menyangkut kualitas kehidupan masyarakat itu sendiri.

 

Pemilih Juga Harus Menguji Orang-Orang di Belakang Calon

Satu aspek yang tidak kalah penting adalah lingkungan politik seorang calon.

Kepala daerah tidak bekerja sendirian.

Ada wakil kepala daerah, birokrasi, partai politik, tim politik, relawan, penasihat serta berbagai kelompok yang dapat memiliki kepentingan terhadap pemerintahan.

Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya membaca sosok yang berada di depan panggung.

Lihat pula siapa yang berada di belakangnya.

Siapa yang menjadi pendukung utama?

Apa kepentingannya?

Bagaimana hubungan calon dengan kelompok-kelompok tersebut?

Apakah calon mampu mempertahankan independensi kebijakan ketika berhadapan dengan kepentingan politik dan ekonomi?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut penting agar masyarakat tidak hanya memilih figur, tetapi memahami konteks kepemimpinan yang akan dibangun setelah pemilihan.

 

Jangan Tunggu Lima Tahun untuk Menyesal

Indra Razendra dan Junaidi Affandi pada akhirnya mendorong masyarakat Kuansing untuk mulai mengenali calon pemimpin jauh sebelum hari pencoblosan.

Tidak perlu menunggu masa kampanye.

Tidak perlu menunggu baliho memenuhi jalan.

Tidak perlu menunggu calon datang membawa janji.

Rekam jejak dapat dibaca sekarang.

Masyarakat dapat melihat perjalanan calon, pengalaman kepemimpinannya, kebijakan yang pernah dibuat, keberhasilannya, kegagalannya, sikapnya terhadap masyarakat dan bagaimana ia menghadapi kritik.

Sebab seorang pemimpin yang benar-benar siap memimpin seharusnya memiliki sesuatu yang lebih kuat daripada sekadar slogan.

Ia memiliki rekam jejak.

Dan rekam jejak tidak dapat dibangun dalam hitungan bulan.

 

Kuansing Membutuhkan Pemilih yang Tidak Mudah Terpesona

Pemilukada bukan sekadar pertandingan popularitas.

Ia merupakan mekanisme untuk memberikan mandat kepada seseorang agar mengelola pemerintahan daerah.

Karena itu, kualitas demokrasi juga ditentukan oleh kualitas pemilih.

Masyarakat yang kritis akan bertanya.

Masyarakat yang rasional akan memeriksa.

Masyarakat yang sadar akan membandingkan.

Dan masyarakat yang memahami arti mandat tidak akan mudah menyerahkan suaranya hanya karena pencitraan.

Pesan Indra Razendra dan Junaidi Affandi pada akhirnya bermuara pada satu hal:

Kenali calon sebelum memilih.

Jangan memilih hanya karena nama.

Jangan memilih hanya karena baliho.

Jangan memilih hanya karena popularitas.

Jangan memilih hanya karena janji.

Dan jangan pula memilih karena sesuatu yang sifatnya sesaat.

Lihat pengalaman. Baca rekam jejak. Uji gagasan. Periksa keberpihakan. Dengarkan cara calon berbicara kepada masyarakat. Dan lihat bagaimana ia bersikap ketika berhadapan dengan kritik.

Sebab rakyat tidak hanya membutuhkan pemimpin yang mampu memenangi pemilihan.

Rakyat membutuhkan pemimpin yang setelah menang mampu menjalankan amanah.

Pada akhirnya, sebelum seorang calon meminta suara masyarakat Kuansing, ada satu pertanyaan yang layak diajukan:

“Apa yang sudah Anda lakukan untuk masyarakat sebelum Anda meminta masyarakat memilih Anda?”

Pertanyaan itu sederhana.

Tetapi jawabannya bisa menjadi salah satu cara masyarakat membaca apakah seorang calon memang telah siap memimpin atau sekadar sedang belajar mencari kekuasaan.*(ald)






Tulis Komentar